
Party? Pasti menyenangkan dan bisa menghibur hati yang patah, tapi party tidak akan membawa sang pujaan kembali pada kehidupannya. Sekarang yang ia perlukan hanya taktik, bukan party menikmati wine dan bergoyang di bawah lampu disco. Hanya saja, bagaimana cara merebut gadis impian dari penjara nyata?
Dimainkannya botol yang ia genggam. Berpikir lebih dalam sembari bersiul, hingga sebuah ide melintas. Semua obrolan dari para teman-temannya tak dipedulikan. Kini, ia harus berperang. Jika mengambil cara kasar, tentu tidak ada hati yang akan mau bersamanya.
"Guy's, gue cabut." Ucapnya berpamitan, lalu beranjak dari tempat duduknya, tak lupa menyambar jaket kulit yang tergeletak di lantai. "Have fun buat party kalian. Bye."
"Fatih! Loe gak mau ikut party? Banyak cewek bening loh, Bro." Seru salah satu kawan yang menyetujui party untuk malam ini, tetapi Fatih hanya melambaikan tangan dan tetap berjalan meninggalkan markasnya.
Pemuda itu bergegas meninggalkan markas dengan kendaraannya yang mewah. Motor sport hadiah ulang tahun beberapa bulan yang lalu. Jika dilihat dari ujung kepala hingga kaki. Tidak seorangpun akan menyangka, anak satu itu hanyalah anak angkat keluarga kaya.
Apa arti balas budi? Bukankah sadar akan statusnya? Namun, Fatih tidak. Pemuda itu tahu harus bersikap bagaimana. Bukannya tidak ingin balas budi. Hanya saja, kehidupannya berubah juga disebabkan oleh keluarga Danish. Keluarga yang memberikan kemewahan, tetapi mengambil kebahagiaannya.
__ADS_1
Di bawah rintik hujan, tatapan matanya menjurus ke depan. Sepoi angin yang menyandarkan ingatannya akan masa lalu. Kenangan beberapa tahun yang lalu, kembali menyapa mengumandangkan genderang perang. Andai semua yang terjadi tidak di depan mata, mungkin hatinya tidak menyimpan dendam.
Beberapa tahun yang lalu, ditengah malam yang pekat dengan suara guntur yang menggelegar. Suara sirine polisi terdengar begitu menyeramkan, bercampur suara hiruk pikuk para warga sekitar. Malam yang panjang dengan penghakiman yang menyakitkan.
Diantara kerumunan semua orang yang berdiri menatap rumahnya dengan hina dan tatapan mata jijik. Tatapan itu, seketika membekas di hati. Tidak tahu apa yang terjadi hingga seorang polisi datang menyapa, lalu bertanya keberadaan sang bunda.
Ia pikir, semua hanya kesalahpahaman, tetapi mimpi buruk baru dimulai. Sebuah kebenaran yang menyakiti hati dan memeluknya dalam sayatan luka. Satu pertanyaan yang melintas di dalam pikirannya. Siapa yang menjadi penyebab atas rasa sakit yang ia nikmati?
Tidak akan ada yang menyangka. Jika pria itu yang menjadi kehancuran keluarganya. Itu yang ada dipikiran Fatih, namun pemuda itu tidak tahu kebenaran dibalik kebenaran yang sejati. Dimana setiap kisah pasti memiliki dua sisi yang berbeda. Kesalahan manusia, bukan karena mengambil kesimpulan secara sepihak.
Melainkan tidak mau mencari tahu kebenaran yang sebenarnya masih baru setengah saja, sedangkan Tuan Anderson sendiri merasa memiliki tanggung jawab untuk membesarkan Fatih sebagai putranya sendiri. Dua kehidupan dengan tujuan berbeda karena bagi Fatih hanya ada misi balas dendam. Alasannya cukup kuat dan tidak akan tergoyahkan.
Perjalanan yang singkat, membawa Fatih kembali pada dunia nyata. Dimana pintu gerbang nan tinggi menyambut kedatangannya. Namun, wajah familiar terlihat menatapnya dengan tatapan cemas dan wajah yang tegang. Kenapa gadis itu, ada didepan rumahnya?
Sontak saja, pemuda itu menghentikan motornya di depan gerbang, lalu turun seraya menstandarkan motor, kemudian berjalan menghampiri si gadis. Sesaat mengedarkan pandangan ke sekitarnya yang sepi, bahkan tidak ada pak satpam. Sungguh melegakan. Di tariknya tangan si gadis menuju sebuah moobil Jazz putih yang terparkir sekitar tiga meter dari gerbang.
