Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 23: Shena Murka, tapi...


__ADS_3

Gadis itu membantu Mama Melati untuk menuruni tangga, tetapi ia juga menghirup aroma tubuh wanita yang telah melahirkannya. Parfum pria dan itu berasal dari pria yang kini berdiri di bawah tangga. Pikirannya berkelana. Sebuah pemikiran jijik melintas begitu saja. Langkah kaki terhenti, lalu menatap sang Mama.


"Apa dia melecehkan, Mama?" tanya Shena seperti belati yang menusuk jantung mamanya.


Mama Melati mencoba untuk menutupi semuanya, tetapi Shena bisa melihat hasil dari tanda merah yang terlihat begitu jelas di depan matanya. Tidak ada yang perlu ditunggu lagi. Gadis itu membimbing sang mama untuk duduk di tangga, kemudian ia turun seraya menarik lengan sweater hingga sebatas siku.


Danish yang melihat perubahan drastis wajah Shena. Sadar betul, jika istrinya tengah murka bahkan melebihi kemarahan seorang pria. Tatapan mata tajam dengan senyuman tipis, tiba-tiba saja sebuah tendangan melayang menghantam kepala pria yang berdiri dibawah tangga.


Shena yang melompati tangga dengan gaya sekali terjang langsung mengenai sasarannya. Mama Melati membungkam mulut, ditahannya teriakan yang siap meninggalkan kerongkongan. Ingin sekali mengatakan sebuah kebenaran, tetapi ia terkekang ikatan janji.


Shena menatap pria yang seumuran papanya itu. Wajah yang mengaduh kesakitan, "Nak, Aku ....,"

__ADS_1


"Shut up!" Shena menaruh jari telunjuk di depan bibir, lalu melirik ke arah pria yang duduk di sofa. Aneh karena pria itu terdiam di tempat. Padahal, dia baru saja menghajar anak buah dari pria itu. "Katakan. Apa yang kamu lakukan pada keluarga ku!"


Papa William mengusap air matanya, lalu beranjak dari tempatnya bersimpuh. Pria yang tidak memiliki sisa kehormatan karena gagal melindungi istri tercintanya. Ia sadar diri, apapun yang terjadi memang sepenuhnya kesalahannya.


Di depannya, Shena menatap seorang pria yang baru saja menikmati tubuh istrinya. Semua yang terjadi salah dan rumit. Namun, ini sudah tidak bisa disembunyikan lagi. Akan tetapi, apakah ini sudah waktunya untuk berkata jujur pada Shena?


"Nak, lepaskan pria itu." Pinta Papa William, membuat Shena menatap ke arahnya. Gadis itu menatap tanpa berkedip, pasti pipi yang basah semakin menambah murka putrinya. "Papa mohon. Lepaskanlah, Nak."


"Aku sudah melepaskannya. Bisa jelaskan. Kenapa Papa memohon seperti pengemis dan kenapa Mamaku mendapatkan penghinaan sebesar ini. Aku tidak ingin menjadi budak hanya karena rasa hutang budi. Seorang anak memiliki kewajiban untuk menjadi pelindung keluarganya, tapi Papa menghentikan tugasku."


Papa William seketika terdiam karena pernyataan Shena langsung menohok begitu dalam. Benar apa yang dikatakan putrinya, tetapi bagaimana menjelaskan ikatan yang sudah terlanjur rumit. Ditengah dilema, Danish berjalan menghampiri papa mertua dan istrinya.

__ADS_1


Pria itu merasa seperti pengecut. Seharusnya, Shena tidak perlu turun tangan karena memiliki suami. Nyatanya, justru dia yang terkejut karena murka sang istri. "Pa, ayo kita duduk. SheZa, ajak Mama Melati untuk duduk bersama. Ingat, ketika kita marah. Jangan berdiri, tapi akan lebih baik untuk duduk."


Entah apa yang dikatakan Danish. Shena mengabaikannya, fokus gadis itu masih menatap Papa William, lalu beralih menatap menatap pria uban yang duduk terdiam dengan kacamata hitam. Ada begitu banyak pertanyaan, tapi hanya berputar-putar di dalam kepalanya.


Astagfirullahaladzim, sabar. Calm down, Shena.~batin Shena menghirup nafas dalam, lalu dihempaskan dengan harapan akan kembali tenang. Meski hatinya masih meluapkan lahar api.


Kini, semua orang duduk di ruang tamu. Mama Melati duduk bersebelahan dengan Mama Quinara. Papa William duduk bersanding dengan Danish. Pria beruban duduk berseberangan dengan Shena yang masih saja terdiam membisu, sedangkan pria satunya yang terus memegangi kepala karena berdarah. Justru memilih berdiri di sebelah pria beruban.


Lima belas menit telah berlalu, hingga tangan gadis itu tidak tahan lagi. Sekali gebrakan, membuat semua orang terkejut hingga menatap Shena sebagai pusat perhatian. "Mau bicara atau aku hajar, pria baj!ngan itu?"


Apa itu sebuah ancaman atau sebuah pernyataan? Shena tidak menggertak karena saat ini. Dia tidak bisa menunggu lagi. Apapun yang telah terpatri di dalam memorinya. Semua harus mendapatkan penjelasan. Mama Melati dan Papa William saling pandang. Terlihat pasutri itu merasa dilema.

__ADS_1


"Nak, sebenarnya ….,"


__ADS_2