
Percuma menjelaskan pada gadis yang kelas kepala tengah menguasai hati. Daripada mengeluh, apalagi melakukan pemaksaan. Akan lebih baik membantu dan memastikan aman. Diambilnya tali yang ada di tangan Naina. Tanpa arahan, ia memutari tiang bangunan yang ada di samping jendela kamar.
Tali diikatkan sedemikian rupa hingga terlihat begitu kencang. Namun untuk memastikan keamanannya, tentu harus dilakukan uji coba. Sementara Naina baru selesai mengenakan sepatu sneakers warna hitam. Rambut yang biasa di kepang, kali ini hanya diikat menjadi satu.
"Sudah?" Nai memeriksa tali, tetapi simpul terakhir salah. "Siti jaga pintu! Kamu, bantu aku tarik simpul yang itu!"
Siapa sangka gadis yang ia pikir sinis dan hanya sibuk mengasah otak. Ternyata pandai merencanakan pelarian. Apalagi di hari yang bersejarah. Jika tidak salah, Naina gadis yang menjadi mempelai wanita. Hari ini adalah hari pertunangan, sekaligus resepsi dari putra tunggal keluarga Anderson.
Setelah pasti tali aman untuk digunakan. Nai menjelaskan apa yang akan mereka berdua lakukan. Termasuk memakai kendaraan yang mana untuk melakukan pencarian keberadaan Shena. Benar saja, bahkan kunci dari salah satu motor sudah ada di saku jaketnya.
Apa niat dari awal emang mau kabur, ya? Persiapan yang ada dengan rencana matang. Suka, atau tidak, ia hanya bisa menurut seperti sikap orang biasa. Melihat situasi di bawah, tapi akan sulit untuk melarikan diri dengan mudah. Tiba-tiba sebuah ide terlintas dan pasti akan lebih aman dari bergelantungan menggunakan tali tambang.
__ADS_1
"Hey, tunggu dulu, Non." Pria berkacamata menghentikan pergerakan Naina yang siap menaiki pagar pembatas. "Begini saja, Nona turun setelah aba-aba dariku, tapi untuk itu. Biarkan aku menunggu Nona di bawah dan memastikan keadaan aman."
"Apa kamu pikir. Aku akan membiarkanmu keluar dari kamar, lalu memberitahu mereka tentang niatku?" Ditatapnya pria yang berdiri di depannya dengan tatapan menusuk, "Diam, turun dan jangan membantah!"
"Hey! Cepatlah." Siti memperingatkan karena kedua orang itu justru sibuk berdebat dan bisa saja kehabisan waktu, bagaimana jika ada yang datang secara tiba-tiba? Gawat pasti.
Naina tetap membawa pria itu untuk pergi meninggalkan kamar melalui jalan yang sudah ditetapkan. Tidak peduli dengan apa yang akan menjadi resiko. Toh semua sudah diputuskan. Benar saja, secara perlahan keduanya saling bahu-membahu untuk turun dari lantai dua menggunakan seutas tali.
Sebuah motor scoopy. Cocok untuk anak gadis, tetapi masalahnya Naina tidak bisa mengendarai kendaraan roda dua. Ia terbiasa menyetir mobil. Alhasil, Pria yang bersamanya yang menjadi sopir dadakan. Nasib berjuang demi mencapai tujuan. Apa yang akan terjadi? Tidak seorangpun tahu kecuali Tuhan.
Sementara itu, seorang gadis yang dalam keadaan tak sadarkan diri. Terikat menjadi satu bersama kursi yang kini menjadi tempat duduknya. Semilir angin yang menerpa melewati lubang kaca jendela yang menganga, tak mengusik ketenangannya. Sudah hampir satu jam, tapi masih dalam pengaruh obat bius.
__ADS_1
Namun, di depan bangunan tua terdapat beberapa penjaga yang memang di tugaskan untuk mengamankan tempat tersebut. Empat pria berbadan kekar dengan tatto ular ditelapak tangan kiri masing-masing. Seperti simbol atau memang icon dari sebuah geng. Tidak ada senjata api, tetapi dari balik jaket terselip pisau lipat yang pasti tajam.
Setelah menjaga selama satu jam lebih sedikit. Akhirnya sebuah mobil sedan datang memasuki halaman bangunan terbengkalai tersebut. Begitu mobil berhenti. Barulah seorang wanita modis dengan jaket putih berbulu keluar turun dari mobil. Langkah kaki yang pasti dengan tatapan mata bersembunyi di balik kacamata hitamnya.
"Selamat sore, Mami." sapa ke empat penjaga secara serempak, membuat wanita itu mengibaskan tangan hingga mendapatkan jalan masuk tanpa halangan.
Suara ketukan irama sepatu dengan panjang heels terdengar menggema menyusuri lorong bangunan itu, hingga sampai pada lantai dua. Langkah kaki terhenti karena ponselnya trus bergetar. Satu nama yang selalu menggairahkan jiwa setengah mudanya. Tak ingin menghapus kejutan, panggilan itu diakhiri tanpa jawaban.
"Aku ingin lihat, secantik apa gadis pilihan pemudaku." ucapnya kembali melanjutkan perjalanan berjalan memasuki sebuah ruangan.
Wajah yang cantik dengan warna kulit putih yang terawat. Rambut panjang bersurai merah keclokatan. Tinggi yang ideal dengan postur tubuh yang menawan. Pantas saja untuk menjadi obsesi seorang pria. "Jika menjadi anak buahku. Banyak kolega bisnis yang akan ngantri dengan jutaan pundi-pundi uang. Bisa cepat kaya aku."
__ADS_1