Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 57: PASRAH


__ADS_3

Rumah tangga. Dua raga dalam satu rasa. Dua jiwa dalam satu frasa. Bukan bayangan, melainkan kenyataan. Bukan paksaan, melainkan kepasrahan. Jodoh dalam penyatuan. Setiap manusia memiliki janji takdir kehidupan. Namun, jodoh tidak selalu tentang pasangan. Kematian juga bagian dari perjodohan.


Hari ini, hubungan Shena dan suaminya kembali membaik. Saling meminta maaf atas kesalahan dan sekali lagi membuka hati untuk pemahaman. Tidak ada kata terlambat dalam keberhasilan suatu ikatan. Menyingkirkan keegoisan dalam kesabaran dan keteguhan hati.


Orang bilang. Jika jodoh tidak akan kemana, tapi tanpa mencari atau berusaha. Bagaimana orang melakukan ikhtiar? Kenyataannya usaha harus maksimal, dan diakhiri dengan doa kepada Allah untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Tidak hanya tentang pasangan. Rezeki dan lain sebagainya. Memiliki prinsip yang sama.


Setelah berbaikan. Shena meminta untuk pulang ke rumah. Gadis itu memang membenci rumah sakit. Bukan karena takut suntikan atau obat, tetapi tidak suka berdiam diri meski hanya duduk atau berbaring di ruangan VIP sekalipun. Rumah sakit, tetaplah rumah berbau ketidaknyamanan.


"Nona, kondisimu masih belum stabil. Sebagai dokter, Saya tidak menyarankan untuk rawat jalan. Tuan, tolong nasehati istrinya ....,"


"Dok, ini rumah sakit. Bukan penjara." Shena menatap Si Dokter dengan tatapan serius, bahkan terlalu tajam. "Bukankah dalam ilmu kedokteran dijelaskan, jika pasien bisa sehat dalam waktu singkat hanya dengan mendapatkan lingkungan sehat? Dokter bisa lihat rumah Mas Dan. Disana full udara menyehatkan."


Sisi remaja yang keluar dari dalam diri sang istri, membuat Dan menahan senyumnya. Sudah tahu sakit, tapi masih sempat berdebat. Tidak tega melihat perjuangan Shena yang kekeh ingin pulang ke rumah. Sebagai suami memiliki kewajiban memenuhi keinginan seorang istri 'kan? Maka, pasti akan dikabulkan.


"Dok, berikan surat izinnya." Danish mengusap kepala Shena agar gadisnya bisa tenang sebentar. "Kirim juga seorang suster, bahkan jika dokter mau. Ikut saja untuk mengawasi dua puluh empat jam dari kegiatan istriku. Jika tidak, kasian pasien lain yang menunggu dokter untuk memeriksa mereka."

__ADS_1


Ingin sekali memprotes. Hanya saja, melihat seorang suami yang membela keberlangsungan sang istri. Ada rasa haru yang menelusup menyentuh kalbu. Pria itu memberikan apa yang diinginkan seorang istri. Meski harus membujuk dengan sopan. Tetap saja tidak gengsi untuk melakukan semua itu.


Bagaimana lagi? Kecuali pasrah dan mengalah. Tidak ada cara lain. Setidaknya kondisi pasien sudah membaik. Jadi bisa mengikuti saran dengan mengirimkan suster untuk menjaga dan memberikan perawatan yang terbaik. Bukan tanpa alasan kenapa sebagai dokter memperhatikan pasien satu itu.


Tanpa sengaja, identitas dari Danish yang sebagai penanggung jawab atas pasien bernama Shena. Dokter senior mengatakan marga keluarga pria itu adalah Anderson. Salah satu penyumbang dana tetap di rumah sakit tempatnya bekerja. Jadi, satu kebenaran itu cukup menjadi alasan untuk memberikan pelayanan terbaik.


"Baik, Tuan." Jawab Bu Dokter, lalu memberikan isyarat pada asistennya untuk memberikan kertas yang berisi catatan kesehatan Shena. Beberapa saat fokus menulis, lalu menyerahkan kertas pada Danish. "Silahkan tanda tangan, Tuan."


