Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 123: Mua Gadis Pelampiasan


__ADS_3

Apa semudah itu Fatih tahu ia tengah memperhatikan? Rasanya setiap kali berdiri di sekitar si pria, selalu saja ketahuan. Langkah kaki berjalan menghampiri Fatih, lalu melakukan yang diminta sang pemimpin tanpa sepatah katapun keluar dari bibirnya.


"Apa kamu sariawan?" Fatih mendongak, lalu meletakkan botol wine ke sisi kiri tempat duduknya, kemudian meraih tangan Muana hingga gadis berusia dua puluh tahun itu duduk dipangkuannya. "Ada apa hmm? Apa anak-anak mengganggumu?"


Mua menggelengkan kepala pelan seraya menundukkan pandangan matanya. Sadar diri tidak seharusnya berharap pada pria yang tergila-gila akan wanita lain. Andaipun Fatih melirik ke arahnya, pasti hanya karena kasihan. Jadi untuk apa mencoba menunjukkan perasaan?


Direngkuhnya dagu si gadis hingga menatapnya, "Apa kamu takut denganku?" Mua kembali menggelengkan kepala, membuatnya menyatukan bibir tanpa halangan apa pun. "Kamu kaku sekali, apa ini ciuman pertama?"


Sadar akan perlakuan Fatih yang tidak biasa, membuat Mua bingung harus bagaimana. Tiba-tiba sentuhan lembut menyentak kesadarannya, tetapi tangan itu menguasainya tanpa permisi. Pagutan yang menuntut mengalirkan gelenyar aneh, panas dingin dengan bulu kuduk meremang.


"Aa-paa yang kaa-mu ...," ucap terbata Mua tak bisa mengendalikan diri ikut menikmati permainan tangan Fatih yang bersarang di kedua bukit kembarnya.


Fatih tak peduli dengan pertanyaan gadis itu, semakin terdengar suara keluhan manja yang menyenangkan raga. Kali ini sentuhannya begitu lembut membawa Mua pada peraduan dua raga tanpa rasa. Pria itu bahkan lupa tempat permainan bukanlah kamar yang tertutup rapat.


"Please, hentikan. Anak-anak bisa melihat kita," bisik Mua disisa kesadaran yang terkalahkan oleh hasrat terlarang.


Peringatan itu, membuat Fatih menghentikan kecupan manja yang sibuk memberikan tanda kepemilikan. "Ayo ke kamar!"


Tanpa ini itu, Fatih menggendong Muana seperti koala. Wine tidak lagi dibutuhkan, kini ada obat yang lebih manjur untuk melepaskan semua emosi di hati yang membara. Tatapan mata anak-anak yang melihat kedua insan itu hanya bisa melengos membiarkan. Mereka tahu bos membutuhkan asupan.

__ADS_1


Kamar Muana memiliki nuansa berbeda. Tirai putih yang menjuntai menari terkena embusan angin. Jendela terbuka menampilkan pemandangan malam tak berbintang berteman lampu yang temaram. Suasana yang romantis untuk memulai kisah ranjang yang pasti berderit sepanjang malam.


Mua berniat turun, tetapi tubuhnya ditahan Fatih. "Kiss me!" Bibir yang maju menyisakan jarak lima centi, tetapi gadis itu masih malu. "Akan ku ajarkan. Perhatikan dan cobalah."


Satu gerakan menyatukan bibir keduanya. Mua semakin mencengkram menahan rambut Fatih agar memperdalam pagutan, reaksi yang mengalir begitu saja. Sentuhan itu menambah adrenaline sang pria untuk semakin berkuasa. Akhirnya terhenti saling berebut oksigen agar kembali bernafas.


"Bukakan pakaianku dengan bibirmu!" titah Fatih tak ingin mendapatkan penolakan, tetapi Mua tidak paham apa maksudnya.


Apakah gadis di depannya begitu polos? Biarlah, ia masih bisa bekerja seorang diri. Dibimbingnya Mua menelusuri setiap inci tubuh yang harus dikenali sebagai bentuk perkenalan. Lalu mengajarkan cara menyenangkan seorang pria yang akan bermalam dengannya.


Ketika seluruh benang terlepas, ujung tombak tegak mengagetkan gadis itu. Akan tetapi, Fatih memberitahu agar tidak takut dan memainkan tombak miliknya sesuka hati. "Genggam dengan kedua tanganku, mainkan seperti squash. Cobalah! Kamu pasti ketagihan."


