
setelah beberapa saat pingsan
akhirnya erlita sadar.
"bayi ku..." ucap erlita setelah sadar
seraya memegangi perutnya.
"lita, kamu tenang ya? bayi mu
baik baik saja." ucap alviandra
berusaha menenangkan.
"benarkah?" tanya erlita dengan
raut wajah yang berbinar.
"ya, bayi mu baik baik saja."
ucap alviandra meyakinkan.
"kenapa hanya bayi ku? bukan kah
ini bayi kita berdua?" tanya erlita.
"ya, maksud ku bayi kita baik
baik saja!" jawab alviandra.
"kenapa kau melakukan hal
bodoh seperti itu? apakah
kau tidak tahu, kalau itu bisa
membahayakan keselamatan
mu." bentak alviandra.
"kenapa kau membentak ku?
bukankah kau juga akan melakukan
hal yang sama, saat melihat
ku dalam bahaya." ucap erlita.
mendengar ucapan erlita
membuat alviandra diam membisu.
"setidaknya tindakan mu ini tidak
membahayakan janin yang ada
di dalam kandungan mu."
ucap lirih alviandra.
"aku minta maaf, karna sudah
membuat mu khawatir! kalau
boleh aku tahu, seberapa perduli nya
kamu terhadap aku dan janin yang
ada di perutku?" tanya erlita.
"apa kau sedang ingin memancing
amarah ku?" tanya alviandra yang
tampak sedikit kesal.
"tidak! aku hanya ingin tahu
seberapa besar rasa sayang mu
pada aku dan janin ku." ucap nya.
"kau dan janin mu itu adalah
hidup ku! apa kau puas?"
ucap alviandra.
"aku tidak percaya!" ucap erlita.
"kenapa?" tanya alviandra.
"kamu bahkan tidak pernah
memperdulikan aku dan janin
ini, tadi siang kamu sudah
berjanji untuk mengantarku
cek ke dokter kandungan, tapi
kamu mengingkarinya, seakan
akan janin ini tidak penting bagimu."
ucap erlita.
"aku minta maaf." sahut alviandra.
"apa aku sudah boleh pulang?"
tanya erlita.
"tidak! kondisi mu masih lemah,
dokter menyarankan agar kau
dirawat inap, besok baru boleh
pulang." ucap alviandra.
erlita mengecek jam di ponselnya
waktu masih menunjukan pukul 22:03.
"apa kau akan menemaniku disini?"
tanya erlita.
"tentu saja." ucap alviandra.
keesokan nya...
erlita dan alviandra sudah tiba
di rumah. erlita tampak masih
lemas, sementara alviandra
wajah nya masih memar akibat
pukulan dari beberapa orang yang
semalam sudah mengeroyok nya.
"aku sudah meminta ijin kepada
dosen mu, hari ini kau bisa
beristirahat dirumah." ucap alviandra.
"lalu bagai mana dengan mu?"
tanya erlita.
__ADS_1
"aku akan bekerja, sebentar lagi
aku akan berangkat." sahut alviandra.
"vin, kenapa kamu juga gak
meminta ijin kepada atasan mu?
kalau aku lihat, luka mu juga cukup
parah." pinta erlita.
"aku tidak apa apa, ini hanya luka
ringan." ucap nya.
tok tok tok....
terdengar seseorang sedang
mengetuk pintu.
"biar aku yang buka." ucap alviandra.
"mama, mama dita & papa kevin!
kok bisa barengan?" ucap alviandra
seraya menyalami bu indri, bu dita
dan pak kevin secara bergantian.
"iya, tadi kita ketemu di depan."
sahut bu dita.
alviandra langsung mempersilahkan
mereka masuk.
"erlita bagai mana keadaan
kamu sayang?" tanya bu dita
yang terlihat cemas.
"aku baik baik aja kok ma."
ucap erlita.
"syukurlah kalau begitu."
ucap bu dita.
"kenapa kalian baru memberi
tahu kami soal kejadian yang
menimpa kalian semalam?"
tanya bu indri.
"kita tidak ingin membuat mama,
mama dita dan papa kevin khawatir."
ucap alviandra.
"apa papa bilang! tempat ini itu
gak aman untuk kalian tempati."
gerutu pak kevin.
alviandra dan erlita pun saling
bertatapan, seakan tahu apa
yang ada di dalam hati suaminya
meminta pengertian kepada
papa nya.
