
ke esokan hari nya di sekolah elit
SMA harapan bangsa.
para murid sudah berlalu ilalang.
cuaca di pagi ini begitu cerah, burung
burung berkicauan di sekitar taman
sekolah. erlita, karin dan suci tampak
bersenda gurau di salah satu kursi
yang terpapang di taman itu.
"gimana handpone mu udah ketemu?"
tanya suci. sementara karin masih asyik
mengunyah makanan di dalam mulut nya.
"udah." jawab singkat erlita.
"ketemu di mana?" tanya suci lagi.
"loh, emang nya handpone kamu kemarin
sempat hilang?" tanya karin, setelah
menelan makanan di mulut nya.
erlita hanya mengangguk.
"handpone mu ketemu di mana?"
suci mengulangi pertanyaan yang sama.
"aku harus jawab apa?" batin erlita.
karna dia sendiri merasa bingung,
kenapa kemarin handpone nya bisa
ada pada doni.
"hey, malah bengong." teriakan Karin
membuyar kan lamunan nya.
"apaan sikh rin, akh." erlita nampak kesal.
"habis nya kamu, pagi pagi udah
melamun aja! kenapa si?" tanya karin.
"lita, kamu baik baik aja kan?" tanya suci.
"aku baik baik a ..." ucapan erlita
menggantung saat melihat doni dan
teman teman nya berjalan ke arah
mereka.
"aku duluan ya." kata erlita yang tergesa
gesa.
"kenapa sikh tuh anak?" tanya karin,
menatap heran ke arah suci.
"entah lakh." jawab suci, seraya
menggerak kan kedua pundak nya
ke atas.
ternyata erlita pergi menemui alvin
yang terlihat sibuk di aula sekolah.
erlita berdiri di depan pintu, dia tidak
berani untuk menghampiri nya.
"vin, lita tuh." kata rehan mencolek
alvin agar menoleh ke arah erlita.
seketika alvin berbalik menoleh ke
erlita, kemudian menghampiri nya.
"ngapain kamu ke sini? pasti kangen
ya, karna hari ini kamu belum bertemu
dengan ku." alvin malah langsung
menggoda nya.
"iiiikhhhh." karna malu erlita pun
mencubit pinggang alvin.
"awww." alvin berteriak kesakitan.
dan seketika orang yang berada di aula
itu menatap ke arah alvin dan erlita.
termasuk pak dodi wali kelas nya alvin.
"ma, maaf pak." alvin tersenyum getir,
meminta maaf.
"ya udah, kita ngobrol nya di kantin
aja yu?" ajak alvin.
"gak vin! bagai mana kalau kita ke
perpus aja?" kata erlita.
"perpus? tapi kalau di jam jam segini
__ADS_1
penjaga perpus masih standby di sana."
kata alvin menggoda erlita.
"kamu ini apaan sikh, gak usah mesum
dech! kamu pikir aku ngajak kamu ke
sana untuk apa?" erlita tersenyum malu
malu mendengar celotehan kekasih
nya itu.
"loh emang nya untuk apa? memang
nya bukan untuk melanjut kan yang
kemarin ya?" alvin tersenyum, seraya
terus menggoda nya.
"aiikh, ya bukan lakh." decah erlita.
seketika candaan alvin sedikit
mengurangi ketakutan nya erlita
terhadap doni.
mereka pun pergi ke perpus.
lalu mengambil salah satu buku
di ruangan itu.
"besok kamu ikut camping kan?"
tanya alvin.
"ikut." jawab erlita singkat.
"kamu?" erlita pun balik bertanya.
"ya pasti ikut!" jawab alvin datar.
"hmmm." gumam erlita.
"bilang pada alvin gak ya? soal perlakuan
doni kemarin kepada ku." batin erlita.
"vin ..." ucapan erlita menggantung.
"ya, kenapa?" tanya alvin.
"emmm ...." erlita yang tampak bingung,
dia pun menggigit jempol tangan nya.
