
setelah menerima isi chat dari doni,
mereka pun berniat untuk mengabul
kan permintaan doni, yang menyuruh
mereka untuk pergi ke arena balap
duluan. namun alviandra merasa ada
yang janggal dengan sikap doni yang
tiba tiba mengulur janji nya, sementara
mobil doni masih terparkir di area
parkiran sekolah.
"ada apa ini? oya, dari tadi aku juga
belum melihat cewek pembalut itu
keluar gerbang, apa dia masih di kelas
nya?" batin alviandra, penuh tanya.
sesaat alviandra teringat akan
pertengkaran erlita dan doni waktu
di toilet.
"ayo bro, kok malah bengong." veri
membuyar kan lamunan alviandra.
"kalian duluan! nanti aku nyusul."
kata alviandra, dia pun berniat untuk
mencari doni di kelas nya.
*Ruang kelas XII IPS 1*
"kamu kenapa sikh? aku merasa
kamu sudah banyak berubah,
semenjak kamu mengenal alviandra."
kata erlita dengan meninggi kan
suara nya.
" ini sama sekali gak ada hubungan
nya dengan alviandra!" bentak doni,
seraya ingin menjamah erlita, namun
dengan segera erlita menepis tangan
nya.
"jangan kurang ajar." bentak erlita.
"aku hanya ingin mencicipi bibir mu
yang sexi itu! setelah itu aku akan
memberi kan handpone mu ini."
erlita mengepal kan tangan nya,
berusaha menahan amarah nya.
rasa nya ingin sekali dia menampar
wajah laki laki yang berada di hadapan
nya itu, namun dia berusaha untuk
menahan nya.
"apa yang harus aku lakukan? kenapa
sikap doni yang sekarang berbeda
seratus delapan puluh derajat,
dengan doni yang ku kenal dulu."
batin erlita, lalu menatap tajam ke
arah doni.
saat melihat erlita tampak melamun,
doni memanfaat kan situasi itu.
dia langsung mencium lembut bibir
mungil erlita dengan bibir nya.
tentu saja erlita melakukan penolakan
dengan cara mendorong tubuh kekar
Doni agar menjauh dari diri nya.
namun doni kembali mendekati erlita,
lalu menyender kan tubuh erlita ke
tembok dinding, seraya memegangi
kedua tangan erlita dengan tangan nya
tepat di atas kepala erlita.
doni kembali mendekat kan wajah
nya ke wajah erlita, dan bermaksud
untuk mencium nya lagi. namun erlita
memaling kan pandangan nya ke
__ADS_1
samping, hingga bibir doni menempel
di daun telinga erlita, dan bukan
menempel di bibir manis nya.
erlita terlihat menetes kan air mata nya.
doni yang melihat nya pun, mengurung
kan niat nya untuk mencumbui erlita.
dia menonjok dinding tembok, tepat
di samping wajah erlita. hingga erlita
memejam kan mata nya, karna
mengira kalau doni akan memukul
wajah nya.
tibalah alviandra, dan berdiri tepat di
pintu masuk ruangan itu, melihat ke
arah mereka dengan pikiran
yang tidak menentu.
"mereka ngapain di sini?"
batin alviandra.
"aku memang membenci mu!
karna kamu selalu menyakiti ku,
dengan cara memberi kan ku
harapan palsu." ucap doni, yang
menatap dalam kedua bola mata erlita.
"aku bisa saja menodai mu di tempat ini!
namun, itu tak kan aku lakukan pada
wanita yang sangat ku cintai."
jelas doni.
deg....
alviandra sangat terkejut mendengar
ucapan doni barusan.
" sebenar nya ada hubungan apa,
di antara mereka berdua?"
batin alviandra semakin bertanya tanya.
erlita hanya terdiam, dia tidak bisa
berkata apa apa lagi. tanpa sadar
doni meletakan handpone erlita
di bangku nya. kemudian dia pergi
meninggal erlita di ruangan itu.
saat melihat doni yang hendak keluar,
alviandra pun bersembunyi agar doni
tidak melihat nya.
sementara erlita dia menangis tersedu
sedu, setelah kepergian doni.
alviandra berniat ingin mengikuti doni.
namun dia merasa iba saat melihat erlita
menangis sendirian di ruangan itu.
akhir nya alviandra pun mengurung kan
niat nya, dan lebih memilih untuk menghampiri erlita.
