Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 74: Beberapa jam...


__ADS_3

Kotak diterima tanpa penolakan. Ia sadar tengah berganti profesi sebagai salah satu staff dari pihak WO bahkan untuk mendapatkan pekerjaan itu, ia harus membayar kontan pada karyawan yang bisa dimanfaatkan. Meski pekerjaan yang didapat hanya sebagai pekerja magang saja.


Perlahan berjalan menaiki anak tangga, membawa kotak yang pasti berisi gaun dari desainer ternama. Sayangnya ia tak begitu hafal dengan nama butik yang biasanya menyediakan perlengkapan dan bisa untuk memesan gaun pengantin atau untuk acara formal lainnya.


Pintu yang pucat menyambutnya, lalu dengan suara yang sopan dan ketukan pelan. "Permisi, Nona. Saya mengantarkan gaun untuk Anda."


"Tunggu!" Jawab dari dalam setengah berseru, mungkin agar dia mendengarkan dan bersabar menantikan. Sampai pada akhirnya terdengar suara pintu terbuka, "Masuk!"


Niat hati hanya mengantarkan, tetapi dipaksa untuk ikut masuk. Mengesampingkan gengsi, langkahnya melewati pintu kamar. Dimana gadis yang membukakan pintu langsung kembali mengunci pintu kamar tanpa basa-basi. Keadaan kamar cukup berantakan.


Sebenarnya apa yang terjadi? Kenapa bisa seperti itu? Heran bukan kepalang. Dihari yang bahagia. Kenapa calon mempelai wanitanya justru diam tak bergeming berdiri menghadap ke luar jendela, dan seorang gadis lain tengah berusaha untuk menenangkan. Tak ingin lebih jauh lagi, diletakkannya kotak ke atas ranjang.


"Nona, saya permisi." Pamit pria itu seraya berbalik, di saat yang sama Shena melepaskan tangannya dari pundak Naina.


"Kamu, kemari!" Tegas Shena yang langsung menghentikan langkah si staff, pria itu berbalik hingga tatapan matanya terpatri pada netra tajam yang begitu meneduhkan. "Hallo? Kemarilah!"


"Non, saya?" tanya si pria dengan menunjuk wajahnya sendiri, bukannya bingung, tetapi berpura-pura tidak paham akan menyesuaikan dengan statusnya saat ini.


Lambaian tangan Shena, membuat pria berkacamata itu berjalan menghampiri si gadis yang terlihat begitu mencemaskan sahabatnya. Kini dengan mata kepalanya sendiri, ketiga gadis yang saling bersahabat ada di depan mata. Mencoba untuk mengenali dengan menyimpan ingatan hari ini ke dalam lubuk hati.

__ADS_1


"Siti, bisa kamu jaga Nai bersama staf ini?" Shena menoleh ke arah Siti yang berdiri agak jauh, begitu Si gadis dangdut menganggukkan kepala. Pandangan kembali tertuju pada pria berkacamata yang kini berdiri di depannya dengan jarak dua meter. "Dia, Naina, saudariku. Tolong tetap disini sampai aku kembali."


"Non, bagaimana dengan pekerjaanku?" Lirih pria itu seraya menundukkan pandangannya agar mata yang terus menatap seperti badai tak menunjukkan jati dirinya.


Tanpa memberi jawaban. Shena mengambil ponselnya yang berada di atas nakas dekat tempatnya berdiri. Lalu mencari nomor sang pemilik WO, tanpa ada rasa gentar menggunakan nama yang kini bersanding dengan status pastinya. Jika untuk menyelamatkan sang sahabat harus menjadi seorang nyonya. Kenapa tidak?


"Terima kasih," Shena menutup panggilan telepon singkat tersebut, "Sekarang dengarkan aku. Tidak peduli siapapun yang masuk dan meminta Nai untuk turun. Pastikan kamu mengawalnya dan menjaga sahabatku dengan baik. Satu yang harus kamu pastikan. Jauhkan Fatih dari Naina. Paham?"


Mau, tak mau. Pria itu tetap mengikuti permintaan Shena. Bagaimana lagi? Kini ia tengah menyamar menjadi seorang staff yang harus membantu menangani acara. Akan tetapi, keadaan yang tiba-tiba saja berubah menjadi tidak terkendali. Apa yang dia harapkan berubah menjadi hal yang lainnya. Ia pikir semua itu mungkin memang takdir.


Tanpa menunggu jawaban. Shena menyerahkan tanggung jawab lainnya pada Siti dan staff pria tersebut. Sementara ia berjalan meninggalkan kamar untuk melanjutkan rencana selanjutnya. Meskipun sudah sepakat dengan Danish untuk memberikan Fatih kesempatan. Tetap saja hatinya tak rela, jika melihat air mata Naina kembali mengalir membasahi kedua pipi gadis itu.