"sikap erlita sedikit aneh! kaya ada
sesuatu yang ingin dia katakan, tapi apa?"
batin alvin, setelah mengamati gelagat
aneh erlita.
lalu mengecek nya satu persatu, jika
ada buku yang menurut nya sudah tidak
layak untuk di baca (rusak), dia
menyimpan nya di sebuah dus besar
untuk di daur ulang.
tiba tiba bu devi menghampiri mereka.
"lita, kamu sedang apa?" tanya Bu devi,
salah seorang penjaga perpus.
"lagi baca bu." jawab erlita berbohong.
"pintar ya kamu, bisa baca buku sambil
buku nya terbalik gitu." kata Bu devi.
dengan segera erlita melirik ke buku
yang sedang dia pegang, dan betapa
malu nya dia.
"pinter bohong maksud nya." desis Bu
devi, lalu kembali ke tempat duduk nya.
erlita pun cengengesan, menahan malu.
alvin hanya tersenyum, melihat tingkah
nya erlita.
"vin, kenapa kamu gak bilang sikh kalau
buku nya terbalik." decah erlita.
"ya mana aku tau kalau buku nya
terbalik." alvin membela diri.
"kamu dari tadi kan duduk di depan ku!
masa gak lihat sikh, kalau buku nya
terbalik." desis erlita.
"aku beneran gak tau! kamu lihat kan,
kalau dari tadi aku hanya menatap indah
kedua bola mata mu! dan aku tak ingin
berpaling dari wajah mu yang cantik itu."
ucap alvin, menggoda erlita. dia tak ingin
__ADS_1
di salah kan.
"bisa aja ngeles nya." erlita pun tersenyum.
"masuk yuk? bentar lagi jam pelajaran
di mulai." ajak alvin.
mereka pun meninggal kan perpus.
*kelas XII IPS 1*
"si cewek pembalut mana?"
tanya alviandra kepada teman teman
erlita.
"cewek pembalut?" tanya karin,
yang mengernyit kan dahi nya.
karin dan suci pun menatap satu
sama lain.
"erlita mana?" tanya alviandra, yang
se akan tau apa yang ada di pikiran
karin dan suci.
"oh, tadi ku lihat dia bersama alvin."
jelas karin.
setelah mendengar jawaban karin,
alviandra pun duduk di bangku nya.
kemudian suci juga duduk di bangku
nya, yang berada tepat di depan
bangku nya jono.
tak lama kemudian erlita memasuki
kelas nya.
"selamat pagi anak anak." sapa pak didit.
"pagi pak." jawab semua murid.
"apa surat ijin nya sudah orang tua kalian
tanda tangani?" tanya pak didit.
"sudah pak." sahut seluruh murid.
"baik! kalau begitu kumpul kan di meja
bapak." kata pak didit.
semua murid berjalan satu persatu
ke meja pak didit.
"kalian buka buku sosiologi! kerjakan halaman 203 sampai halaman 207."
jelas pak didit.
erlita terlihat tidak pokus mengerjakan
tugas nya. sesekali dia mencuri curi
pandang, menoleh ke alviandra.
"aku masih heran, kenapa handpone ku
bisa ada pada doni? ataw jangan
jangan ..." erlita pun kembali menoleh
ke arah alviandra, kali ini erlita menatap
tajam diri nya. namun alviandra masih
pokus mengerjakan pelajaran nya.
"aakh tu kan, aku jadi mikir yang aneh
aneh tentang cowok ini." batin erlita,
yang mengutuk diri nya sendiri.
"tapi kenapa dia juga masih berada
di sekolah, saat yang lain nya sudah
pada pulang? apa dia ber sekongkol
dengan doni?" batin erlita.
"hekh, ayoo kerjain, kok malah bengong."
desus karin, yang melihat erlita tidak
mengerjakan mata pelajaran nya.
"iya, bawel." gerutu erlita, dia pun pokus
mengerjakan tugas nya.
bel istirahat berbunyi.
para murid pun berhamburan keluar
kelas mereka.
"lita ayoo." ajak karin.
"bentar rin, tanggung dikit lagi."
sahut erlita.
"kamu sikh, yang lain pada nulis, kamu
malah bengong." gerutu karin.
__ADS_1
erlita pun tersenyum getir.