__ADS_1
Keduanya masuk ke dalam mobil, dan tanpa basa-basi. Fatih merengkuh bibir gadis yang ada didepannya dengan rakus. Bukan cinta yang menguasai hatinya, tetapi hanya nafsu yang menggebu. Sepertinya gadis itu ditakdikan menjadi pelampiasan kegalauan hati yang menenggelamkan lara.
Suara decak yang saling bersahutan, membuat suasana di dalam mobil semakin memanas. Beberapa saat hanya penghapusan rindu terlarang di antara kedua pasangan muda itu, hingga berakhir merengguh berebut oksigen dengan deru nafas yang memburu.
''Thanks, baby. Apa ada yang penting hingga menungguku di depan gerbang?'' Fatih bertanya seraya mengelap bibirnya yang basah kuyup. ''Bukankah kamu tahu, hubungan kita harus disembunyikan? Aku tidak mau orang lain melihatmu bersamaku.''
Bukannya takut. Gadis itu justru memainkan jemarinya ke wajah Fatih dengan kerlingan mata nan manja. ''Apa kamu takut? Aku datang untuk memberikan hadiah pernikahanmu.''
Sebuah kotak kado dengan penutup warna ungu mengkilap yang tergeletak di tengah berpindah ke pangkuan Fatih. Dipersilahkan untuk membuka, tetapi ia hanya menunggu reaksi yang akan membuat hatinya merassa bahagia. Kini hanya menghitung satu hingga sepuluh, sampai kotak kado terbuka sepenuhnya.
Tatapan mata tak sanggup menipu, bukan main isi hadiah pernikahannya. Bagaimana bisa kekasihnya itu memberikan hadiah yang akan membuat kesenangannya berkurang. ''Apa ini? Kamu memberiku hadiah atau menyegel kesenangan hanya untukmu?''
Apapun yang menjadi miliknya. Maka orang lain tidak diperkenankan untuk mencoba, apalagi berusaha mendapatkan asetnya. Tubuh yang mulai terbentuk dengan wajah yang selalu tampan dimatanya. Cinta adalah obsesi dalam dilema. Itu prinsipnya.
"Kamu itu, penghangat ranjangku. Apa harus ku bocorkan semua rahasiamu?" Tatapan matanya lembut tak terkendali, lalu menarik jaket pemuda di depannya. "Fatih, Aku bayanganmu. Ingat itu, satu lagi. Silahkan nikahi gadis kampungan itu. Aku tidak peduli, tapi jangan berpikir untuk menyentuhnya. Paham?!"
Gadis kampungan? Naina? Dia tidak kampungan, hanya saja penampilan memang standar. Manis, tetapi tidak pandai membawakan diri. Sangat berbanding terbalik dengan Shena. Gadis impiannya. Bukan masalah tebal make up, gadis satu itu memancarkan inner beauty yang mampu menguasai hati dan pikirannya.
Lamunan sang kekasih membuat si gadis mengerutkan kening. Apalagi isi di dalam kepala pemuda itu? Pasti ada yang tidak beres. Tatapan mata yang terus mencoba melarikan diri. Ia tahu, Fatih memiliki rencana cadangan, tetapi bukan untuk Naina. Jika begitu, lalu untuk siapa?
Jika bertanya, tidak mungkin mendapatkan jawaban. Maka, lebih baik berpura-pura tidak paham dan diam-diam mencari tahu. Jangan sampai ada rencana yang membuatnya terlibat dalam hal yang rumit. Kehidupan tidak akan mudah semenjak memutuskan menerima Fatih sebagai kekasih gelapnya.
"Tidak ada jawaban, ya sudah. Aku harus pergi ke acara malam ini, turunlah! Congrats buat pernikahan palsumu, sayangku." Ucap gadis itu, kemudian beranjak seraya mendorong pintu mobil untuk berpindah tempat.
Lima menit berlalu, Fatih sudah kembali ke depan gerbang, sedangkan kekasih gelapnya baru saja lewat di depannya. Laju mobil yang sedang, perlahan menjauh, membuat pemuda itu bergegas mengambil ponselnya. Sebuah nomor di dial, tetapi hanya nada dering yang terdengar.
__ADS_1
"Ayolah angkat." gumam Fatih dengan sisa perasaannya yang mulai kelimpungan.