
saat erlita dan karin asyik ngobrol.
tiba tiba mereka di kaget kan dengan
kedatangan jono yang menggebrak
meja di hadapan kedua nya.
brraaakkk.....
"ya elah jon, santay ngapa?"
sinis karin yang terkejut.
"hehehe." jono malah cengengesan.
"busyet ni bocah, malah cengengesan
lagi." gerutu karin yang mengernyit kan
dahi nya.
" pindah ke bangku ku yuk? biar lebih
leluasa ngobrol nya." ajak jono, seraya menoleh ke arah alviandra dan teman
teman nya. dan seketika alviandra
menoleh ke arah jono, karna jarak
diantara mereka sangat lah dekat.
"memang mau bahas apaan?" desus
erlita yang mulai kepo.
"tuh lihat, bu erlita udah mulai kepo."
jono menggoda nya.
"aiissh kenapa panggil ibu sikh."
decah erlita yang gak terima.
"ya biasa nya kan emak emak yang
paling suka kepo." sahut jono.
"sialan!" erlita pun menoyor kepala jono.
sebelum mereka pindah, langkah nya
pun terhenti, karna suara bel tanda
istirahat sudah selesai telah berdering.
dan sebentar lagi juga pak didit akan
kembali memasuki kelas itu.
erlita kembali duduk bersebelahan
dengan alviandra.
"itu mungkin teguran dari tuhan, agar
kamu tidak berbuat ghibah."
bisik alviandra di telinga erlita yang
tersenyum licik.
erlita pun menatap tajam alviandra
dengan tatapan yang tidak bisa di artikan.
"ngeselin banget ni orang." batin erlita.
"baik anak anak, kita lanjutan pelajaran
hari ini, buka buku geografi bab 172."
kata pak didit.
seluruh murid menuruti apa yang pak
didit perintah kan.
pak didit pun mengeluar kan sebuah
lembaran kertas, lalu membagi kan nya
kepada seluruh murid.
"kertas apaan ini pak?" tanya jono
dengan lantang nya.
"itu surat yang harus orang tua kalian
tanda tangani, dan kumpul kan besok!
karna lusa, kita semua akan berkemah."
jelas pak didit.
semua murid pun bersorak ria.
kecuali alviandra, yang terlihat biasa aja.
"asyik, pak aku satu kelompok lagi kan
sama erlita?" jono yang antusias.
"kamu kan laki laki, satu kelompok
lagi dengan laki laki." tegas pak didit.
"huuuuuuu." jono di soraki murid
di kelas itu.
"jono kata nya mau ganti kelamin aja
tuh pak." seru karin menggoda jono.
pak didit hanya geleng geleng kepala
melihat tingkah laku anak anak murid
nya itu.
"nanti kalian buat kelompok
sendiri! tiap kelompok masing masing
terdiri sepuluh orang." kata pak didit,
menjelas kan.
"erlita, aku sekelompok sama kamu ya?"
teriak suci.
"anak anak, soal kelompok kalian
__ADS_1
bahas nanti! kita mulai pelajaran."
tegas pak didit.
di sela sela pelajaran, alviandra ijin
untuk pergi ke toilet.
setiba nya di pintu perbatasan antara
toilet wanita dan pria, langkah nya
pun terhenti, saat dia mendengar suara
pertengkaran dari dalam toilet wanita.
karna penasaran, alviandra pun
mendekat kan daun telinga nya ke arah
pintu, agar bisa lebih jelas mendengar percakapan dari dalam.
"lepasin gak?"👧
"gak, aku gak akan lepasin kamu!"👦
"kamu udah gila ya? aku bilang lepasin,
kalau gak, aku akan teriak!"👧
"teriak aja, aku gak takut! lagi pula gak
bakalan ada orang yang dengar."👦
"siapa orang yang di dalam? seperti
nya aku mengenal suara mereka."
batin alviandra.
setelah mendengar percakapan dari
dalam toilet itu, alviandra pun
mendobrak pintu toilet itu.
brruuuuaaakkkkkk....
pintu toilet pun terbuka.
"Doni." kata alviandra yang heran, setelah
melihat doni berada di toilet wanita
bersama erlita. dia pun menoleh ke arah
tangan doni yang sedang mencengkram
tangan erlita dengan kasar.
"bro, kamu ngapain di sini?" tanya Doni
yang terlihat gelagapan.
