
Sontak saja, ia memukul kepalanya sendiri. "Sadar, Dan. Jangan berpikir macem-macem. Shena masih belum menerimamu, tunggu dia mau menyerahkan diri sendiri untuk menjadi istrimu."
Tak ingin berbuat kesalahan. Dan memilih mengambil beberapa berkas untuk dikerjakan. Setidaknya dengan bekerja, maka pikiran sebagai pria dewasa tersingkirkan dan tidak akan menjadi masalah baru. Yah, itu yang terbaik dalam hubungan rumah tangganya.
Waktu berlalu begitu cepat. Tidak terasa sudah dua jam sibuk memeriksa file dan melakukan rekap target, selama beberapa bulan terakhir. Beberapa kesalahan yang sudah dibenahi, hingga membuat punggungnya terasa panas karena duduk tanpa bersandar ke kursi.
"Sebaiknya aku mandi agar segar kembali." gumam Dan melepaskan kacamata kerja nya, lalu meninggalkan meja dan pekerjaannya.
Pria itu masuk ke kamar mandi tanpa mengunci pintunya. Satu persatu penutup tubuh terhempas menempati keranjang pakaian kotor. Kini yang terpampang hanya tubuh polos dengan roti sobek yang mulai basah karena tersiram guyuran shower dingin. Sangat menyegarkan.
Sejenak melepaskan beban pikiran, menikmati ketenangan yang akan mengembalikan akal sehatnya. Namun, tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka lebar. Shena yang masih mengantuk tanpa sadar melepaskan celananya di depan Danish.
Gadis itu seakan hafal isi kamar mandi, berjalan tanpa tersandung. Padahal matanya masih setengah tertutup. Sudah pasti, saking kebelet pipis. Gadis itu, sampai tidak sadar. Jika didepannya ada Danish. Suaminya yang harus menahan nafas atas sikap sang istri.
Setelah usai melakukan keinginannya. Shena kembali keluar, tetapi lupa menutup pintu kamar mandi. Buru-buru Dan menutup pintunya, jangan sampai sang istri masuk lagi. Jantungnya sudah hampir copot. Apalagi yang akan menjadi kebiasaan gadis itu? Sungguh, tidak bisa ditebak.
Dua jam berlalu.
Seluruh keluarga berkumpul diruang makan. Setelah sibuk dengan aktifitas masing-masing. Keluarga Anderson terbiasa untuk menikmati makan malam bersama. Kecuali, disaat seluruh anggota keluarga memiliki kesibukan yang tidak bisa ditunda lagi.
__ADS_1
Papa Anderson duduk di kursi pemimpin. Sisi kanannya, tempat duduk Mama Quinara. Sebelahnya, Fatih, lalu di seberang ada Danish dan Shena. Nampak lengkap, tetapi tetap kurang lengkap. Sebelum Fatih mendapatkan istri, sama seperti putra pertama.
"Shena, Mama boleh minta tolong?" tanya Mama Quinara di sela menikmati makanan.
Shena hanya mengangguk, moodnya masih tidak baik. Apalagi harus makan berhadapan dengan Fatih yang terus saja curi pandang ke arahnya. Rasa risih dan jijik semakin ia rasakan. Tatapan mata liar pemuda itu, seperti siap menerkamnya.
Mama Quinara melepaskan kalung yang ia kenakan. Lalu beranjak dari tempat duduknya, langkah kaki berjalan memutari meja makan melewati belakang kursi tempat Papa Anderson duduk, hingga berhenti di belakang sang menantu pertama.
"Ini, kalung warisan keluarga Mama. Jadi tolong jaga dengan baik dan ya, kenakan ini saat acara resepsi nanti. Okay baby." Mama Quinara menjelaskan setelah mengaitkan ujung kalung hingga terkunci, kini kalung berlian liontin kupu-kupu menghiasi leher Shena.
Setelah melakukan apa yang ia inginkan. Mama Quinara kembali ke tempat duduknya, sedangkan Shena merasa tidak enak hati. Bagaimana keluarga suaminya menganggap ia sebagai menantu sekaligus putri. Sementara dia? Masih terjebak dengan emosinya sendiri.
