
meskipun alvin menolaknya.
tapi bu sonya tetap tak pantang
menyerah. dia terus menggoda
alvin.
"alvin, jadilah lelaki ku! maka aku
akan berjanji bahwa kau adalah
satu satu nya laki laki terakhir
di hidupku! aku sangat mencintaimu,
dan aku ingin memiliki mu."
ucapan bu sonya terdengar tulus.
tanpa sepengetahuan alvin dan
bu sonya, seseorang telah melihat
dan mendengarkan percakapan
mereka di balik layar laptop nya.
"aku tekan kan sekali lagi! pertama,
aku tidak pernah menyukai mu!
dan kedua, aku sudah memiliki
kekasih yang sangat aku cintai."
tegas alvin.
"tidak bisakah kau membuka
sedikit saja hati mu untuk ku?
aku yakin kalau kekasih mu
itu tidak memiliki perasaan
sebesar apa yang aku rasakan
kepada mu." ucap bu sonya.
"hekhh,,, biarpun aku ingin
membuka hati, aku tidak akan
membiarkan wanita sampah
seperti mu masuk di hidupku."
desis alvin.
plaakkkk....
seketika satu tamparan mendarat
di pipi kiri alvin.
"dasar anak kurang ajar! berani
sekali kau menghina ku."
bentak bu sonya.
"menghina? aku tidak menghina mu,
tapi itu pakta! karna saat papa
pergi untuk bekerja, kau malah
asyik dengan beberapa selingkuhan
mu." ucap alvin.
"cukup, hentikan! aku tidak ingin
mendengar lagi ocehan mu."
bentak bu sonya, dia pun akhirnya
keluar dari kamar alvin seraya
mengenakan kembali pakaian nya.
setelah bu sonya pergi, alvin
duduk di tepi ranjang nya.
dia memikirkan entah apa yang
akan di rencanakan bu sonya
selanjutnya. tampak nya bu sonya
sangat marah kepada nya.
alvin tahu kalau bu sonya itu
adalah orang yang nekat.
karna cuaca malam ini cukup
dingin, alvin mematikan AC di
kamarnya, dan berniat untuk
mengenakan jaket.
"kemana jaket nya? kok gak ada."
batin alvin pun bertanya.
setelah beberapa bulan alvin
baru sadar, kalau dia kehilangan
jaket baru nya yang sama sekali
belum pernah dia pake.
sampai detik ini alvin belum
mengetahui kalau alviandra
pernah datang ke LA untuk
menemui nya, karna bu sonya
memang sengaja merahasiakan
nya.
"aneh! perasaan jaket nya aku
simpan di sini." gumam alvin.
karna tak kunjung menemukannya
akhirnya alvin mengambil jaket
yang lain. dia pun kembali
melanjutkan tidur nya.
sementara bu sonya dia terlihat
marah marah dikamar nya.
dia kembali memikirkan rencana
__ADS_1
licik lainnya untuk mendapatkan
alvin.
"alvin memang benar benar
kurang ajar! berani sekali dia
menghina dan mengancam ku,
rupanya dia belum tahu siapa
aku." batin bu sonya.
bu sonya menoleh kearah pak gian
yang menurut nya masih tertidur
pulas. dia pun merebahkan tubuh
nya di samping pak gian kemudian
memeluk nya.
keesokan nya...
seperti biasa sebelum melakukan
aktivitas masing masing.
pak gian, alvin dan bu sonya
selalu menyempatkan diri
untuk sarapan bersama.
karna hari ini jadwal kuliah
alvin, dia pun pergi ke kampus nya
terlebih dahulu sebelum ke kantor.
"aku berangkat kuliah dulu ya pa."
ucap alvin seraya mencium tangan
pak gian.
"hati hati vin." ucap pak gian.
"papi mau tambah lagi lauk nya?"
ucap bu sonya dengan manis nya.
"tidak usah mi, papi sudah mau
selesai kok makan nya."
sahut pak gian.
"di kantor papi ada lowongan
kerja gak?" tanya bu sonya.
"gak ada! memang nya kenapa?"
balik tanya pak gian.
"sayang sekali, padahal mami
berniat ingin membantu papa
untuk bekerja di kantor."
ucap bu sonya.
"tumben sekali mami ingin
bekerja?" tanya nya.
ucap bu sonya.
