
Kepergian Dokter Levi, membuat Dokter Han melanjutkan pekerjaannya yaitu membuat proposal agar bisa mendapatkan izin memulai perawatan si bayi pasien. Sebagai dokter yang disewa secara khusus dengan gaji fantastik. Tentu ia tidak bisa bertindak sembarangan. Apalagi bukan hanya sekali atau dua kali bekerjasama dengan Queen Selena.
Jika di dunia illegal, maka semua lawan maupun kawan pasti mengenal kejamnya seorang Selena yang memiliki tangan dingin. Wanita anggun dengan pesona yang membius bahkan banyak musuh secara terang-terangan mencintai sang queen. Sayangnya, wanita itu melupakan emosi di hati.
Pernah suatu ketika melakukan penyerangan. Dimana kekalahan queen ada di depan mata, tetapi detik berikutnya menjadi kemenangan dan semua itu karena pemimpin lawan jatuh hati pada pandangan pertama. Menyedihkan untuk dikenang, sejak saat itu banyak pertarungan yang hanya ditangani oleh Black.
Seorang pria muda dengan kepiawaian bela diri yang setara dengan Selena. Yah bagaimana tidak? Pemuda itu merupakan guru sekaligus kakak angkat yang memberikan rumah untuk Selena berteduh. Siapapun tahu, jika Selena bukan gadis yang mendadak kuat dengan kekuasaannya.
Langkah yang terbiasa berjalan di atas bara api dengan atap panas sinar mentari, membuat Selena tangguh dari dalam dan luar. Gadis yang ditempa sedemikian rupa untuk menjadi singa betina tanpa rasa takut. Black berhasil memberikan kehidupan kedua untuk murid sekaligus adiknya itu.
Kendatipun seperti hubungan yang rumit dan syarat akan makna. Keduanya selalu memposisikan sebagaimana mestinya. Dirumah menjadi kakak adik, di luar menjadi tangan kanan dan bos, sedangkan di ruang latihan menjadi guru dan murid. Kehidupan yang sempurna dalam kekurangan yang ada.
Setiap nyawa yang mendapat pengampunan pasti memiliki kehidupan lebih buruk dari kematian. Kenapa? Semua itu karena hukuman ditetapkan tanpa memikirkan usia, status ataupun gender. Bagi seorang Queen Selena hanya ada keadilan sama rata. Tangan dingin yang selalu menggenggam senjata tanpa gemetar.
"Permisi, Queen. Bolehkah saya masuk?" Dokter Han memberanikan diri mendatangi kamar Selena yang tertutup rapat, suara ketukan pintu pelan bersambut izin.
__ADS_1
Apa queen tidur? Biasanya masih sibuk bekerja, jadi haruskah ku tunggu atau nanti datang kembali?~ ucap hati Dokter Han dengan runtutan pertanyaan yang ia pendam sendiri.
Sementara yang dinanti tengah menikmati air hangat bercampur aroma terapi menenggelamkan diri ke dalam bath up. Wanita itu sibuk meredam emosi yang terus mengetuk mengganggu ketenangan dalam dirinya. Semua yang terjadi menjadi masalah yang menumpuk. Sungguh ia tak menyangka akan terjebak dalam cinta dan air mata.
Alih-alih meredam emosi, kenangan akan masa lalu hidupnya kembali terngiang menghantam kenyataan. Seakan menegaskan bahwa dirinya tidak pantas bahagia. Apakah itu benar? Jika memang ia dilahirkan sebagai anak pembawa malapetaka. Kenapa raga masih bernyawa?
Apakah kematiannya bisa memberikan ketenangan untuk orang-orang disekitarnya? Tidak. Semua hanya ingin menjatuhkan, tetapi tidak ada yang berniat mengulurkan tangan menjadi sandaran. Semua orang memiliki ego masing-masing kecuali Danish dan Black. Kedua pria itu menjadi siap mengayomi meski hanya menjadi seorang adik angkat.
"Huft, sadar Selena!" Tangannya sibuk menampar pipi berulang kali agar kemelut di dalam kepala enyah menjauh dari kehidupannya. "Ka Dan mencintai Shena. Jika bukan karenamu sudah pasti keluarga itu bahagia tanpa perpisahan. Please stop memikirkan pria yang tulus memberikan ruang hati sebagai keluarga."
