
setelah kepergian alvin, mereka pun
bermusyawarah untuk mencari
keberadaan erlita, karin dan suci.
"baik, kepada para siswa, kita akan
mencari mereka sekarang! kepada
para siswi, karna hari sudah mulai
gelap! bapak minta kalian untuk tetap
berada di tenda masing masing!"
jelas pak arga. para siswi pun menuruti
perkataan nya.
"kenapa di matiin sikh rin?" tanya erlita,
karna hari sudah gelap, mereka pun
mengguna kan senter hape Karin
untuk melihat jalan.
"aku gak matiin! hape nya lowbet,
jadi mati sendiri." sahut karin.
erlita pun menyala kan senter hape nya.
"guys gawat nih." kata suci.
"gawat kenapa?" tanya karin.
"aku ke belet, pengen pipis." sahut suci.
"yaelah ci, kamu gak liat apa! ini tuh
tengah hutan, mana ada toilet! mending
kamu tahan aja dulu." gerutu karin.
"aku udah berusaha untuk nahan dari
tadi, sekarang aku kebelet banget nih,
gimana dong?" rengek suci.
"ya udah, mending kamu pipis dulu
gih! dimana kek, di balik pohon kek."
kata erlita dengan enteng nya.
"wah parah kamu lit! di tengah hutan
begini kamu suruh suci untuk pipis
sembarangan! gak boleh, nanti
penunggu hutan ini marah." kata karin.
"ya mau gimana lagi! dari pada entar
suci ngompol di celana." celoteh erlita.
"udah akh! kelamaan debat, bisa bisa
aku ngompol di sini lagi." suci pun
merebut handpone erlita, bermaksud
meminjam senter hape nya, untuk
melihat jalan yang gelap menuju sebuah
pohon besar. ya karna hape suci terlebih
dulu lowbet sebelum karin.
"hape ku.." teriak erlita.
"pinjam bentar." kata suci.
setelah mendekati pohon besar,
suci menjerit lalu berlari meninggal kan
erlita dan karin. dengan segera erlita
dan karin menyusul nya.
"suci tunggu.." teriak kedua nya.
setelah cukup jauh dari tempat tadi,
suci pun menghenti kan langkah kaki
nya.
"parah kamu! kenapa kamu tadi
ninggalin kita." decah karin.
"maaf! tadi aku ketakutan, maka nya
gak sengaja ninggalin kalian." kata
suci yang engos engosan.
"balikin hape ku." erlita kembali merebut
handpone nya dari tangan suci.
"emang nya tadi kamu liat apa?"
tanya karin yang mulai penasaran.
"tadi aku lihat hantu." sahut suci.
"serius kamu? jangan nakut nakutin akh."
ucap karin.
"iya, tadi aku memang habis ngeliat
__ADS_1
hantu." suci meyakin kan.
belum ketakutan suci hilang, tiba tiba
sosok berjubah putih dan bertopeng,
berdiri tepat di sebelah erlita. dengan
segera mereka lari dari tempat itu,
kecuali erlita, yang tidak bisa lari, karna
tangan nya di tarik oleh sosok itu.
erlita merasa ada kejanggalan saat
dia menyoroti tangan sosok itu dengan
senter hape nya.
"hantu ini pakai jam tangan?" batin erlita.
sosok itu menarik paksa tangan erlita
cukup jauh dari tempat itu, hingga
ke sebuah gubuk tua di hutan itu.
sementara karin dan suci masih
berpegangan erat sambil berlari,
hingga beberapa kali mereka terjatuh.
"rin, kaya nya hantu itu gak ngikutin
kita lagi deh." ucap suci.
"ya udah, kita istirahat dulu." kata karin.
"ekh tunggu tunggu! lita mana? kok
dari tadi aku gak mendengar suara nya."
kata suci.
"lita...kamu dengar suara kita kan?"
tanya karin, yang belum menyadari
kalau dari tadi erlita memang tidak
bersama nya.
"rin, kamu cari benda apa kek di tas mu
itu, siapa tau ada benda yang bisa kita
gunakan." ucap suci.
karin pun meraba beberapa benda yang
ada di tas nya.