Siti merasa cemas dengan kepergian Shena, bukan karena ia tak percaya. Hanya saja melihat cara Shena mengatasi masalah kali ini dengan amarah. Entah kenapa ia merasa akan ada masalah besar yang jauh bisa memporak-porandakan seluruh keluarga. Mungkin itu hanya firasat sesaat saja.


Namun kini ia hanya bisa berdoa dengan harapan yang tersisa. Semoga Shena bisa menyelesaikan masalah, tanpa harus menambah masalah baru lagi. Bagaimanapun gadis itu baru saja menikah. Hubungan baru yang masih dalam tahap pengenalan. Satu sisi Danish yang ada di luar sibuk bekerja, sedangkan sisi lain Shena yang entah pergi ke mana untuk melakukan apa.


Tidak ada yang tahu apa yang akan dilakukan Shena. Yah, hanya gadis itu yang tahu apa yang bisa dilakukan oleh dirinya sendiri. Keyakinan itu ada. Kepercayaan itu pasti, tetapi masalah akan tetap ada jika tidak mendapatkan solusi. Kini siapa yang akan berkorban dan siapa yang harus mendapat kebahagiaan. Waktu yang bergulir terus berjalan meninggalkan sang senja menuju kegelapan.


Sudah satu jam berlalu, namun Shena tak kunjung kembali. Awalnya Naina masih sibuk dengan kegelisahan hati yang membuat pikirannya tak tenang, tetapi kini gadis itu mulai kembali sadar. Penasaran apa yang tengah dilakukan sang sahabat di luar sana? Tiba-tiba ia merasa, sesuatu telah terjadi, tapi apa? Sungguh ia tak tahu apapun.

__ADS_1


Baru saja memikirkan tentang Shena. Suara dering ponsel menandakan sebuah pesan masuk mengalihkan perhatiannya. Layar ponsel yang masih menyala menunjukkan sebuah notifikasi dengan pesan singkat yang mengejutkan. Pesan bertuliskan happy wedding dengan pengiriman sebuah foto yang baru di ambil.


"Siti, apakah kamu tahu lokasi ini?" Nai menunjukkan pesan itu yang membuat Siti langsung berpikir keras, lalu menggeser posisi layar agar dilihat oleh si staff. "Bagaimana denganmu? Tahu bangunan ini atau tidak."


Naina bertanya dengan wajah pucat. Gadis itu merasa sudah begitu tak sanggup untuk menunggu waktu lebih lama lagi karena yang ada di bayangannya adalah Shena dalam masalah besar. Hanya saja, dia tidak tahu di mana sahabatnya itu berada. Pesan yang menunjukkan sebuah bangunan kuno dengan penampakan yang begitu tak terawat.


"Itu bangunan terbengkalai di dekat Hotel La Ven Fu dengan jarak tempuh sekitar setengah jam dari sini. Jika lebih cepat bisa lima belas menit, tapi menggunakan motor." jawab si pria berkacamata dengan pasti karena memang bangunan itu selalu dilewati setiap kali kembali pulang, jadi searah dengan jalan ke rumahnya.


"Jika begitu, antarkan aku ke sana sekarang!" tukas Naina yang tidak mempedulikan lagi acara yang akan segera dimulai dua jam lagi.


Siti berusaha mencegah, tetapi Naina menjelaskan bahwa situasi saat ini terlalu rumit dan tidak bisa dihentikan. Jika semua yang terjadi masih tentang pengorbanannya. Tentu ia tak akan mempermasalahkan apapun, namun ia tak mungkin membiarkan Shena melakukan persembahan. Apalagi hanya demi kebahagiaan semu.


"Siti tolong tetap di sini! Aku bisa meminta bantuannya." Nai menunjuk si pria berkacamata, "Pastikan semua orang tetap dalam keadaan aman dan baik. Jangan sampai ada yang masuk ke kamar sampai kami kembali."


Naina merengkuh tubuh Siti yang menegang, sesaat menguatkan diri untuk melanjutkan keputusannya. Lalu berlari meraih jaket yang tersampir di sofa, kemudian bergegas mendekati jendela kamarnya. Tangan yang sibuk menyibak tirai, tiba-tiba saja ditahan seseorang. Seketika ia menoleh ke belakang hingga tatapan mata saling bertautan.


"Hei, apa kamu mau melompat dari jendela lantai dua? Itu berbahaya." Pria berkacamata menarik tangan Naina agar menjauh dari jendela kaca yang siap untuk dibuka, membuat Naina menghela nafas kasar. "Kita bisa lewat pintu ....,"


"Diam!" bentak Nai tak ingin menunjukkan sisi baiknya. "Aku waras, kita bisa turun menggunakan tali."

__ADS_1


__ADS_2