Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 101: Pemimpin/Pimpinan?


__ADS_3

Siapa yang tidak gemetar ketika berhadapan dengan anak buah Gang Knife? Kelompok bringas yang terkenal di urutan nomor dua itu selalu tidak mengenal kata ampun hingga menyulitkan orang-orang yang tidak tahu apapun. Benar-benar merepotkan pihak kepolisian, tetapi siapapun yang diutus untuk memberantas justru berakhir kehilangan nyawa.


Namun nyatanya sikap Tuan Anderson masih tenang walau hati merasa tak tenang. Bukan karena takut, ia hanya mencemaskan istrinya yang mulai menunjukkan ekspresi tidak nyaman. Bibir boleh saja diam, tetapi tidak dengan tatapan mata yang terus mengedarkan pandangan waspada.


Diusapnya kepala sang istri, "Calm down, Nara. Semua akan baik, kamu percaya aku 'kan?"


"Kamu ini, Pa. Mama selalu percaya sepenuh hati. Harus ya ditanyakan lagi?" Mama Quinara tengah panik hingga memberikan pertanyaan balik. Kebiasaan berbicara secara ketus di saat kondisi genting dengan emosi yang terombang-ambing.


Suara panggilan telepon yang masih tersambung beralih ke nomor lain. Terdengar sapaan dari seberang dengan suara berat setengah serak tertahan. Entah apa yang dilakukan orang itu? Ia hanya tahu dimanapun pemimpin Gang Knife berada, pasti tengah duduk menikmati tuangan wine dari gadis cantik.


"Singkirkan anak buahmu dari jalanku!" titah Papa Anderson tanpa basa-basi, membuat orang di seberang melemparkan gelas hingga menimbulkan suara bising.


Pasti tidak terima mendapatkan gangguan dari orang asing. Apalagi kesenangannya di renggut tanpa permisi. Tabiat buruk yang selalu mengedepankan temperamen membuat orang di seberang telepon mudja melakukan kesalahan dalam memutuskan sebuah tindakan. Kurang lebih itulah yang ia simpulkan.


Papa Anderson menjauhkan ponsel dari telinga sebentar untuk menyelamatkan diri dari makian yang terdengar seperti dengung nyamuk, lalu kembali menempelkan benda mati itu ke telinga. "Sudah? Lakukan perintahku atau hitungan terima akibatnya."


Mama Quinara bingung dengan obrolan yang dilakukan suaminya. Siapa yang diancam dan kenapa? Mereka terjebak dan di kepung orang-orang aneh, tetapi sang suami justru sibuk melakukan panggilan. Aneh 'kan? Hanya saja mencoba untuk memahami dan ia merasa semua saling berhubungan.

__ADS_1


Ancaman yang ternyata bukan hanya bualan. Sepertinya penolakan telah dipastikan, tiba-tiba saja dari arah depan dengan jarak yang cukup jauh terdengar ledakan. Suaranya cukup mengejutkan hingga membubarkan para manusia aneh yang berusaha menyelamatkan diri.


Namun, seulas senyum tipis yang hampir memudar terlihat begitu jelas dan tertangkap basah tatapan mata sang istri. Wanita itu seketika tersadar akan suatu kebenaran yang selama ini ia pikir sudah terselesaikan. Kenangan masa muda kembali hadir merenggut ketenangan yang tersisa.


Apakah suaminya masih menjadi seorang pemimpin? Jika iya, maka itu berarti selama ini telah mengingkari janji pernikahan. Apapun itu, ia sadar keluarga membutuhkan dukungan orang-orang yang bisa diandalkan. Dulu masih berpikir naif, tetapi hari ini matanya terbuka lebar.


Tidak masalah untuk menjadi seorang pemimpin. Selama tidak menomorduakan keluarga. Mama Quinara sibuk memikirkan ini dan itu hingga lupa situasi masih di tengah ketegangan. Pikiran yang kembali ke masa lalu membuatnya kehilangan kesadaran di dunia yang menjadi kenangan masa kini.


"Pak, Jalan!" Papa Anderson memberi instruksi agar pak supir melanjutkan perjalanan, lalu ia beralih menatap istrinya yang sejak lima belas menit terdiam dengan ekspresi wajah ambigu. "Nara, are you okay?"


