
beberapa bulan kemudian.
"pa, aku sudah menemukan siapa orang
yang telah menggelapkan uang perusahaan." ucap alvin seraya menoleh kepada bu sonya, dengan tatapan sinisnya.
pak gian hanya mengangguk kecil.
"papa juga telah menyelidikinya." ucapnya.
"memangnya siapa pi, orangnya?"
tanya bu sonya.
"itu adalah kau!" ucap pak gian seraya
menunjuknya.
"apa?" bu sonya tampak terkejut.
"mulai sekarang, enyahlah dari hidupku.
atau aku akan menjebloskan mu kekantor
polisi." sentak pak gian.
"enggak pi. ini pasti ada yang salah,
aku yakin, papi pasti salah paham."
bu sonya berusaha membela diri.
"selama ini aku selalu memaklumi
kesalahanmu! tapi sekarang tidak lagi."
tegas pak gian."aku tahu. kalau kamu
sering merayu alvin, dan menyusup
kedalam kamarnya."
"pasti alvin yang mengarang cerita itu
kan pi? dia pasti sakit hati, karna mami
menolaknya. asal papi tahu, justru alvin
yang sering menggoda mami."
ucapnya berbohong.
__ADS_1
"cukup! jangan membodohiku lagi. aku punya semua buktinya." ucap pak gian.
"apa?" bu sonya terkejut tak percaya.
"ya. lebih baik kamu cepat pergi! sebelum
aku berubah pikiran untuk menjebloskanmu ke kantor polisi." ancamnya.
bu sonya mengepalkan tangannya,
berusaha menahan amarahnya.
"aku tidak ingin dipenjara." gumam bu sonya, akhirnya dia pun pergi dari rumah itu walau dengan sangat terpaksa.
**
beberapa bulan kemudian. alvin membantu pak gian untuk menstabilkan kembali keuangan perusahaan, hingga dia memutuskan untuk kembali ke negara asalnya.
***
"perutku..." pekik erlita menahan kesakitan.
alviandra terlihat sangat panik, dia mengetuk pintu kamar bu dita untuk memberi tahukan keadaan erlita. mereka pun membawa erlita kerumah sakit untuk persalinan. tak lupa alviandra pun menghubungi bu indri dan memberitahunya sehingga dia menyusul.
"oaaa...oaaa..."
"selamat ya pak, bayinya perempuan." ucap dokter sebelum pergi.
**
semakin hari erlita semakin meragukan suaminya. dia pun berniat untuk membawanya pergi ketempat dimana waktu itu erlita dan alvin jadian.
"aku harus siap. untuk menerima kenyataan, kalau seandainya nanti terbukti kalau orang yang telah menikahiku bukanlah alvin." batinnya. erlita berusaha mempersiapkan diri. dia pun menghampiri suaminya.
"alvin..." panggilnya.
alviandra menoleh. "iya sayang?"
"aku ingin mengajakmu, pergi ketempat dimana yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya." ucap erlita.
"tidak sekarang sayang." ucap lembut alviandra seraya mengusap pucuk kepalanya.
"aku ingin sekarang!" pintanya.
alviandra tertegun sejenak. "baiklah."
"aku akan bersiap-siap sekarang." ucapnya.
*🌺 danau 🌺*
"ini tempat yang kamu katakan?" tanya alviandra.
__ADS_1
"iya. tempatnya bagus ya?" tanya erlita.
"hmm, iya." jawab alviandra.
"menurutmu bagai mana dengan tempat ini?" tanya erlita.
"tempatnya bagus, udaranya sejuk. tapi sayang, tempat ini sepertinya belum begitu familiar." ucapnya.
mendengar ucapan alviandra, erlita tersenyum kecil.
"dari mana kamu tahu tempat ini?" tanya alviandra, yang sontak membuat erlita sangat terkejut.
erlita menatap tajam wajah laki-laki yang ada di hadapannya, matanya kini mulai berkaca-kaca.
"apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya erlita, dengan tubuh yang gemetaran dan berusaha menahan air matanya.
"ya, apa yang ingin kamu tanyakan?" alviandra mendekati erlita lalu mengusap lembut pipinya.
"mengapa kalian melakukan ini kepadaku?" tanya erlita.
"apa maksudmu?" alviandra masih belum sadar, kalau erlita telah menjebaknya.
"berhentilah bersandiwara!" sentaknya seraya menepis tangan alviandra.
"apa yang sebenarnya terjadi sama kamu? kenapa tiba-tiba kamu seperti ini?" tanyanya yang mulai kebingungan karena belum mengerti arah pembicaraan erlita.
erlita tertegun, mengingat kembali akan semua kenangannya bersama alviandra ketika dia masih mengira kalau alviandra itu adalah alvin. betapa buruknya perlakuan alviandra terhadap dirinya. dan dia mulai sadar! itulah alasan kenapa selama lima bulan menikah, alviandra baru menyentuhnya. tampa sadar air matanya mengalir de di pelupuk mata. alviandra mengangkat tangan dan ingin menyeka air matanya, namun dengan cepat erlita menepis kasar tangannya.
"jangan sentuh aku!" sentaknya. "aku jijik sama kamu!" ucapnya.
"apa kesalahanku? kamu mengajakku ke tempat ini, dan aku menurutinya. lalu kenapa sekarang kamu tiba-tiba marah gak jelas?" alviandra menatap lekat wajahnya.
"cukup alviandra!" sentaknya. "aku sudah tahu semuanya, kamu tidak bisa terus-terusan membodohiku."
deg...
alviandra sangat terkejut.
"tega ya kalian membohongi aku seperti ini? dimana hati nurani kalian? tega-teganya kalian mempermainkan kehidupanku." air mata erlita kini mengalir deras.
"aku minta maaf." ucap alviandra yang terdengar tulus.
"maaf? setelah apa yang sudah kalian lakuin, dengan semudah itu kamu meminta maaf?" erlita menatap dalam wajah alviandra yang tampak penuh dengan penyesalan.
"mulai detik ini, jangan pernah temui aku lagi." tegasnya. erlita pun hendak pergi, namun dengan cepat alviandra menarik tangannya lalu memeluknya.
"aku tahu, selama ini aku sudah bersalah karena telah membohongimu. tapi percayalah! kalau perasaanku tulus padamu, aku mencintaimu." ucapnya.
erlita mendorong tubuh alviandra dari pelukannya. "jangan pernah menyebut kata cinta! karena aku yakin, kamu sendiri tidak tahu arti dari cinta yang sesungguhnya." ucap erlita, dia pun akhirnya pergi, yang dibiarkan oleh alviandra. alviandra tahu, ini gak akan mudah bagi erlita untuk bisa menerima semuanya.
"aku akan membuktikan padamu! kalau aku benar-benar tulus mencintaimu." gumam alviandra seraya menatap kepergiannya.
__ADS_1