"ini kaya nya bentuk lilin." kata karin,
sambil terus meraba raba benda itu.
"nih! tapi se tau ku, aku gak bawa korek."
kata karin.
"kalau gak salah, aku kayak nya bawa!
ku cari dulu ya." kata suci, lalu meraba
raba isi tas nya.
"nah ini dia." sambung nya.
suci pun menyalakan lilin itu.
"tuh kan lita gak ada." kata suci,
setelah lilin itu memberi penerangan.
"kita harus balik ke tempat tadi."
desus karin. mereka pun kembali
ke tempat awal mereka terpisah dengan
erlita.
sosok itu mengikat tangan erlita
dengan sebuah tambang, lalu
mendorong paksa erlita, hingga
tersungkur di sebuah kursi yang
terbuat dari bambu.
"lepasin aku.." teriak erlita.
"apa yang kau ingin kan dari ku?aku tau,
kau itu bukan hantu." kata erlita.
sosok itu masih berdiri di hadapan
erlita, entah apa yang dia pikir kan.
"aku bilang, lepasin! orang tua ku
bisa memberi mu uang! sebut kan
berapa jumlah yang kau minta."
erlita terlihat memberi kan sebuah
penawaran. namun sosok itu
sama sekali tidak menggubris nya.
dia pun membuka jubah dan topeng
yang dia kenakan.
__ADS_1
"doni.." raut wajah erlita berubah seketika.
"don, kamu lagi nge prank aku kan?
jangan begini dong, gak lucu."
erlita yang berusaha menyembunyi kan
ketakutan nya. doni terlihat memicing
kan senyuman nya. dia pun mendekati
erlita, lalu melepaskan ikatan nya.
"sorry don, aku harus pergi." saat erlita
ingin keluar dari gubuk itu, dengan sigap
doni menahan nya.
"mau ke mana? kenapa terburu buru."
doni dengan senyum licik nya.
jantung erlita dag dig dug tidak karuan,
dia yakin, doni pasti ingin berbuat jahat
terhadap nya.
"tolong biarin aku pergi." erlita nampak
memohon.
"kau tidak perlu takut! aku tidak akan
menyakiti mu." ucap doni, seraya
mengusap lembut daun telinga erlita.
hembusan nafas erlita semakin tidak
beraturan. erlita nampak terlihat sangat
tegang dan risih melihat sikap doni
terhadap nya. tanpa di duga doni
membuka seragam sekolah nya, hingga
kini dia bertelanjang dada.
"aku mohon, tolong lepasin aku."
teriak erlita, yang menetes kan air
mata nya, karna lagi lagi doni
mencengkram tangan nya, saat erlita
berusaha kabur dari nya.
"sudah ku bilang, aku tak kan menyakiti
mu! jadi kau tidak perlu menangis."
ucap doni, seraya mendekati erlita,
lalu mencium lembut daun telinga nya.
erlita pun langsung mendorong tubuh
kekar doni, hingga dia tersungkur.
sementara alviandra, masih mencari cari
kemana pergi nya doni, karna tadi dia
sempat kehilangan jejak nya.
dia pun menggunakan handpone nya
untuk mencari di mana keberadaan doni
lewat GPS handpone nya.
"lokasi nya tidak jauh dari sini."
batin alviandra. dia pun menuruni
bukit yang terjal, hingga kaki nya
terpeleset lalu jatuh ke bawah.
"aww..." rintih alviandra, karna tangan
kiri nya terbentur batu. dia pun menoleh
ke sekeliling, pandangan nya terkunci
pada sebuah gubuk kecil, yang tidak
jauh dari sana. alviandra pun mulai
mendekati gubuk itu secara perlahan,
seraya memegangi tangan nya yang
sakit tadi.
plaakk....
satu tamparan mendarat di pipi
erlita.
"dasar, perempuan gak tau diri!"
maki doni. erlita pun menangis,
air mata nya mengalir deras.
doni pun mendorong erlita ke bangku
bambu yang ada di sana, lalu kemudian
dia menindih tubuh erlita.
bersambung....
__ADS_1
jangan lupa like dan coment ya🙏🤗