Melihat surat pelepasan yang ada di depan mata. Shena tersenyum puas. Tentu kemenangan ada dipihaknya, sedangkan di tempat lain. Seorang pria mengubah ruangan kerjanya menjadi tempat pembuangan sampah dalam hitungan lima jam saja. Di setiap sudut ruangannya hanya ada bola kertas yang berbentuk tidak karuan.


"Astaga. Tidak ada informasi yang benar. Dari lima file. Tidak satupun dari mereka ku kenal." Keluhnya menghentikan pencarian, lalu menyandarkan tubuhnya ke belakang. Sejenak memejamkan mata mengingat wajah yang diinginkannya.


Wajah cantik dengan bibir lembut rona merah menggoda. Setiap kali wajah itu datang menyapa. Pikiran hilang kendali. Ingin sekali bisa membawa si gadis untuk segera tunduk dalam pelukannya. Apalagi, jika di ajak bertarung di atas ranjang. Sudah pasti, semua bintang yang berputar di kepala lenyap dalam seketika.


Baginya, pemikiran memiliki dan menguasai raga si gadis impian adalah pemujaan. Namun, siapapun jika mengetahui isi pikiran tersebut. Pasti hanya memiliki satu kata untuk diutarakan yaitu bajing-an. Seorang pria tidak akan menjadi pria sejati hanya dengan kegilaan yang ingin menguasai lawan jenisnya.

__ADS_1


Seluruh imajinasi liar tersentak melarikan diri. Suara ketukan yang membuyarkan semua lamunannya. "Dasar bodoh. Ada apa kemari?!"


Seorang pria berkumis berdiri di depan pintu yang setengah terbuka. Wajahnya terlihat pucat pasi dengan pandangan jatuh ke bawah alias menundukkan kepala. Salah satu staf yang bekerja di lantai atas. Pria itu memberanikan diri untuk mengusik waktu milik bosnya. Tentu saja disambut dengan muka ketus sang bos.


"Tuan, di lobi ada Tuan ....,"


Belum juga menyelesaikan ucapannya. Suara langkah kaki berjalan mendekati sang karyawan. Lalu berhenti di depan pintu tanpa melepaskan kacamata hitamnya. Langkah kakinya tegas tanpa keraguan. Tatapan mata tajam terus mengedarkan pandangan, melihat betapa berantakan ruangan di depannya.


"Siang, Tuan Anderson." Sambut Sang Pemilik ruangan mengubah posisinya, "Seorang pebisnis besar seperti Anda datang untuk mengunjungi pria malang seperti ku? Apakah hari keberuntungan milikku akan segera tiba?"


Tak ada jawaban. Tuan Anderson justru menarik kursi, lalu mendaratkan tubuhnya dengan gaya maskulin seorang pria bangsawan. Kemudian melepaskan kacamata hitamnya, seketika netra abu yang menakjubkan nampak mengesankan. Suara nafas yang terdengar samar.


"Aku kemari hanya memiliki satu tujuan." Ucap Tuan Anderson memulai poin utama dari kedatangannya, lirikan mata membaca salah satu nama file yang ada di atas meja. "Jauhi keluarga ku atau, kamu tahu balasannya."


Keluarga? Siapa yang dimaksud pria satu itu? Jangankan mendekati, berusaha untuk melirik. Apalagi menyebut nama anggota keluarga Anderson saja. Tidak pernah dilakukan olehnya. Lalu, bagaimana ia tahu. Siapa yang dimaksud oleh Tuan Anderson. Lagi pula, setahunya. Keluarga itu hanya memiliki empat anggota keluarga saja.

__ADS_1


"Sorry, siapa yang Tuan Anderson maksud?" tanyanya penasaran dan sebenarnya enggan untuk menanyakan, tetapi demi kebaikan perusahaan. Tentu harus tahu. Jangan sampai satu langkahnya, justru menjadi akhir dari keberhasilannya.


__ADS_2