"Ouh, more. Kamu melakukan dengan baik sayang. Sekarang giliran ku membalas treatment mu," Fatih merengkuh tubuh Mua, tangan gadis itu pasti kelelahan selama setengah jam sibuk dengan mainan barunya.


Tanpa permisi merebahkan tubuh Mua ke atas ranjang. Fatih menekuk kaki gadis itu, tetapi justru lembah tak berdaun ditutupi dengan tangan. Sontak ia singkirkan penghalang itu, kemudian menelusup menikmati harum kehidupan surga dunia. Permainan awal yang baru permulaan saja sudah mendapatkan jambakan agar semakin dalam.


"Eemmpphh," Mua menahan dirinya agar tidak meloloskan Fatih dari kegilaan yang kini menjalar menguasai tubuhnya. Entah apa yang terjadi naluri nya meminta agar pria itu semakin menyentuh memporakporandakan miliknya.


Sentuhan demi sentuhan hanyalah pemanasan hingga Fatih memulai pertempuran yang sesungguhnya. Tidak ada aba-aba. Setelah mengunci tubuh Mua, lalu membungkam bibir gadis itu. Ia juga menghentakkan raganya bersatu menembus pagar pelindung dari rumah yang kini sah menjadi miliknya.

__ADS_1


Tidak ada teriakan selain sensasi hangat yang mengalir dari sela-sela tombak kepemilikan. "Arrrggghhh, kamu benar-benar candu. Rasanya begitu puas berhasil menembus babak baru permainan. Terima kasih, Sayangku."


"Sakiiit," lirih Mua membuat Fatih tersenyum tipis, "Kenapa malah menatapku seperti itu?"


"Rasa sakitmu hanya sesaat, tapi setelah ini kenikmatan akan kamu dapatkan. Mau lanjut?" balas Fatih seraya meniupkan napas panasnya menerpa bibir si gadis yang menganggukkan kepala pelan.


Pertempuran kembali dimulai. Sentuhan bersambut suara derit ranjang. Fatih tidak bisa menyia-nyiakan Mua yang menjadi tempat pelampiasannya. Digempur semalaman dengan berbagai gaya olahraga ranjang. Mua benar-benar harus melayani tanpa bisa melakukan penolakan.


Selama pergulatan yang trus diulang hingga lima ronde meremukkan tubuh gadis itu sampai tidak sanggup lagi untuk sekedar membuka kelopak matanya, sedangkan Fatih kembali mendapatkan stamina. Tubuhnya terasa segar setelah perjuangan menaklukkan kekuatan Mua yang ternyata sanggup menjadi pelayan nafsu dan tetap dalam keadaan sadar.


Tubuh yang terbaring dengan posisi terlentang, justru kembali membangkitkan tombak miliknya yang benar-benar aktif tanpa dipancing duluan. '"Astaga, kebangetan. Biarkan dia istirahat dulu. Siapa yang membuatmu kehilangan kendali?"


Waktu sudah menunjukkan pukul lima pagi. Fatih memaksakan diri untuk terlelap barang sejenak, meski sulit karena terus menerus diusik hasrat yang bangkit. Ia tak ingin Mua jatuh sakit karena ulahnya. Apalagi benih permainan berulang kali menyembur ke lembah yang baru ia temukan.


Sejenak menatap dari atas sampai bawah tubuh Mua yang kini tidak lagi putih mulus. Bagaimana tidak menjadi candu? Gadis itu memang memiliki kelebihan yang bisa membuat pria manapun bertekuk lutut. Cantik dengan tubuh aduhai yang selalu tertutup pakaian longgar. Diusapnya wajah yang terlelap bersambut seulas senyuman hangat.


"Aku mencintaimu sejak pertama kali kita bertemu. Sentuhan yang tidak bisa kujabarkan. Bisakah sekali lagi? Aku ingin tidur menikmati hasrat pelampiasanmu."


Terkejut dengan pernyataan Mua yang seketika membekukan raga. Gadis itu berpura-pura polos hanya untuk menjadi tempat pelampiasannya. Apakah kegilaannya sudah menulari Mua? Bagaimana mungkin? Untuk pertama kali rasa penyesalan hadir menelusup kerelung hati. Apakah masih memiliki perikemanusiaan?

__ADS_1


"Tenanglah! Aku ikhlas menjadi tempatmu berpulang. Semua adil karena kamu menyentuhku dan aku melepaskan emosimu. Bukankah ini dinamakan simbiosis mutualisme?" sambung Mua menyentak Fatih akan kebodohannya yang bisa diperdaya seorang gadis.


__ADS_2