Haruskah melupakan semuanya? Tentang Fatih dan pandangan buruk pemuda itu. Tentang perjanjian yang tidak ia tahu, dan entah tentang apa lagi. Firasatnya mengatakan akan banyak hal baru diluar batas bayangan yang bisa dibayangkan.
Di sisi lain, ada Danish yang pasti menunggu kesiapannya untuk menjadi seorang istri yang utuh. Melakukan kewajiban dan memberi hak tanpa terkecuali, namun di sekeliling mereka masih banyak hal yang harus diluruskan. Termasuk tentang Tiara, tunangan suaminya.
Fatih dan Tiara. Dua nama itu, seakan cukup menjadi pemicu rasa khawatir dan takut. Kurang lebih seperti itu. Beban hati semakin memberatkan beban pikiran. Perasaan dilema Shena, juga dirasakan Naina sahabatnya. Gadis yang sejak pulang kampus mengurung diri. Gadis itu tidak minum, apalagi makan.
__ADS_1
Sudah berapa kali pelayan mengetuk pintu bahkan memanggil nona muda mereka. Tetap saja, tidak ada jawaban, sedangkan posisi pintu kamar dikunci dari dalam. Tentu para pelayan tidak berani menggunakan kunci duplikat, jika tidak diperintahkan oleh Nyonya Amora.
Berkumpulnya para pelayan di depan kamar Naina. Justru langsung mengubah ekspresi wajah Tante Amora panik. Wanita dewasa itu berlari kecil menyusuri marmer, langkah demi langkah hingga menaiki anak tangga. Walau mengenakan sepatu heels. Nyatanya bukan sebuah penghalang.
"Bi, ada apa? Kenapa kalian semua, di depan kamar Nai." Tante Amora menatap menyelidik, ada rasa takut yang menyelimuti hatinya.
Sebagai ibu pengganti. Ketika putri tak menampakkan diri seperti biasanya, tentu ada. ketakutan tersendiri. Naina terlalu pendiam ketika di rumah, tetapi akan selalu menunggu dirinya pulang bekerja. Meski tidak untuk makan malam bersama, melainkan hanya untuk menghabiskan sedikit waktu sebelum pergi menjemput mimpi.
"Nyonya, Nona Muda tidak mau keluar sejak siang. Makan siang, dan makan malam terlewatkan. Makanya, kami disini." Jelas salah satu pelayan menundukkan pandangannya.
"Pergilah! Selesaikan pekerjaan kalian, dan terima kasih sudah mengkhawatirkan Nai. Aku akan mengurusnya." Tante Amora mengusir para pelayan, ia tak ingin menimbulkan kegaduhan.
Mengingat apa yang terakhir kali dilakukan oleh Naina. Gadis itu, rela melakukan sesuatu demi melepaskan emosi yang tidak tertuang. Mungkin, Siti dan Shena masih tidak tahu. Satu kepribadian yang akan tersembunyi begitu dalam dalam diri keponakannya.
Tanpa berlama-lama. Wanita itu membuka pintu kamar Naina menggunakan kunci duplikat, tetapi begitu kamar terbuka. Seluruh ruangan terang benderang, bahkan sangat menyilaukan. Perlahan mengedarkan pandangan mencari siluet sang keponakan.
"Nai, boleh Tante masuk?" tanya Tante Amora lirih bahkan hampir tak terdengar. "Naina, sayang!"
Naina menoleh, matanya sembab dengan hidung memerah. Entah berapa lama menangis hingga wajahnya berubah menjadi panda. Tak ingin menambah beban kehidupan. Amora berjalan menghampiri keponakannya, tak lupa menyambar tisu yang ada di atas meja.
Langkahnya berjalan menghampiri Naina, "Nai, tumben dikamar. Mau coklat hangat? Biar tante buat ...,"
Naina menggelengkan kepala. Seulas senyum menghiasi wajah hadis itu, tetapi rasanya justru semakin menyesakkan dada. Ia tahu, keponakannya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Hanya saja, apa yang menjadi masalah gadis itu? Apa karena pertunangan atau karena proyek yang dia kerjakan?
__ADS_1
"Nai, kamu kenapa, Nak?" Tante Amora mengusap kepala gadisnya, merengkuh tubuh sang keponakan ke dalam pelukan hangatnya. "Tante disini, cerita sayang. Apa kamu keberatan dengan perjodohan? Jika itu masalahnya, Tante akan batalin."