
Pertanyaan atau pengusiran? Terkesan absurd, sontak Naina dan Siti saling pandang, lalu menggelengkan kepala serempak. Tidak habis pikir. Apakah gadis satu itu memiliki rencana yang lain? Entahlah. Mereka datang untuk menjenguk dan tentu semua karena Danish yang memberikan kabar dadakan.
"SheZa. Lihat, kedua sahabatmu sudah datang. Jadi, nikmati waktu kalian." Danish beranjak dari tempat duduknya, "Titip istriku sebentar. Lihat disini juga ada suster. Sayang, aku akan memeriksa pekerjaan sebentar. Take care."
"Mas, Aku mau jalan-jalan." Shena tak mau melupakan rasa bosannya, namun Dan tetap pergi meninggalkan kamar. "Huft, kalian harus tanggung jawab."
What's? Kenapa malah jadi tanggung jawab. Dikira habis ngamilin anak orang kali, ya. Ampe bawa si tanggung, ama jawab segala. Apalah daya, nyatanya memang menjadi penyebab atas ketidak nyamanan dari sang sahabat. Bukannya merasa bersalah, Nai dan Siti mendengus gemas.
"Nai, cium bau bucin gak?" sindir Siti mengedarkan pandangan mata keseluruhan ruangan, seolah-olah tengah mencari asap yang mengepul.
Tak ingin membuat suasana semakin runyam. Nai menyikut lengan Siti, "Kita gak boleh larut dalam kegalauan. By the way, Shena keadaan mu tidak dalam keadaan baik. Kenapa masih membantu Yuni?"
Pertanyaan pengalihan, membuat yang ditanya hanya tersenyum tipis. Bagaimana bisa melupakan janji? Ketika ia sudah menerbitkan harapan pada hati orang lain. Tentu keadaan bukan suatu rintangan. Pada dasarnya, manusia harus mampu berjuang. Terkadang melawan rasa sakit, ada yang melawan keserakahan dalam hidup dan lain sebagainya.
Apakah kalian lupa. Jika kehidupan memang tentang perjuangan, bukan tentang penyerahan tanpa ikhtiar. Allah tidak akan mengubah takdir hamba-Nya. Jika hamba-Nya saja tidak mau berusaha untuk memperbaiki diri. Kita biasa mengatakan menunggu dijemput hidayah.
__ADS_1
Apakah kita berpikir, hidayah itu datang seperti penjual asongan? Tentu tidak. Hidayah merupakan akhir dari harapan ditengah kegersangan. Manusia yang merasa lelah, setelah semua usahanya. Lalu menyerahkan akhir dari harapan itu sebagai tangkupan doa. Jadi, Allah memberikan hidayah sebagimana mengetuk hati yang telah membeku hingga melembutkan dalam satu hembusan angin.
"Ini tentang janji." Shena berusaha beranjak dari tempatnya, dibantu Nai dan Siti yang selalu sigap. "Thank's, masalah kampus masih menjadi tanggung jawabku. Memang benar aku sudah mengundurkan diri, tapi kalian tahu. Acara itu mempertaruhkan kehormatan kampus. So, ini tanggung jawab kita semua. Benar?"
Benar juga. Kampus kan tempat mereka menimba ilmu bersama. Acara akbar juga menjadi acara tahunan yang wajib. Kenapa mereka berdua melupakan hal sederhana itu. Lagi dan lagi, Shena memberikan ultimatum tanpa diminta. Perbincangan berlanjut ala persahabatan.
Obrolan random dari utara ke barat, lalu selatan kembali ke timur. Ada saja tema yang bisa menjadi sambungan tanpa kabel. Yah begitulah, ketika orang-orang yang sefrekuensi bertemu. Lupa waktu, dan lupa situasi. Mereka akan berhenti, jika perut sudah meronta minta di isi. Sayangnya, perut masih dalam keadaan aman terkendali.
"Permisi, Nona-nona. Bisa berikan waktu sebentar? Ini sudah waktunya untuk menyuntikkan vitamin ke cairan infus pasien." cetus Suster yang berjaga, membuat Naina dan Siti memberikan ruang agar wanita berbaju serba putih itu melakukan pekerjaannya.
