
setelah sampai di LA alvin langsung
disambut baik oleh papa dan ibu
tirinya. alvin memandangi isi sekeliling
di rumah itu begitu mewah dan elegan.
di rumah pak gian terdapat beberapa
peralatan olah raga yang terbilang
cukup komplit. dan ada lapangan golf
beserta kolam renang yang begitu luas.
"ternyata benar, uang memang tidak
menjamin kebahagiaan seseorang."
batin alvin.
"alviandra kamu mau kemana?"
tanya pak gian.
"aku lelah, aku ingin beristirahat."
jawab alvin.
"itu kamar papa, kamar kamu
di sebelah sana." ucap pak gian
sambil menunjuk.
"oh, ya, maaf aku lupa."
jawab alvin dengan polosnya.
mendengar ucapan alvin membuat
pak gian sedikit tercengang.
pak gian memandangi kepergian
alvin.
alvin langsung membereskan barang
barang nya, dia pun memajang Poto
nya bersama erlita di dinding.
"lita, sedang apa kamu sekarang?"
batin alvin yang tersenyum
menyeringai. dia pun kembali
meletakkan potonya bersama
bu indri dan alviandra.
tok tok tok...
"masuk.." ucap alvin.
"alviandra mami senang kamu
kembali lagi, tapi kalau boleh jujur
mami lebih senang lagi kalau tidak
ada kamu di sini." ucap bu sonya.
deg jantung alvin seakan berhenti
berdetak. bu sonya yang tadi bersikap
begitu manis di depan pak gian
kenapa berubah seketika bagaikan
serigala yang berbulu domba.
"kenapa anda bicara seperti itu?"
tanya alvin dengan tatapan yang
tidak bisa diartikan.
"kenapa? apa kamu terkejut? hahaha..
akting mu itu bagus sekali! oya mami
peringatkan ya? jangan pernah sekali
kali kamu mencoba untuk pergi dari
rumah ini lagi, karna sekali kamu
keluar, mami tidak akan pernah
mengijinkan mu untuk menginjakan
kaki di rumah ini lagi." ucap bu sonya
bernada ancaman, dia pun pergi
meninggalkan alvin yang terdiam
kebingungan.
"ada apa dengan orang itu? kenapa
sikap nya tiba tiba berubah seperti
seorang penyihir?" batin alvin.
alvin pun kembali membereskan
semua barang barangnya.
keesokan harinya.
alvin, pak gian dan bu sonya sedang
sarapan di meja makan. bu sonya
tampak mengamati wajah tampan
alvin dengan seksama.
"anak ini makin lama makin terlihat
menawan." batin bu sonya.
"papa sudah mendaftarkan kamu
__ADS_1
di universitas terbaik, besok kamu
sudah bisa mulai kuliah." ucap pak gian.
"makasih." ucap singkat alvin.
"sikap mu terlihat agak sedikit tenang,
seperti nya selama disana mama mu mendidikmu dengan sangat baik."
ucap pak gian.
"apa maksud papi? jadi maksud papi
mami tidak mendidik alviandra dengan
baik?" ucap bu sonya yang meninggikan
suaranya.
"tidak! maksud papi bukan seperti itu."
ucap pak gian menenangkan.
"sudah lah, selera makan mami hilang,
mami mau kembali kekamar saja."
ucap bu sonya yang terlihat marah.
"ya sudah papa pergi kekantor dulu
ya." ucap pak gian kepada alvin.
alvin hanya mengangguk.
setelah selesai sarapan alvin
menghubungi alviandra lewat
sambungan telepon untuk
menanyakan kabar mama
dan juga kekasihnya.
tak lama kemudian bu sonya
datang menghampiri alvin.
"uhuk uhuk..." bu sonya berpura pura
batuk.
alvin pun menoleh ke belakang,
dia sedikit terkejut saat melihat
bu sonya berdiri tepat dihadapannya
dengan mengenakan pakaian ****.
bu sonya memandangi alvin
dari ujung kepala hingga ujung
kaki nya, karna merasa risih alvin
berniat untuk pergi kekamar namun
tangan nya di cengkram oleh bu sonya.