Tidak ada jawaban. Sontak saja ia mengusap wajah wanitanya dengan tatapan lembut berselimut kekhawatiran. Tatapan mata saling beradu, terdiam semakin tenggelam dalam angan. Pertanyaan bertemu ketegasan menyingkirkan keraguan hati. Sadar akan kesalahan yang termaafkan.


Bukannya marah atau mengajukan pertanyaan. Quinara langsung menghamburkan diri menenggelamkan dalam dekapan. Sudah jelas istrinya menerima penjelasan yang dirinya sampaikan. Lega dengan keikhlasan seorang istri akan dunia lain yang selama ini memberikan dukungan disetiap jejak kehidupannya.


Alih-alih menikmati pelukan yang hangat. Pria itu menghujani kecupan cinta menyampaikan rasa syukur yang memenuhi relung hatinya. "Tetaplah bersamaku karena kamu duniaku. Semua orang boleh berpaling, tetapi selama kamu di sisiku maka tidak ada yang bisa menghancurkan hati ini."


Sementara di belahan bumi lain terjadi kegemparan yang melibatkan pihak kepolisian. Sudah hampir setengah jam menjadi tahanan, tetapi tidak ada yang bisa menebusnya. Bukan tidak ada, hanya saja memang ingin berdiam diri merenung segala kemungkinan.

__ADS_1


Ketika hiruk-pikuk dunia terus sibuk menyiarkan ketidakbenaran. Bagaimana ia akan menemukan titik terang? Apalah daya yang bisa dia lakukan? Ide yang datang memberikan jawaban, maka dari itu. Kini tempatnya adalah di balik jeruji besi dengan tuduhan kasus perusakan rumah warga.


Tubuh lelah berbaring di atas bangku panjang yang tergeletak di sudut ruangan dengan mata terpejam. Hening tanpa teman seakan seluruh kedamaian hanya miliknya seorang. Akan tetapi semua itu beralih menjadi kebisingan karena suara permohonan.


"Pak, saya mohon tolong bebaskan pria itu. Saya akan menjaminnya," pinta seseorang dengan tangkupan tangan di depan dada, tetapi pihak kepolisian enggan mendengarkan. "Pak, please biarkan saya membawanya kembali ke Indonesia."


Bahasa asing yang fasih meski terdengar seperti angin lalu untuk para petugas hingga suara lembut datang menyapa gendang telinga. Orang-orang yang ada di ruangan pemerintah seperti terserang virus, dimana mereka yang mengalihkan perhatian langsung terpesona dengan pemandangan yang benar-benar menggoda.


Virus jatuh hati pada pandangan pertama. Wajahnya cantik putih mulus, rambut lurus warna hitam legam, bibir tipis berlapis warna peach natural dan warna mata hazelnut. Perpaduan sempurna dengan balutan gaun hitam yang memiliki belahan dada rendah.


"Haloo?" Wanita itu mengibaskan tangan di depan Pimpinan Opsir yang bernama Louis. "Mr. Louis, perkenalkan nama ku Selena dan ini jaminan untuk pria yang Anda tahan. Silahkan diterima sebagai gantinya datanglah ke Club D'Lux Party. Saya yang traktir."


Tercengang dengan pernyataan wanita itu, membuat Pimpinan Opsir langsung membungkukkan setengah badan. "Maafkan saya yang tidak mengenali wanita hebat seperti Anda, Miss Selena."


"It's ok, manusia terbiasa lupa status. Bisa lepaskan priaku, sekarang!" Suara lembut penuh penekanan menjelaskan ia tak ingin mendengar bantahan.


Suara derap langkah kaki yang mendekati pagar jeruji besi, membuat pria yang masih enggan diusik beranjak dari posisi nyamannya. Lalu membuka mata yang terpejam, di depan pimpinan opsir siap untuk membebaskan. Kunci ditangan satu dan gembok di tangan lain. Benar-benar merepotkan, tetapi dibiarkan.

__ADS_1


"Hey, Kau!" Tangannya terangkat menunjuk Selena, dimana wanita yang ia tunjuk justru menyambut dengan senyuman menawan. Sebaik apapun berusaha, tidak akan tergoda. "Bawa kembali surat jaminan itu! Pengacara ku bisa menangani tanpa belas kasihmu."


__ADS_2