"pa... ini sama sekali tidak ada
hubungan nya dengan tempat
yang kita tinggali! peristiwa
semalam murni kecelakaan."
ucap erlita.
"vin apa kamu punya musuh?"
tanya pak kevin.
alviandra mengingat kejadian
saat dia memukul johan, dia pun
berpikir kalau johan adalah dalang
di balik penyerangan terhadap
dirinya semalam.
"tidak pa." jawab alviandra tengah
berbohong.
"kalau begitu besok kalian harus
pindah dari sini." ucap pak kevin.
"loh kenapa pa? alvin kan sudah
bilang kalau dia tidak punya musuh."
tanya erlita.
"papa tidak mau ambil resiko!
pokok nya kalian harus segera
pindah dari sini." tegas pak kevin.
"apa papa meragukan ku sebagai
suaminya? apa papa pikir aku
tidak akan melindungi nya saat
dia dalam bahaya?" tanya alviandra.
"bukan begitu! papa tau kalau
kamu sayang sama erlita, tapi
apa kamu bisa bersama nya
full time selama 24 jam?
tidak kan? bahaya bisa saja datang
sewaktu waktu menimpa kalian."
ucap pak kevin.
"sudah vin cukup! pak kevin ada
benarnya juga, ada baik nya kalau
kalian pindah saja." bu indri berusaha
__ADS_1
menengahi perdebatan antara anak
dan besannya.
"sudah ya vin, kamu sama papa
gak usah berantem lagi, nanti
kita pikirkan solusi nya sama sama!
Oya aku punya kabar gembira
untuk mama, papa dan mama indri."
erlita mencoba mencairkan suasana.
"apa sayang?" tanya bu dita.
"aku hamil!" ucap erlita.
"benarkah?" ucap bu dita, bu indri
dan pak kevin secara bersamaan.
erlita pun mengangguk.
terlihat binar binar kebahagiaan
di raut wajah bu dita, bu indri dan
pak kevin.
"berapa usia kandungan mu nak?"
tanya bu indri.
seketika erlita dan alviandra
saling bertatapan.
"baru empat minggu ma."
jawab erlita berbohong.
"alhamdulillah, bu dita, pak kevin,
sebentar lagi kita akan menimang
cucu." ucap bu indri penuh bahagia.
"iya bu indri." sahut bu dita.
"vin kamu harus rajin bantu
erlita mengerjakan pekerjaan
rumah, karna ibu hamil gak boleh
kecapean." ucap bu indri.
"mama indri tenang aja, untuk
pekerjaan rumah tidak semuanya
aku yang ngerjain, nyuci biasanya
kita ke laundry, beres beres rumah
kadang bi imah datang kesini
untuk membantu." ucap erlita.
"baguslah kalau begitu, dan satu
lagi, ibu hamil itu gak boleh
stres, gak boleh banyak pikiran
karna bisa mempengaruhi
perkembangan janin yang ada
di perut mu." ucap bu indri lagi.
"ya sudah kalau begitu papa
pergi kekantor dulu."
ucap pak kevin setelah menoleh
kearah jarum jam yang ada di
tangan nya.
"hati hati pa." ucap erlita.
"ya udah kalau gitu aku juga
berangkat kerja dulu ya ma."
ucap alviandra seraya menyalami
bu indri dan bu dita secara bergantian.
terakhir dia mengelus pucuk kepala
erlita secara lembut.
"ya sudah kamu istirahat saja
di kamar! mari mama bantu."
ucap bu dita seraya memapah
erlita ke kamarnya.
bu dita membaringkan erlita
di ranjang lalu menyelimuti nya.
setelah itu bu dita kembali
menghampiri besannya.
"sementara erlita tidur, bagai
mana kalau kita buatin makanan
kesukaan anak anak kita?"
tanya bu indri.
"ide yang bagus." sahut bu dita.
bu indri dan bu dita mengambil
berbagai bahan masakan yang
ada di kulkas lalu mencuci nya.
mereka terlihat sangat kompak.
hingga kurang lebih selama
satu jam'an mereka telah siap
menghidangkan beberapa lauk
di meja makan.
setelah erlita bangun dan alviandra
pulang bekerja, mereka akhirnya
makan bersama sama.
__ADS_1