
"Ok, siapkan tim nya dan kita bisa meeting. Bagaimana jika besok siang?"
Shena bingung. Kenapa tiba-tiba Danish menanyakan perihal proyek. Bukankah sudah jelas tidak memberikan izin padanya untuk melanjutkan proyek itu. Lalu, kenapa memerlukan pembentukan team dan juga membahas meeting? Heran.
Tatapan mata Shena yang kebingungan, membuat Dan sadar akan sesuatu. Jika angan tentang proyek akan segera menjadi kenyataan dengan dia sebagai pemberi modal. Ia lupa mengatakan tentang keputusan yang telah diambilnya. Saking antusiasnya.
"SheZa, aku ingin mengajakmu bekerjasama. Proyek yang kamu impikan akan tetap berjalan sesuai harapanmu. Soal tempat dan modal, semua sudah diatur. Jadi kamu bisa mencari team untuk menjalankan proyek ini, atau aku akan mengutus beberapa karyawan dari kantor pusat untuk membantumu."
"Tenang saja, demi kebaikan bersama. Aku telah mengalihkan sertifikat tanah untuk proyek atas namamu dan jangan menolak karena ini hadiah pernikahan kita." Sambung Danish menjelaskan hasil dari keputusan final setelah memikirkan baik buruknya setiap langkah yang dia ambil.
Shena tak percaya dengan apa yang ia dengar. Suaminya telah melakukan begitu banyak hal tanpa memikirkan kerugian yang mungkin bisa menjadi masalah di kemudian hari. Padahal ia tak berharap sebanyak itu. Sungguh hatinya terharu.
''Mas, kenapa melakukan semua itu?" tanya Shena lirih, membuat Danish tersenyum tipis.
"SheZa, keputusan ku bukan sekedar tanggung jawab atas tindakan yang sudah kuperbuat. Kamu itu istriku, dan proyek new generation adalah impian yang akan membuat seluruh keluarga bangga. Sebagai seorang suami, tentu aku mau memiliki istri yang bisa berdiri dengan kakinya sendiri."
Walau Shena baru akan menginjakkan kaki ke dunia bisnis. Mana mungkin dibiarkan berjalan tanpa arah, lagipula gadis itu sudah memiliki rancangan masa depan. Jadi hanya membutuhkan dukungan serta arahan yang tepat.
Dunia bisnis bukan untuk mainan. Sekali orang terjun tanpa niat dan tidak siap mental. Bisa dipastikan akan langsung terpuruk dengan kekejaman para pesaing bisnis yang lain. Tidak memungkiri permainan kotor dari balik layar juga turut andil.
"InsyaAllah, Aku siap berjuang. Terima kasih, Mas." Shena bersyukur memiliki suami yang sangat pengertian, jodoh yang Allah kirim bisa membimbing dan mengajarkan untuk lebih dewasa dan bertanggung jawab.
__ADS_1
Obrolan itu berlanjut hingga penentuan orang-orang yang akan menjadi team lapangan dan juga team eksekusi marketing. Shena ingin melibatkan banyak orang yang ia kenal, tetapi Danish memberikan saran untuk membuat team inti terlebih dahulu.
Keduanya tidak menyadari, perjalanan itu terasa begitu singkat. Apalagi setelah mobil memasuki jalan tengan kebun mawar. Akhirnya sampai rumah. Shena bergegas masuk untuk membersihkan diri, sedangkan Danish memilih untuk memeriksa tumbuhan yang selalu menjadi pengalihan emosinya.
Ia sengaja membuat kebun mawar. Selain sebagai hobby, hal itu dijadikan sebagai tempat refresing yang bisa dilakukan sepanjang waktu. Tidak hanya akan mengubah mood menjadi baik, tetapi aroma mawar yang menyebar bisa dianggap sebagai ciri khas keluarga Anderson.
Sejenak melupakan seluruh beban yang kini mengusik pikirannya. Ada sesuatu yang tidak bisa dijelaskan. Kebahagiaan yang baru ia genggam. Apakah semua itu akan berlangsung lama? Di luar sana, Tiara pasti tengah mencoba untuk melakukan sesuatu agar bisa kembali padanya.
Bukan kepedean, tetapi ia tahu bagaimana sifat keras kepala seorang Tiara Fernando. Satu peristiwa kembali datang menari di pelupuk mata. Dulu ketika mereka masih status pacaran, tiba-tiba ada seorang mahasiswi jurusan seni datang menyatakan cinta.
