Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 132: Mantan Kakak Beradik


__ADS_3

Setelah berhasil melumpuhkan Danish dengan begitu mudahnya. Fatih mengikat pria yang kini menjadi mantan kakaknya itu berdiri di tiang rumah tengah ruangan. Mirip seperti patung siap di korbankan. Tatapan matanya sibuk mengamati wajah yang selama ini menjadi pusat kebencian di dalam hati.


Jangan tanya soal tampan karena dia dan Dan memiliki perbedaan yang begitu mencolok. Mantan kakaknya memang memiliki paras keturunan bule, sedangkan ia dominan Jawa. Kontras dengan perbedaan yang berasal dari garis keturunan. Sebenarnya bukan masalah tampang yang diutamakan.


Ia sangat mengenal Shena. Pujaan hatinya itu hanya setia dengan keyakinan hati, bukan mengikuti keindahan yang ada di dunia. Andaikan berencana merusak wajah Danish menjadi pangeran buruk rupa. Bisa dipastikan Shena tidak berpaling ke pria lain.


"Lelah berlari kesana kemari, apalagi berujung pertemuan seperti ini. Apa kakakku yang malang tidak pernah belajar dari masa lalu? Masuk ke wilayahku tanpa permisi dengan niat buruk." Diangkatnya ember yang berisi air es, lalu diayunkan sekali gerakan hingga menyiram mengejutkan Dan yang langsung sadarkan diri.


Tergagap dengan guyuran air sensasi ngilu menggigil, "Kau ...,"


"Gak usah debat, Ka. Aku capek tahu, kita kaya tom and jerry main petak umpet. Gini aja, katakan dimana Shena Ku. Sebagai gantinya aku kembalikan properti milik keluarga Anderson yang masih ada bersamaku. Deal?" Fatih tanpa sungkan menawarkan perjanjian yang tidak masuk akal.


Properti yang dijadikan bayaran atas penebusan Shena setahun silam adalah hak Fatih dan bukan amal. Pemuda satu itu tidak tahu dan tidak sadar bahwa keluarganya hanya melakukan yang dianggap benar. Akan tetapi situasi kali ini justru berbanding terbalik. Jangankan satu properti, seluruh properti bisa dilepaskan untuk melindungi setiap anggota keluarga.

__ADS_1


Senyum meremehkan tersungging menghiasi wajah Dan. Dibiarkannya sang mantan adik untuk berbicara sesuka hati. Terdengar seperti bualan manis yang banyak mengeluarkan buih, tetapi hambar rasanya. Benar-benar mengherankan karena logika tidak dipakai lagi. Fatih terus berusaha melakukan negosiasi tanpa jawaban darinya.


Lima belas menit telah berlalu, Fatih menghabiskan suara untuk menyia-nyiakan waktu. Akan tetapi Danish enggan menanggapi, pria yang kini menjadi tahanan itu sibuk memejamkan mata walau tubuhnya mulai merasa kedinginan akibat air es yang membasahi seluruh pakaiannya. Rasa dingin yang bisa ditahan.


Keheningan melanda bersambut semilir angin dari berbagai arah. Mata yang terpejam semakin menajamkan indra pendengarnya, "Apakah di dalam otakmu hanya ada Shena? Jika kamu mencintai istriku, itu hakmu, tapi perasaan di hatimu disebut obsesi. Apa harus kuserahkan cinta keluarga untuk monster sepertimu? Jangan harap."


Kali ini bukan hanya geram karena setiap kata yang Fatih ucapkan, tetapi penghinaan atas kasih sayang tulus kedua orang tuanya yang rela berbagi pelukan bahkan waktu serta pengorbanan hanya untuk menebus kesalahan mereka. Padahal jika diurut, ayah Fatih yang memiliki salah, bukan papa nya.


"Apa permainanmu kurang epic? Coba lihat hasil dari obsesimu itu," Kelopak mata terbuka mengerahkan tatapan tajam membalas setiap pernyataan cinta seorang pria tidak waras. "Satu permainan mengakhiri empat hubungan dalam semalam. Apakah sungguh-sungguh kamu mencintai Shena atau?"


"Whatever, Aku juga gak butuh bantuan suami tak berguna sepertimu. Hahaha bagaimana Shena tetap mengingatmu? Ck, hampir saja aku kehilangan kewarasan karena bosan mendengar nama yang paling kubenci di setiap malam selama setahun ini.


"Jangan salah paham, Aku tidak peduli dengan namamu, tapi menikmati malam bersama dengan istri kakakku sendiri. Amazing ...," Fatih sengaja memanasi hati Danish agar mau buka suara tentang keberadaan Shena.

__ADS_1


Seperti cahaya yang tidak bisa digenggam, begitu juga dengan kebenaran di dalam hati Danish. Pria itu justru tersenyum tipis semakin mengabaikan Fatih. Biarlah suara penghinaan itu menjadi pengingat agar tidak ada kata ampun lagi setelah semua berakhir. Dunia memang luas, tetapi tidak dengan emosi yang tergenggam di dalam lubuk paling dalam.


Usaha Fatih semakin gencar bahkan ia tak segan-degan menyiramkan air es lagi dan lagi hingga Danish selalu dikuasai kesadaran untuk mengendalikan dirinya sendiri. Jika bukan karena air dingin itu, maka bisa dipastikan terlelap akibat ceramah si mantan adik angkat.


Sementara di luar sana, banyak mata yang terus mengawasi rumah terbengkalai di depan sana. Rerumputan hijau bercampur dengan lumut yang begitu jelas menghiasi sebagian dinding. Entah berapa lama rumah itu ditinggalkan. Seperti sudah puluhan tahun saja, mereka tidak tahu jika begitu dibiarkan kosong. Warga sekitar menjauhi rumah itu karena dianggap sebagai pembawa petaka.


"Posisi target terkunci." lapor seseorang melalui earphones dengan tatapan mata masuk fokus meneropong ke dalam rumah melalui lubang kaca yang ada di jendela.


.


.


.

__ADS_1




__ADS_2