
Selena mengambil gelas dari tangan Shena, lalu beranjak dari sisi tempat tidur. Kemudian meletakkan benda bening tersebut ke atas nakas. Pikirannya terbagi antara ingin berkata jujur atau lebih baik menjadi orang asing. Satu keputusan yang pasti mengubah arah tujuannya.
Selain itu, dirinya hanya ingin memperbaiki kesalahan dan bukan menciptakan masalah baru. Kesedihan seluruh anggota keluarga Anderson harus dia tebus, meskipun untuk itu ia beralih menjadi seorang pelindung. Tidak peduli dengan kelicikan musuh dan apapun resikonya, maka ia akan berdiri di antara musibah serta korban.
Rasa pusing di kepala enggan meninggalkannya. Tanpa meminta bantuan, ia berusaha untuk bangun dari posisi berbaring. Sayangnya tubuh begitu lemah tak berdaya. Suara rintihan tak terelakkan keluar dari bibir mengagetkan Selena yang langsung berbalik dengan mata terpejam.
"Apa yang kamu lakukan?" Tanpa sungkan merangkul tubuh Shena, lalu menyandarkan ke belakang dengan posisi duduk. "Shena, jangan ulangi lagi tindakanmu! Apa kamu tahu tubuh atletis sekalipun tidak bisa bekerja dalam pengaruh racun. So, please tetap diam di tempatmu."
"Ra-cu-n?" tanya lirih Shena menahan diri untuk tetap terjaga, walau rasa kantuk kembali menyerang.
__ADS_1
"Akan Ku jelaskan semua secara perlahan, tapi untuk sementara turuti semua perintah ku dan apapun yang akan kita lakukan. Maka itu demi kehidupan masa depan. Bukankah kamu ingin mengingat kembali keluarga, orang tua, sahabat dan suamimu?" tegas Selena membujuk Shena agar kembali tenang.
Mungkin kenyataan tidak sepenuhnya akan diungkap selama masa pemulihan. Meski begitu, apapun akan dia usahakan sebagai bentuk penebus kesalahan. "Selama setahun terakhir ada racun yang menyebar mengalir di tubuhmu. Siapa pelakunya? Kamu tahu jawaban tersebut tanpa aku menyebut namanya."
Suara yang semakin lirih mulai memudar menghilang ditelan embusan angin. Perlahan kelopak mata meredup menjemput kegelapan. Semua berubah menjadi hening senyap tanpa rintihan, tetapi sentuhan tangan dingin terasa lembut mengusap pipi kanan.
"Istirahatlah! Aku janji akan mengembalikan dirimu yang dulu dan untuk itu, semua sudah kusiapkan. Percayalah, raga dan jiwamu akan kembali sehat tanpa ada racun yang berusaha mengendalikanmu." Diraihnya selimut, kemudian menyelimuti tubuh Shena sebelum pergi meninggalkan kamar tersebut.
Langkah kaki trus menyusuri lantai marmer menuju lantai bawah. Dimana para bodyguard beserta pelayan sudah berkumpul menunggu kehadirannya. Lima belas bodyguard dan sepuluh pelayan berdiri di ruang tengah dengan pandangan lurus ke depan menatap di dingin putih hingga Selena datang berdiri di hadapan semua orang.
__ADS_1
Wajahnya yang datar, tatapan mata tajam tanpa seulas senyum menawan. Kedua tangan bersedekap, "Dengarkan perintah ku baik-baik. Penjagaan rumah empat kali ronde, pelayanan tiga kali pergantian. Kali ini, Aku tidak menerima toleransi apapun. Satu kesalahan dari kalian, maka hukuman tanggung masing-masing."
"Siap, laksanakan!" jawab serempak semua orang, lalu membubarkan diri begitu Selena mengibaskan tangan kanannya.
Kepergian semua orang, membuat Selena terduduk lesu seorang diri seraya memainkan benda pipih yang masih gelap karena tidak dinyalakan. Ia sengaja mematikan ponselnya agar tidak ada yang mengusik tujuan kali ini. Apalagi berusaha menggagalkan.
Satu hal pasti adalah Black bisa mengurus bisnis di London tanpa bantuannya. Akan tetapi, kini dirinya sendiri tanpa mengandalkan tangan kanan yang menjadi kepercayaan. Jika mengenai masalah bisnis, pasti mudah diselesaikan dengan mata terpejam. Sayangnya kali ini tentang hati yang tidak bisa dipermainkan.
Sekilas ide melintas datang mengetuk pintu rencana. Di ambilnya kertas dan pulpen yang ada di atas meja, lalu menyingkirkan vas bunga agar bisa memiliki ruang gerak yang bebas. Satu persatu nama ditulis, kemudian mengurutkan sesuai skema. Di mulai dari status hubungan, berlanjut dengan karakteristik setiap orang yang bersangkutan.
__ADS_1
Selama satu jam wanita itu hanya berkutat dengan informasi yang memang sudah di genggaman tangan. Akhirnya skema silsilah dengan niat yang terpendam tertuang memenuhi lembaran kertas putih yang ada di atas meja. Setiap nama memiliki bentuk pengelompokan yang berbeda.
"Kurasa semua sudah benar. Yah, sekarang informasi yang minim harus cukup untuk membawa kebenaran tanpa paksaan. Target pertamaku, si gadis karaoke. Kenapa namanya aneh, ya?" tanya wanita itu pada dirinya sendiri.