Gadis polos itu harus mendapatkan hukuman yang cukup ekstrim dari Tiara karena berani mencintainya. Sesak di dada bercampur pilu di hati. Atas insiden itu, Mama Quinara mengeluarkan banyak biaya agar si gadis polos bisa mendapatkan perawatan yang terbaik.
Tiara Fernando. Siapapun yang berani mendekati Danish, maka harus siap mendapatkan hadiah terbaik ala ratu kampus. Termasuk si gadis polos yang mengalami cedera tangan hingga menjalani tiga kali operasi agar tulang siku dan jemari tangan kanannya kembali normal.
Ternyata hubungan keduanya selama ini hanya toxic. Tidak pernah berkembang, selain semakin terkekang. Namun, ketika hubungan dengan perbedaan negara karena pekerjaan. Kehidupan mulai kembali normal. Seakan masalah hidup menjauh untuk selamanya.
Alih-alih merasa lebih baik. Pria itu justru tenggelam dalam lamunannya. Tatapan mata lurus, tetapi tak ada kehidupan yang nyata. Hingga sebuah tepukan mengagetkan, barulah ia kembali ke dunia nyata.
"Mas, kenapa berdiri disini? Lihat sebentar lagi magrib." Shena mengangkat tangan menunjuk langit yang mulai gelap walau berhias sinar senja, "Ayo, masuk! Bersihkan diri, setelah itu kita makan bersama."
Ditatapnya sang istri dengan tatapan serius tanpa berkedip. Wajah cantik, imut menggemaskan. Usia yang bertaut cukup jauh, menjelaskan perbedaan keduanya, tapi selama beberapa hari menjadi suami Shena. Tidak sekalipun, gadis itu bersikap posesif seperti Tiara.
__ADS_1
Shena menjentikkan jari dengan alis terangkat membalas tatapan suaminya. "Mas, apa ada yang ingin dibicarakan?"
"Apa kamu tidak ingin tahu tentang Tiara?" tanya balik Dan membuat Shena menahan nafasnya. "Aku tidak bermaksud untuk melukaimu, tapi ada yang harus kamu tahu karena ini demi kebaikan kita berdua."
Nampak kebingungan dengan dilema yang ntah seberapa besar. Tatapan mata yang mencari rumah untuk berpulang. Itu yang tercetak dari netra suaminya. Pasti ada hal penting yang tidak bisa diabaikan. Ingin menolak dan berkata, tidak perlu tahu akan masa lalu, tetapi sepertinya ia harus tahu.
"Kita bisa lanjutkan perbincangan nanti setelah makan malam. Sekarang, lebih baik masuk." tegas Shena tak ingin berlarut berdiri diluar di waktu yang orang bilang pamali.
Benar yang dikatakan istrinya. Sebentar lagi magrib, jadi tidak baik diluar. Danish menganggukkan kepala, "Ayo, kita masuk bersama."
Satu jam kemudian. Setelah selesai membersihkan diri dan juga menunaikan kewajiban sebagai muslim. Danish turun ke lantai bawah. Ketika sibuk mengedarkan pandangan ke arah ruang tamu. Shena justru baru keluar dari dapur dengan membawa sepiring bakwan jagung yang masih panas hingga mengepulkan asap putih.
"Apa kamu masak lagi?" Danish mengambil alih piring dari tangan istrinya, bukannya melarang. Akan tetapi dirumah sudah ada dua pelayan wanita yang bisa membantu pekerjaan rumah.
Shena hanya tersenyum menanggapi sikap sang suami yang terlalu berlebihan. Kebanyakan pria ketika sudah menikah, pasti ingin merasakan masakan hasil karya istrinya. Namun, tidak dengan pria satu itu. Beberapa kali terdengar larangan, walau tidak bermaksud melarangnya untuk terjun ke dapur.
Selesai membawa piring terakhir yang berisi tumis udang saus tiram. Shena menarik kursinya, lalu membalikkan piring. "Mas, mau nasi seberapa?"
"Satu centong saja," jawab pria itu sedikit datar, membuat Shena hanya pasrah agar tidak memulai perdebatan yang tidak seharusnya.
Keduanya makan dalam diam. Sesekali Shena melirik ke arah suaminya yang mendadak menjadi pendiam. Apa yang terjadi? Apakah pria itu marah hanya karena dia membuat makan malam atau ada hal lain yang mengusik pikirannya.
__ADS_1
Ditengah acara makan bersama, seorang pelayan yang baru bekerja tiga hari datang menyambangi kedua majikannya. "Tuan, Nona. Bibi mau izin untuk pulang kampung. Apakah bisa? Anak bibi yang kecil sakit."