Tidak ada yang komplain, tetapi Shena terlihat bosan. Padahal baru beberapa detik terdiam. Tidak biasanya seperti itu. Apakah ada yang mereka lewatkan? Sesuatu yang mengubah mood sang sahabat berubah terlalu cepat. Selama ini, gadis itu selalu tenang. Meski badai menerjang.
Bukan hanya Nai yang merasakan itu. Siti juga merasakan hal sama. Meski tidak frontal menunjukkan ekspresi wajah terkejut akan perubahan Shena, sedangkan di lantai bawah. Danish baru saja menyelesaikan masakannya. Ia memang sengaja meninggalkan Shena agar bisa memberikan makanan yang sehat tanpa harus merepotkan orang lain.
Rasa penyesalan yang lalu, ingin diubah menjadi rasa manis kebersamaan. Hatinya bertekad untuk memberikan yang terbaik pada keluarga kecilnya. Meski tidak memungkiri, bahwa saat ini masih ada dilema. Apakah harus memberitahu Mama dan Papa tentang tabiat Fatih? Bagaimana jika itu hanya menyudutkan posisi istrinya?
__ADS_1
Sebagai seorang anak. Tentu memikirkan kebahagiaan dan ketenangan kedua orang tuanya. Apalagi di usia yang tidak muda lagi. Jangan sampai satu berita menjadi rasa terkejut yang luar biasa. Bukan tidak percaya pada penilaian keluarga, tetapi melihat kilas balik cerita. Ia sadar, jika Fatih pandai memainkan drama putra yang sholeh.
Serba salah. Dan yang melamun tak menyadari kedatangan Mama Quinara. Wanita yang selalu berpenampilan elegan dan seperti ibu-ibu sosialita. Langkahnya berjalan mendekati sang putra yang berdiri termenung di sisi kiri meja makan. Seulas senyum, membuat wanita itu terlihat menawan. Tidak memungkiri wajah ayu yang masih awet muda.
"Dan!" panggilnya seraya meletakkan tas jinjing ke atas meja, tapi putranya masih diam tak menyahut. "Danish Anderson?!"
Suara dengan nada oktaf yang lebih tinggi, bahkan sampai terdengar ke lantai atas. Dan terperanjat, hampir saja menyambar mangkuk yang berisi kuah sop panas. Jika tidak melihat tangan putih yang menghentikan keterkejutannya. Gerakan reflek yang menjadi penyelamat. Ditatapnya sang Mama dengan mata sendu.
"Ma, tumben?" tanya Dan mengubah ekspresi agar lebih netral. Ia tak ingin mamanya merasa cemas berlebihan. "Duduk! Mau minum apa?"
Gestur tubuh yang meragukan. Tatapan mata yang tidak tenang, gerakan bibir yang dipaksakan. Sebagai seorang dokter yang memiliki ilmu menafsirkan ekspresi pasien. Berbekal dengan itu semua, ia tahu kondisi emosi putranya. Ada yang tidak beres. Jika dipaksakan untuk bertanya. Pasti anak satu itu memilih mengalihkan topik pembicaraan.
"Dan, Mama kesini untuk melihat keadaan kalian. Sekaligus berniat menginap." Ditariknya kursi yang ada di sebelah kanan, lalu duduk merebahkan diri bersandar ke belakang. "Papamu akan melakukan perjalanan bisnis, tapi melupakan Mama yang harus tinggal sendiri. Apakah boleh menginap di rumahmu, Nak?"
Bagaimana akan menolak? Rumahnya kan juga rumah orang tuanya. Bukan tentang uang siapa yang digunakan untuk membangun. Akan tetapi, di antara orang tua dan anak. Apa harus ada izin seperti orang asing? Tentu tidak. Tanpa menunggu lama, Dan menganggukkan kepala menyetujui.
__ADS_1
"Mama, boleh pakai kamar di sisi kanan. Itu kamar memang disiapkan untuk orang tua tercintaku. By the way, Papa kemana, Ma?" tanya Dan mengalihkan fokus dari percakapan.
"Dubai. Seingat Mama, Papamu ingin mengadakan kolaborasi antara beberapa pemilik perusahaan di sana. Termasuk ....," Mama Quinara berhenti sesaat, ia tak tahu mau melanjutkan atau tidak. Jika mengatakan semua hari ini, esok tidak ada kejutan lagi. "Lupakan itu, dimana Shena?"