AKU Bukan DIA ( Kita Berbeda)

AKU Bukan DIA ( Kita Berbeda)
ep 27 dendam


__ADS_3

setelah menerima isi chat dari doni,


mereka pun berniat untuk mengabul


kan permintaan doni, yang menyuruh


mereka untuk pergi ke arena balap


duluan. namun alviandra merasa ada


yang janggal dengan sikap doni yang


tiba tiba mengulur janji nya, sementara


mobil doni masih terparkir di area


parkiran sekolah.


"ada apa ini? oya, dari tadi aku juga


belum melihat cewek pembalut itu


keluar gerbang, apa dia masih di kelas


nya?" batin alviandra, penuh tanya.


sesaat alviandra teringat akan


pertengkaran erlita dan doni waktu


di toilet.


"ayo bro, kok malah bengong." veri


membuyar kan lamunan alviandra.


"kalian duluan! nanti aku nyusul."


kata alviandra, dia pun berniat untuk


mencari doni di kelas nya.


*Ruang kelas XII IPS 1*


"kamu kenapa sikh? aku merasa


kamu sudah banyak berubah,


semenjak kamu mengenal alviandra."


kata erlita dengan meninggi kan


suara nya.


" ini sama sekali gak ada hubungan


nya dengan alviandra!" bentak doni,


seraya ingin menjamah erlita, namun


dengan segera erlita menepis tangan


nya.


"jangan kurang ajar." bentak erlita.


"aku hanya ingin mencicipi bibir mu


yang sexi itu! setelah itu aku akan


memberi kan handpone mu ini."


erlita mengepal kan tangan nya,


berusaha menahan amarah nya.


rasa nya ingin sekali dia menampar


wajah laki laki yang berada di hadapan


nya itu, namun dia berusaha untuk


menahan nya.


"apa yang harus aku lakukan? kenapa


sikap doni yang sekarang berbeda


seratus delapan puluh derajat,


dengan doni yang ku kenal dulu."


batin erlita, lalu menatap tajam ke


arah doni.


saat melihat erlita tampak melamun,


doni memanfaat kan situasi itu.


dia langsung mencium lembut bibir


mungil erlita dengan bibir nya.


tentu saja erlita melakukan penolakan


dengan cara mendorong tubuh kekar


Doni agar menjauh dari diri nya.


namun doni kembali mendekati erlita,


lalu menyender kan tubuh erlita ke


tembok dinding, seraya memegangi


kedua tangan erlita dengan tangan nya


tepat di atas kepala erlita.


doni kembali mendekat kan wajah


nya ke wajah erlita, dan bermaksud


untuk mencium nya lagi. namun erlita


memaling kan pandangan nya ke

__ADS_1


samping, hingga bibir doni menempel


di daun telinga erlita, dan bukan


menempel di bibir manis nya.


erlita terlihat menetes kan air mata nya.


doni yang melihat nya pun, mengurung


kan niat nya untuk mencumbui erlita.


dia menonjok dinding tembok, tepat


di samping wajah erlita. hingga erlita


memejam kan mata nya, karna


mengira kalau doni akan memukul


wajah nya.


tibalah alviandra, dan berdiri tepat di


pintu masuk ruangan itu, melihat ke


arah mereka dengan pikiran


yang tidak menentu.


"mereka ngapain di sini?"


batin alviandra.


"aku memang membenci mu!


karna kamu selalu menyakiti ku,


dengan cara memberi kan ku


harapan palsu." ucap doni, yang


menatap dalam kedua bola mata erlita.


"aku bisa saja menodai mu di tempat ini!


namun, itu tak kan aku lakukan pada


wanita yang sangat ku cintai."


jelas doni.


deg....


alviandra sangat terkejut mendengar


ucapan doni barusan.