"ada apa?" tanya alvin seraya
menatap bu sonya.
"sikap anak ini sedikit berubah
setelah pulang dari rumah ibu
kandung nya, apa ibu nya telah
mencuci otak nya? aku harus
berhati hati sama anak ini."
ucap bu sonya yang menatap
sinis kearah alvin.
"kenapa diam saja? jika tidak ada
yang ingin anda bicarakan, bisa
tolong lepasin tangan ku?" ucap
alvin yang masih terlihat tenang.
"alviandra mami ingin bicara sama
kamu." ucap nya.
"bicara lakh." jawab alvin.
"apa ibu kandung mu merawat mu
dengan baik selama kamu tinggal
di sana?" tanya bu sonya.
"ya, tentu saja." ucap alvin.
"kalau begitu lihat mami, apa
menurut mu mami begitu buruk
di mata mu?" tanya bu sonya
seraya menyentuh dagu alvin
dengan sangat lembut seperti
orang yang sedang merayu nya.
namun dengan cepat alvin
menepis tangan bu sonya agar tidak mendekati nya.
"apa yang anda lakukan?" tanya alvin.
"kenapa? apa kau tidak menyukai nya?
oya tentu saja! karna kebencian mu
terhadap wanita hingga membuat mu
mati rasa." ucap bu sonya.
selama ini alviandra memang dikenal
__ADS_1
sebagai sosok laki laki yang angkuh
dan sombong, serta alviandra juga
memiliki sifat yang temperamen.
dia juga belum pernah berpacaran
dengan gadis mana pun.
"maaf, aku tidak ingin mendengar
kan ocehan mu." ucap alvin lalu
pergi meninggalkan bu sonya.
"sulit sekali menaklukkan anak itu."
desis bu sonya.
karena merasa kesal dengan bu sonya
alvin keluar untuk mencari udara segar
dan menikmati setiap pemandangan
di tempat itu. tak lama kemudian
pak gian menghubungi nya,
alvin pun segera mengangkat nya.
📞halo alvian?" panggilan akrab pak
gian pada alviandra.
📞ya, halo." jawab alvin.
📞nak, apa kamu bisa tolong
ambilkan berkas papa yang
ketinggalan di laci kamar papa?
soal nya papa ada meeting hari ini."
pinta pak gian.
📞baik pa." ucap alvin dia pun
memutus panggilan nya dan
bergegas menuju kamar utama
yang di tempati oleh papa dan ibu
tirinya.
tok tok tok...
"masuk.." ucap bu sonya.
"papa meminta ku untuk mengambilkan
berkasnya yang ketinggalan."
ucap alvin yang to do point.
"ya, ambillah." ucap bu sonya yang
sedang asyik memainkan ponselnya.
"oya, aku lupa menanyakan alamat
kantor papa, apa kau bisa memberi
tahu ku?" tanya alvin tanpa menoleh
kearah bu sonya.
sontak pertanyaan alvin membuat
bu sonya terkejut, pasal nya alviandra
dulu sering sekali bolak balik kekantor
papa nya untuk meminta uang saat
pak gian sedang menghukum alviandra
dengan cara memblokir semua kartu
ATM nya. alviandra memang dikenal
sebagai anak yang suka menghambur
hamburkan uang, itulah sebab nya
bu sonya membenci alviandra dan
ingin menyingkirkan nya.
"oh ya tentu saja! kamu belum
pernah pergi kekantor nya, tentu
saja kamu tidak akan tahu alamat nya."
ucap bu sonya yang sedang
memainkan sandiwara nya.
"kalau kamu mau, mami bisa
mengantarkan mu?" sambung nya.
"tidak perlu." ucap alvin.
dia pun langsung bergegas
menuju alamat kantor yang sudah
di beri tahu bu sonya.
"ini menarik! harus aku selidiki,
siapa dia sebenarnya." batin bu sonya.
tak lama kemudian bu sonya
menerima telepon dari seorang
laki laki, dia janjian untuk bertemu
di sebuah caffe dengan laki laki
yang baru saja menghubungi nya
lewat sambungan seluler.
__ADS_1