Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 49: Arti Pemimpin, Curiga


__ADS_3

Wajah pucat dengan bibir gemetar sang bibi, membuat Shena berhenti menyuap nasi ke dalam mulutnya. Lalu, gadis itu beranjak dari tempat duduknya. "Kenapa bibi tidak bilang dari tadi? Sekarang sudah malam, bukankah rumah bibi ada di desa?"


"Benar, Non. Tadi siang, nenek si kecil baru menelepon dan bilang semua baik, tapi barusan mengirim pesan ....," Bibi tak sanggup meneruskan ucapannya, linangan air mata yang sedari tadi ditahan. Lolos sudah membasahi kedua pipinya.



Melihat itu, Shena tak tega. Diraihnya kedua tangan bibi, memberikan usapan lembut agar bisa menenangkan. Danish juga ikut turun tangan, pria itu mengambil dompet yang selalu dibawanya. Mengeluarkan semua uang cash yang ada, lalu menyodorkan untuk sang bibi.



"Bibi bisa pulang malam ini, dan gunakan uang ini untuk membawa anaknya cek ke dokter. Nanti biar Mang Asep yang antar." Jelas Danish meredam rasa gelisah sang istri, tindakannya menyelesaikan satu masalah dengan solusi yang tepat.



Akhirnya, Bibi Sumi meninggalkan rumah sang majikan. Izin yang didapat melegakan hati seorang pelayan. Sebenarnya ia merasa tidak enak hati, tetapi keadaan tidak memungkinkan untuk melanjutkan pekerjaan. Apalagi dengan pikiran yang terus tertuju pada sang buah hati.



Sementara itu, malam yang semakin larut. Tak membuat Shena memejamkan matanya. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Gadis itu, justru masih sibuk memeriksa file proyek milik Naina, sekaligus mencari refensi tentang ilmu sains mengenai teknologi nano. Banyak sekali artikel, baik yang memberikan info resmi dan juga illegal.



Satu persatu poin penting ditulis menjadi catatan penting. Setelah berkutat selama dua jam dengan tema teknologi nano. Gadis itu melakukan peregangan. Rasa lelah yang dirasakan, tidak seberapa dengan ingatan akan status jabatannya sebagai senat. Masalah selalu datang tanpa pemberitahuan.



Satu sisi, masih ada rasa ragu. Bukan karena gila kekuasaan. Akan tetapi, ia mengingat acara akbar yang harus segera dipersiapkan. Maju salah, tapi mundur lebih salah. Bukan tidak mungkin, Pak Ibrahim akan mengkambinghitamkan dirinya sebagai pusat masalah.



Dilema. Namun, siapa yang bisa menjadi penilai netral dan memberikan saran yang baik untuk masalah yang tengah dihadapinya. Bingung hingga semua hasil dari pencarian seperti berputar di dalam kepala tanpa bisa diserap untuk ia pelajari. Setidaknya malam ini bisa menyelesaikan satu dari rencana yang tertunda.


__ADS_1


Lamunannya buyar. Ketika seseorang mengetuk pintu kamar, "Masuk! Tidak di kunci."



Pintu perlahan terbuka. Nampak Danish masuk membawa secangkir kopi. Tentu langsung ketahuan apa yang dibawa pria itu. Aroma harum pembangkit semangat menguar menyeruak memenuhi indra penciumannya.



"Mas, belum tidur?" tanya Shena memutar kursi yang menjadi tempat ternyamannya selama dua jam terakhir. "Kopi? Untukku?"



Danish mengangguk, membiarkan secangkir kopi buatannya berpindah tangan. Sementara ia melihat-lihat apa yang tengah dikerjakan oleh sang istri. Sedikit aneh sih, ketika gadis yang mengambil jurusan bisnis. Justru mencari banyak informasi tentang teknologi nano.



Apalagi, proyek new generation merupakan tempat para usahawan muda. Jadi, dimana tali penyambung antara perbuatan dan tujuan istrinya menyatu? Sorot mata yang dipenuhi tanya tanya, membuat Shena menyunggingkan seulas senyum simpul.




"Jika ini proyek sahabatmu. Kenapa kamu yang sibuk sendiri, bahkan begadang seperti ini SheZa?" tanya Danish tak paham akan keputusan sang istri yang jelas akan memfokuskan diri untuk menyelesaikan masalah orang lain, dan bukan masalahnya sendiri.