"harus nya aku yang bertanya,
ngapain kamu di toilet wanita bersama
cewek ini?" tanya sinis alviandra, seraya
menoleh ke arah erlita dengan tatapan
dingin nya.
saat melihat doni lengah, erlita tidak
lepas dari doni. erlita segera melepas
cengkraman doni lalu berlari keluar
dari toilet.
"erlita..." teriak doni.
saat doni ingin mengejar nya,
dengan segera alviandra menahan nya.
"biarin dia pergi." ucap alviandra.
alviandra menatap tajam doni, dengan
berbagai macam pertanyaan di hati nya.
"maaf bro, ini gak seperti apa yang
kamu lihat." ucapan Doni terdengar
gugup.
"kau belum menjawab pertanyaan ku,
ngapain kamu di sini sama cewek itu?"
alviandra meninggi kan nada suara nya.
"maaf bro, aku harus masuk kelas."
karna takut melihat sorot mata nya,
dengan segera doni pergi dari toilet
untuk menghindari alviandra.
"permisi pak." erlita pun kembali
duduk di bangku nya.
"kemana saja kamu? ke toilet kok
lama sekali." gerutu pak didit.
"he, iya maaf pak." ucap erlita,
tersenyum getir. tak lama kemudian
alviandra masuk, lalu kembali duduk di bangku nya.
teng teng teng...
lonceng pulang sekolah telah di tabuh.
semua murid pun berhamburan keluar.
"jadi gimana?" suci menghampiri
erlita, lalu duduk di kursi alviandra.
alviandra dan murid yang lain nya
memang telah lebih dulu bergegas
keluar kelas. tinggallah erlita, karin,
jono, dan suci yang berada di ruang
__ADS_1
kelas itu.
"gimana apa nya?" sahut erlita.
"bisa kan kita satu kelompok?"
suci mengulangi pertanyaan nya.
"bisa dong." erlita pun memeluk suci.
"mau juga dong di peluk." sahut jono,
seraya mencoba mendekati kedua nya.
"woii,, berani meluk mereka, aku tonjok
nih👊." bentak karin pada jono, seraya
mengepal kan tangan nya ke wajah jono.
"aiissshhh." decah jono, yang tidak suka
melihat tingkah nya karin.
"guys, aku duluan ya." seru karin.
"iya." jawab erlita dan suci bersamaan.
jono pun mengekori karin di belakang
nya.
"ya udah, balik yu? udah sepi nih."
ajak suci, seraya menoleh ke sekeliling.
"ayoo." sahut erlita.
mereka pun berjalan melewati koridor
sekolah, tiba tiba erlita menghentikan
langkah kaki nya.
"kenapa lita?" tanya suci.
"handpone aku kaya nya ketinggalan
di kelas dech." sahut erlita, seraya
merabai ransel yang dia pegangi.
"coba cek lagi, siapa tau aja terselip
di buku." kata suci.
"udah aku cari, tapi gak ada."
sahut erlita, seraya kembali mengobrak
abrik isi dari ransel nya.
"kaya nya handpone ku ketinggalan
di kelas dech, kamu duluan aja ya."
kata erlita seraya bergegas menuju
kelas nya lagi.
"mau aku temani gak?" teriak suci.
"gak usah, kamu duluan aja." teriak
erlita, karna jarak di antara mereka
sudah agak jauh.
sekolah sudah mulai sepi.
erlita mencoba mencari di mana
letak handpone nya, namun dia tidak
dapat menemukan nya.
"kamu nyari ini?" terdengar suara
dari belakang erlita.
erlita pun menoleh ke arah suara itu.
"doni." desus erlita.
doni pun mendekati erlita.
"kenapa handpone ku bisa ada di
kamu?" erlita menatap doni penuh
tanda tanya.
doni tersenyum licik.
"sini balikin handpone ku." erlita
berusaha merebut nya, namun dengan
segera doni menepis nya.
"gak semudah itu kamu dapatin hape ini."
ucap doni datar.
"mau kamu apa sikh?" tanya erlita,
yang mulai terbawa emosi.
namun lagi lagi doni tersenyum
licik, seraya memandangi erlita dari
ujung kaki hingga ujung kepala nya.
*di gerbang sekolah*
alviandra, sam, diki, veri dan Bimo
tengah menunggu doni. karna mereka
telah sepakat untuk balapan sepulang
nya dari sekolah.
"si doni kemana? kok lama."
tanya alviandra.
"tadi bilang nya ke toilet, gak tau
kemana deh tu anak! udah hampir
setengah jam juga!" kata bimo.
"guys, doni nge chat nih, dia bilang
__ADS_1
kata nya kita duluan aja, nanti dia
menyusul." kata diki.