" sebenar nya ada hubungan apa,


di antara mereka berdua?"


batin alviandra semakin bertanya tanya.


erlita hanya terdiam, dia tidak bisa


berkata apa apa lagi. tanpa sadar


doni meletakan handpone erlita


di bangku nya. kemudian dia pergi


meninggal erlita di ruangan itu.


saat melihat doni yang hendak keluar,


alviandra pun bersembunyi agar doni


tidak melihat nya.


sementara erlita dia menangis tersedu


sedu, setelah kepergian doni.


alviandra berniat ingin mengikuti doni.


namun dia merasa iba saat melihat erlita


menangis sendirian di ruangan itu.


akhir nya alviandra pun mengurung kan


niat nya, dan lebih memilih untuk menghampiri erlita.


"hapus air mata mu! alvin pasti tidak


akan suka, kalau tau kekasih nya sedang


menangisi laki laki lain." kata alviandra,


seraya memberi kan sebuah sapu tangan


berwarna coklat ke pada erlita.


saat mendengar suara alviandra,


erlita pun menoleh ke arah nya, dengan


tatapan yang tak bisa di artikan.


"tunggu apa lagi? ayo ambil, ingus mu berserakan kemana mana tuh"


ketus alviandra. erlita pun segera


mengambil sapu tangan itu, lalu


menghapus air mata nya.


"nih, makasih ya." kata erlita, dengan


raut wajah yang sayu. erlita pun


segera pergi dari ruangan itu, seraya


memberi kan sapu tangan itu pada


alviandra. alviandra terdiam menatap

__ADS_1


kepergian erlita, hingga pandangan itu


lenyap.


sesampai nya di rumah.


erlita terlihat pucat dan lesu.


mata nya pun sembab. rasa nya terasa


berat bagi nya untuk melangkah kan


kaki. erlita berjalan menaiki anak tangga


satu persatu bak jombi yang sedang


berjalan. dari arah dapur bi imah nampak


memperhatikan nya.


"non erlita, sikap nya aneh sekali."


gumam bi imah. rasa nya ingin sekali


bi imah menghampiri anak majikan nya


itu, namun dia tidak mempunyai


keberanian untuk itu.


erlita meletakan ransel nya begitu saja


di lantai, dia pun merebah kan tubuh


nya di atas ranjang. mata nya begitu


sembab, karna sepanjang perjalanan


menuju pulang dia menangis. dia tidak


menyangka, kalau doni orang yang dulu


pernah menjadi sahabat baik nya, bisa


bersikap seperti itu terhadap nya.


bi imah pun mencari pak sakti


dihalaman rumah. yang tak lain adalah


sopir pribadi di rumah itu, yang


mengantar jemput erlita ke sekolah nya.


ya semenjak persiapan camping sekolah semakin dekat, alvin menjadi sangat


sibuk membantu para guru untuk mempersiap kan semua nya, terlebih


dia adalah seorang ketua OSIS.


"pak saksi." panggil bi imah.


pak sakti pun menghampiri nya.


"ada apa bi imah?" sahut pak sakti.


"itu non erlita kenapa, kok mata nya


sembab begitu?" tanya bi imah.


"ya mana aku tau." ketus pak sakti.


"loh. kamu kan tadi yang menjemput


non erlita pulang sekolah, masa gak tau."


decah bu imah.


" di perjalanan, non erlita memang


terus terusan menangis, tapi saya gak


tau non erlita kenapa." jawab pak sakti,


yang usia nya sudah sekitar 50 tahunan


lebih itu.


"harus nya kamu tanyain dong, non


erlita itu kenapa? gitu." kata bi imah


sambil memanyun kan bibir nya.


"lah gak berani saya! itu kan urusan nya


non erlita, saya gak berani ikut campur."


kata pak sakti, dengan polos nya.


"kenapa gak kamu saja, yang


menanyakan nya secara langsung


sama non erlita." sambung pak sakti.


"wah mmohh, mana berani saya! nanti


yang ada saya malah di pecat, karna


kepo urusan anak majikan." jawab bi


imah, penuh rasa takut.


"kepo apaan?" tanya pak sakti,


dengan polos nya.


" kepo apaan ya?" sejenak bi Imah


berpikir, seraya menempel kan telunjuk


tangan di dagu nya.


"lah, poko nya sejenis orang yang suka


ingin tahu urusan orang lain."

__ADS_1


pungkas bi imah, seraya berjalan


memasuki rumah mewah itu.


__ADS_2