Shena tak ingin menjelaskan sesuatu yang memang tidak memerlukan penjelasan, tetapi kali ini yang bertanya adalah seorang suami. Suka, tak suka. Ia memiliki kewajiban untuk menyingkirkan salah paham. Jangan sampai, Danish berpikir persahabatan antara dia, Naina dan siti hanya untuk saling memanfaatkan.



Jika sampai berpikir seperti itu. Maka hanya menjadi awal dari keraguan di antara kisah ketiga gadis yang saling mengasihi. "Mas, Aku bisa melakukan apapun untuk meringankan beban orang-orang yang aku cintai. Apalagi, ini keputusanku. Tentu menjadi tanggung jawabku."


__ADS_1


"Jiwa ksatria." Danish menatap Shena tak berkedip, sorot mata yang terpancar dari netra sang istri adalah cahaya kepercayaan diri yang patut dicontoh. "Apa kamu tahu, seorang pemimpin akan dihormati, ketika semua yang ada di bawah kepemimpinannya merasa mendapatkan perlindungan nyata?"



Shena menggelengkan kepala. Separuh hati percaya, tetapi tidak dengan logika. Pemimpin bukan hanya tentang rasa hormat, tetapi memiliki pilar yang tidak bisa diubah. Apalagi diganti dengan bualan manis. Danish seharusnya paham semua tanpa harus dijelaskan.



"Aku," Shena menunjuk dirinya sendiri dengan jari telunjuk, "Bukan pemimpin. Diantara kami, tidak ada yang memiliki hak dan kewajiban lebih atau kurang dari satu sama lain. Jika kita hanya memiliki sepotong roti. Maka, kita akan membaginya adil. Yah, kami saling menopang, tetapi bukan memanfaatkan."



Pembenaran yang terkesan menjelaskan. Kini Danish sadar. Istrinya bukan gadis remaja pada umumnya. Gadis itu sanggup menghadapi dunia. Jujur saja, setelah malam ini. Rasa takut akan masa depan langsung hilang seketika. Jangankan tentang Tiara, satu nama lain yang akan datang. Tuan Xavier.



"SheZa, apa pekerjaanmu sudah selesai?" Tanya Danish setelah mendengar semua ungkapan hati sang istri.


Bukannya menjawab. Gadis itu hanya memberi kode jari lima yang terpampang di depan wajahnya. Ternyata masih membutuhkan waktu, melihat itu. Ia hanya bisa menyimak, memperhatikan apa yang dilakukan sang istri.


Setelah menunggu selama sepuluh menit. Shena selesai membereskan semua file dan catatan ke dalam satu box kotak kado yang berukuran cukup besar. Kemudian kembali menikmati kopi yang tersisa setengah dan sudah mulai dingin.



"Jadi, Mas mau membicarakan soal Mbak Tiara. Benar 'kan?" tanya Shena memperjelas akan tujuan suaminya yang rela menunggu dan diam ditempat seperti pajangan patung nan rupawan.



Suara yang serius bersambut tatapan mata yang begitu dalam, wajah cantik nan menggemaskan. Malam ini terlihat berbeda dengan cara bersikap yang terlalu dewasa. Hal itu sedikit menggoyahkan kesadaran Danish sebagai seorang pria.



Diam melamun tanpa jawaban. Sontak saja, Shena beranjak dari tempat duduknya. Menepuk pelan pipi suaminya. Benar saja, pria itu tengah travelling entah sampai kemana. Benar-benar menyebalkan. Apakah segitu beratnya untuk menceritakan tentang Tiara sang mantan tunangan?

__ADS_1


Tiba-tiba hatinya panas, mengingat hubungan Danish dan Tiara sudah lama. Apakan kedua pasangan itu pernah melakukan hubungan diluar batas? Bagaimana jika iya? Tidak. Kemelut di dalam hati dan pikiran yang membuat Shena menghembuskan nafas begitu kasar.


"Mas, apa kamu masih mencintai Mbak Tiara?" tanya Shena setengah tercekat, membuat kesadaran Danish kembali pada dunia nyata.


__ADS_2