"kalau bosan, mami bisa ajak
teman teman arisan mami
untuk pergi jalan jalan, bukannya
biasanya juga seperti itu."
ucap pak gian.
"uang mami sudah habis pi."
ucap bu sonya.
"sudah habis? bukan nya baru
dua hari yang lalu papi ngasih
uang bulanan pada mami."
ucap pak gian.
"ya uang nya memang sudah
habis." jelas bu sonya.
"ya sudah nanti papi transfer."
ucap pak gian.
"terima kasih ya pi."
ucap bu sonya seraya memeluk
dan mencium suami nya.
"papi berangkat dulu."
pungkas pak gian.
*PT. Giantara*
"saya tidak habis pikir, kenapa
pak gian bisa bisanya memberikan
jabatannya kepada anaknya yang
masih ingusan." ucap pak Hendrik
manager personalia di perusahaan itu.
"lihat saja beberapa bulan yang
akan datang! kurasa tidak lama
lagi perusahaan ini akan hancur."
ucap pak antonio direktur keuangan
yang sudah lama bekerja di
PT. Giantara.
"jangan terburu buru membuat
kesimpulan, kita lihat saja
kemampuan alvin terlebih dahulu!
kurasa dia anak yang cukup
bertanggung jawab untuk
mengelola dan meneruskan
__ADS_1
perusahaan papa nya."
sahut pak daniel direktur pemasaran
yang tak lain adalah sahabat dari
pak gian.
sementara para karyawati lagi
pada sibuk berdandan.
semenjak pak gian mengangkat
alvin sebagai CEO di perusahaan.
kantor itu seketika berubah,
seakan menjadi ajang kecantikan.
"pak alvin mana ya? sudah siang
begini belum datang." ucap nadine
seraya celingukan berharap bisa
menemukan alvin.
"atasan bebas mau datang jam
berapa juga! memang nya kita,
telat dikit langsung deh potong
gaji" dumel angela.
"huss.. jangan keras keras
ngomong nya! kalau kedengaran
kita bisa di pecat." desus nadine
mengingatkan.
"kamu habis dari mana?"
tanya anya kepada sahabatnya.
"aku habis dari pantry."
sahut catrine.
"itu yang di tangan mu apa?"
tanya anya.
"ini hadiah kecil untuk pak alvin, aku
harap pak alvin akan menyukai nya."
ucap catrine penuh harap.
"kamu serius mau mendekati
pak alvin? ingat kita itu hanya
karyawati biasa." ucap anya.
"memang nya kenapa? lagi pula
pak alvin tidak terlihat seperti
seseorang yang memandang
status sosial dari wanita." sahut catrine.
"terserah kamu lah! yang penting
aku sudah mengingatkan agar
kamu tidak kecewa." ucap anya.
*universitas*
alvin keluar dari kampusnya
lalu berjalan menuju mobilnya
yang sedang terparkir. tapi tiba tiba seseorang memanggil nya.
"alvin..." teriak bu sonya.
alvin menoleh dan hendak
mengabaikan nya. namun dengan
cepat bu sonya menarik tangan nya.
"alvin tunggu!" pinta bu sonya.
"ada apa?" tanya alvin dengan ketus
nya.
"kau pasti ingin pergi ke kantor kan?
apa aku bisa ikut dengan mu?"
tanya bu sonya.
"memang nya kemana mobil mu?"
alvin yang balik bertanya.
"mobil ku lagi di servis." jawab nya.
"aku tidak bisa memberikan
tumpangan padamu!" ketus alvin.
"kenapa? lagi pula tujuan kita
sama." ucap bu sonya.
"kenapa kau tidak naik taxi saja."
ucap alvin.
"aku gak bawa uang cash."
ucap bu sonya tengah berbohong.
alvin mengambil dompet yang
ada di saku celana nya, lalu
mengambil beberapa uang
dan memberikan nya kepada
bu sonya.
"nih ambil." ucap alvin.
"ini maksud nya apa?" tanya bu sonya.
"bukan kah tadi kau bilang tidak
bawa uang cash." sahut alvin
dia pun pergi begitu saja
meninggalkan bu sonya.
"alvin..." gumam bu sonya yang
tampak geram, dia pun mengepalkan tangannya.
__ADS_1