Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 78: Perumahan Sriwijaya


__ADS_3

Untuk pertama kalinya, hati merasa bersalah. Bukan bermaksud untuk membentak, terlebih situasi semakin tidak kondusif. Jika terburu-buru pun tidak akan mengubah keadaan yang ada. Apalagi perumahan Sriwijaya cukup menjadi penjara nyata.


Di tengah kepanikan yang membelenggu hati, tiba-tiba sebuah mobil datang melewati motor mereka. Namun, entah kenapa mobil itu berhenti, lalu kaca mobil bagian belakang terbuka secara perlahan. Wajah yang familiar menyapa Nai dengan seulas senyuman.


"Nak, pulanglah! Papa akan bereskan semuanya."


Suara tegas dengan tatapan mata tenang kembali beralih menatap ke depan. Tanpa menunggu jawaban, mobil kembali melaju memasuki gerbang yang terbuka secara otomatis. Sementara Naina tertegun karena melihat Papa Anderson berada di tempat yang sama.


Mobil yang semakin menjauh seketika menyadarkan gadis itu kembali ke dalam kenyataan, tetapi sudah terlambat untuk menyusul. "Apa Papa Anderson akan menyelamatkan Shena?"


Pertanyaan itu lebih tepat tengah mempertanyakan keyakinannya yang mulai goyah. Sadar, atau tidak. Selain Papa Anderson, tidak ada yang bisa menghentikan tindakan Fatih. Ingin sekali membantu melakukan sesuatu, tapi apa yang bisa dilakukannya? Bingung dengan keadaan yang ada.

__ADS_1


Sementara pria berkacamata merasa lega karena ia tahu benar seperti apa keganasan seorang Tuan Anderson. Pria yang sudah menapaki dunia bisnis jatuh bangun dengan prinsipnya yang tegas tanpa pandang bulu. Termasuk ia yang harus mengakui kekalahannya.


Mau, tak mau tugasnya kali ini mengantarkan Naina kembali ke kediaman Anderson. Apalagi hari sudah mulai gelap. Meski awalnya menolak, tetapi setelah diberikan pengertian. Gadis itu mau menurut. Keduanya meninggalkan pintu gerbang perumahan Sriwijaya, sedangkan Papa Anderson baru keluar dari mobilnya bersama seseorang.


Langkah kaki mulai menyusuri lobi dari salah satu gedung pencakar langit. Seperti informasi yang di laporkan sang anak buah bahwa Fatih memiliki flat nomor tiga dengan biaya pemasukan sudah lima puluh persen di bayar lunas. Entah uang dari mana, tetapi mengingat apa saja yang dikerjakan sang anak angkat. Ia tahu darimana aliran dana berasal.


"Tuan, ini kunci kamarnya." Seorang manager dari pengelola gedung yang sudah menunggu di depan lift kaca bergegas menyerahkan card duplikat apartemen milik Fatih.


Bukan sembarang memberikan begitu saja. Manager bisa menyerahkan duplikat kunci karena apartemen itu sudah mendapatkan pembayaran lunas melalui rekening Tuan Anderson. Meski harus merogoh kocek yang cukup untuk membeli satu mobil baru. Tetap saja dilakukan tanpa memberikan keluhan.


Pak Manager membungkukkan setengah badan memberi penghormatan hingga Tuan Anderson masuk ke dalam lift, lalu pintu tersebut menutup. Terlihat dari angka menunjukkan lantai dua dari teratas. Apartemen yang memiliki view di setiap flatnya dengan kolam renang pribadi.

__ADS_1


"Kehidupan tiga keluarga dengan banyak kepala akan dipertaruhkan. Keputusan ada di tanganmu. Membantunya atau menyelamatkan semua orang," Card kunci duplikat diserahkan pada orang yang bersamanya, "Jika keputusanmu merugikan banyak pihak. Jangan salahkan aku untuk mengakhiri dengan caraku. Ku harap sampai disini paham."


Bukan hanya paham, tetapi sangat mengerti. Jika kenyataannya kehidupan mengubah arah kehidupan. Ia hanya datang untuk meluruskan, bukan berniat menghancurkan. Bagaimanapun, posisi tak akan mengubah kenyataan yang ada.


Semua yang dikatakan Tuan Anderson benar adanya. Hanya karena Fatih, maka banyak orang yang akan terluka dan menderita. Obsesi cinta yang bersatu dengan balas dendam. Siapa yang akan tunduk dalam hal itu? Tentu hanya keras kepala yang ada.


Pintu lift terbuka, langkah kaki keduanya berjalan menyusuri lorong yang terlihat begitu sepi senyap. Hanya membutuhkan beberapa langkah hingga sampai di depan flat apartment yang menjadi milik Fatih. Tanpa basa-basi, card digeserkan ke lubang di papan panel yang ada disisi pintu.


Tuan Anderson mendorong pintu secara perlahan. Lalu mempersilahkan orang yang berhak untuk menyelesaikan masalah kali ini untuk masuk terlebih dahulu, kemudian barulah ia menyusul. Aroma wangi ruangan menghantarkan ketenangan yang memenuhi rongga dada. Namun, pandangan mata tetap menelusuri seluruh sudut ruangan.


Setelah memeriksa, ternyata hanya ada Shena di dalam kamar tersebut, sedangkan Fatih tidak berada di tempat yang sama. Kemana pemuda itu pergi? Padahal mereka tidak berpapasan di bawah sana. Jadi bagaimana bisa kecolongan. Tanpa berpikir lebih lama, Tuan Anderson memeriksa keadaan Shena yang masih dalam pengaruh obat bius.

__ADS_1


"Tuan, ada pesan untuk Anda!" seru orang yang bersama pria itu seraya menyerahkan noted kecil yang tertempel di atas meja rias.


Note diterima, begitu membacanya. Tak elak mengepalkan tangan memendam emosinya. Catatan yang tertulis benar-benar merisaukan keadaan yang ada. "Anak kurang ajar!"


__ADS_2