"hapus air mata mu! alvin pasti tidak
akan suka, kalau tau kekasih nya sedang
menangisi laki laki lain." kata alviandra,
seraya memberi kan sebuah sapu tangan
berwarna coklat ke pada erlita.
saat mendengar suara alviandra,
erlita pun menoleh ke arah nya, dengan
tatapan yang tak bisa di artikan.
"tunggu apa lagi? ayo ambil, ingus mu berserakan kemana mana tuh"
ketus alviandra. erlita pun segera
mengambil sapu tangan itu, lalu
menghapus air mata nya.
"nih, makasih ya." kata erlita, dengan
raut wajah yang sayu. erlita pun
segera pergi dari ruangan itu, seraya
memberi kan sapu tangan itu pada
alviandra. alviandra terdiam menatap
__ADS_1
kepergian erlita, hingga pandangan itu
lenyap.
sesampai nya di rumah.
erlita terlihat pucat dan lesu.
mata nya pun sembab. rasa nya terasa
berat bagi nya untuk melangkah kan
kaki. erlita berjalan menaiki anak tangga
satu persatu bak jombi yang sedang
berjalan. dari arah dapur bi imah nampak
memperhatikan nya.
"non erlita, sikap nya aneh sekali."
gumam bi imah. rasa nya ingin sekali
bi imah menghampiri anak majikan nya
itu, namun dia tidak mempunyai
keberanian untuk itu.
erlita meletakan ransel nya begitu saja
di lantai, dia pun merebah kan tubuh
nya di atas ranjang. mata nya begitu
sembab, karna sepanjang perjalanan
menuju pulang dia menangis. dia tidak
menyangka, kalau doni orang yang dulu
pernah menjadi sahabat baik nya, bisa
bersikap seperti itu terhadap nya.
bi imah pun mencari pak sakti
dihalaman rumah. yang tak lain adalah
sopir pribadi di rumah itu, yang
mengantar jemput erlita ke sekolah nya.
ya semenjak persiapan camping sekolah semakin dekat, alvin menjadi sangat
sibuk membantu para guru untuk mempersiap kan semua nya, terlebih
dia adalah seorang ketua OSIS.
"pak saksi." panggil bi imah.
pak sakti pun menghampiri nya.
"ada apa bi imah?" sahut pak sakti.
"itu non erlita kenapa, kok mata nya
sembab begitu?" tanya bi imah.
"ya mana aku tau." ketus pak sakti.
"loh. kamu kan tadi yang menjemput
non erlita pulang sekolah, masa gak tau."
decah bu imah.
" di perjalanan, non erlita memang
terus terusan menangis, tapi saya gak
tau non erlita kenapa." jawab pak sakti,
yang usia nya sudah sekitar 50 tahunan
lebih itu.
"harus nya kamu tanyain dong, non
erlita itu kenapa? gitu." kata bi imah
sambil memanyun kan bibir nya.
"lah gak berani saya! itu kan urusan nya
non erlita, saya gak berani ikut campur."
kata pak sakti, dengan polos nya.
"kenapa gak kamu saja, yang
menanyakan nya secara langsung
sama non erlita." sambung pak sakti.
"wah mmohh, mana berani saya! nanti
yang ada saya malah di pecat, karna
kepo urusan anak majikan." jawab bi
imah, penuh rasa takut.
"kepo apaan?" tanya pak sakti,
dengan polos nya.
" kepo apaan ya?" sejenak bi Imah
berpikir, seraya menempel kan telunjuk
tangan di dagu nya.
"lah, poko nya sejenis orang yang suka
ingin tahu urusan orang lain."
__ADS_1
pungkas bi imah, seraya berjalan
memasuki rumah mewah itu.