Perdebatan hati dan pikiran yang bermula dari pertanyaan dan kenyataan. Dimana keluarga Anderson merasa ia bisa menggantikan Shena, tetapi itu tidak mungkin. Mama Quinara melihat karakteristik Shena dalam dirinya hingga meminta agar ia mendekati Dan.
Bagaimanapun yang dilakukannya demi kebaikan. Yah, semua sudah diperhitungkan. Keraguan hati terkadang datang hanya untuk mempertanyakan. Apakah jalan yang ia pilih mengikuti kata hati? Atau justru hanya memakai logika? Satu keputusan yang selalu menjadi final.
"Lebih baik untuk memastikan semuanya." Selena beranjak dari tempat pembaringan air mengembalikan kesegaran tubuhnya, lalu menyambar handuk baju berwarna biru muda sebatas lutut.
__ADS_1
Langkah kaki meninggalkan kamar mandi lalu berganti ke kamar ganti. Lima belas menit waktu yang dihabiskannya untuk bersiap hingga begitu beralih ke kamar utama dengan penampilan casual agar bebas bergerak dan nyaman. Selama beberapa waktu tidak akan menyentuh make-up ataupun alat kecantikan lain.
Hidup sederhana tanpa keinginan yang berlebihan. Inilah dunia yang selalu ia harapkan. Tenang dengan masalah, tetapi tidak ada pertarungan. Jelas demi satu tujuannya, maka Black yang mendapat banyak masalah dan harus melakukan semua pekerjaan seorang diri. Meskipun masih dipantau, tetap saja tidak akan mengubah keegoisan menjadi kebaikan.
Beberapa saat hanya berbaring menatap langit kamar yang tertutup kelambu ungu transparan. Warna yang selalu mengingatkan hidup dalam kesendirian. Orang bilang ungu warna untuk janda. Tentu saja bukan, warna itu hanya melambangkan kesunyian tanpa sandaran. Seperti kehidupan Selena.
Menghela nafas panjang mencoba untuk tetap tenang. Rasa lelah yang mendera dengan kelopak mata berat untuk terjaga, perlahan merenggut kesadarannya beralih ke alam mimpi yang menanti tanpa keraguan. Angan yang tak terjemahkan berhembus tanpa kepastian.
Waktu yang berlalu membawa sisa rasa, menghempaskan kegelisahan yang melenda. Entah berapa lama tenggelam dalam kesunyian hingga terdengar suara ketukan pintu mengejutkan dirinya. Selena terlonjak kaget bangun dengan mata yang enggan terbuka. Akan tetapi kakinya beranjak turun dari ranjang.
Dibukanya pintu kamar yang memang hanya membutuhkan kunci sidik jari. "Hmm, ada apa?" Wanita itu sesekali menguap tanpa melihat siapa yang ada di depan pintu, tetapi senyuhan lembut mengusap kepalanya seketika mengembalikan kesadarannya yang tersebar entah dimana.
Senyuman tulus di wajah pria yang kini berdiri di depannya dengan tatapan rindu menghujam memberikan kenyamanan. "Kakak disini. Darimana tahu tempat tinggalku? Tidak mungkin, pasti aku masih mimpi. Tunggu sebentar, aku balik ke kamar dulu."
Tingkat absurd Selena benar-benar menggemaskan. Setiap kali pikiran dan emosi bercampur tanpa pemisahan, apalagi tanpa penasehat. Maka hasil akhir adalah keolengan seorang queen yang terbiasa tukang perintah. Terkadang ragu akan sifat satu itu yang bisa menjadi pertanyaan bagi siapapun yang tahu.
__ADS_1
Direngkuhnya tubuh sang adik yang hampir saja menjauh, "Oleng lagi, De? Apa karena jatuh cinta, maka jiwa kepemimpinan adikku langsung gagal total? Ayo, kamu harus cerita segalanya dan remember jangan main petak umpet seperti biasa. Sebagai kakak, aku berhak memberikan hukuman yang setimpal. Benar 'kan?"
Pasrah akan takdir yang selalu mempermainkan. Berpikir bisa menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru, mungkin setelah ini semua rencana berakhir gagal total. Yah karena si biang rusuh datang berkunjung tanpa permisi maka ia harus bersiap menanggung resiko.