
Para pelayan yang panik berusaha untuk menghubungi Bos mereka yaitu Fatih. Akan tetapi tidak satupun panggilan terjawab karena mereka tidak ingin mendapatkan masalah. Sehingga membuat semua pelayan memutuskan untuk memanggil ambulance, dimana itu dianggap tindakan paling benar setelah berdiskusi.
Tak menunggu lama mobil dari rumah sakit terdekat datang membawa jasad Tiara untuk pemeriksaan. Sementara para pelayan hanya bisa menunggu di rumah, mereka menanti kedatangan Fatih agar bisa memberitahukan tentang keadaan Tiara yang sudah tidak bisa diselamatkan
Namun mereka tidak menyadari bahwa apa yang mereka lakukan justru membahayakan kehidupan Fatih sebagai sang majikan. Tiara yang dibawa ke rumah sakit maka akan mendapatkan pemeriksaan secara keseluruhan dari tim medis dan memastikan bahwa jasad itu memang meninggal secara baik-baik.
Kenyataannya adalah Tiara telah diberi racun yang bisa menyiksa tubuh melemahkan saraf dan juga membuat sistem kekebalan tubuh rusak. Semua itu adalah tanggung jawab Fatih yang menjadi penyebab utama. Maka bisa dipastikan ketika pihak kepolisian juga ikut menyelidiki kasus tersebut.
Fatih akan menjadi tersangka utama dan bisa berakhir mendekam di balik jeruji besi dengan tuduhan pelenyapan. Apalagi pasal bisa tambah sebagai pembunuhan berencana. Belum lagi jika kasus tahun lalu kembali digelar, sudah pasti menjadi lebih rumit tanpa penyelesaian.
Sebagai pelayan mereka hanya menjalankan tugas pekerjaan masing-masing. Tak seorangpun tahu apa yang dilakukan Fatih adalah kejahatan yang sangat serius. Sang majikan tidak menjelaskan apapun lebih dari yang seharusnya. Seperti saat harus mengirim makanan untuk Tiara atau memberikan obat yang sudah disiapkan sesuai waktu yang ditentukan.
Sungguh miris nasib Tiara di mana ia harus meregang nyawa karena racun yang telah menyebar di seluruh tubuh. Akan tetapi, kematian wanita itu menjadi sebuah berita yang bisa menjadi awal mula jalan Danish untuk menyeret Fatih ke balik jeruji besi secara langsung. Hal itu terjadi secara kebetulan.
Bayangkan saja, jika semua orang tahu apa yang dilakukan Fatih, maka bisa dipastikan semua permasalahan akan mudah diselesaikan tanpa ada pertumpahan darah lagi. Hanya saja saat ini, baik Dan atau Fatih masih blum tahu akan kematian Tiara yang mendadak karena sibuk dengan balapan.
__ADS_1
Area balap yang telah berakhir membuat seseorang enggan untuk kembali ke tempat semula di mana semua dimulai. Laju kendaraan yang terus meluncur meninggalkan tempat pertemuan, tatapan matanya terus ke depan mencoba untuk meluruskan isi pikiran. Percuma saja memberi satu kesempatan ketika itu tidak akan pernah dihargai.
Suara yang terdengar dari earphones diabaikannya. Saat ini ia hanya membutuhkan waktu untuk sendiri merenung menenangkan diri. Sudah cukup ucapan dari sana-sini yang membuatnya semakin kalut dalam kebimbangan hati. Ia merasa semua orang sibuk mengurus hidup orang lain, hingga lupa memiliki kehidupan pribadi.
"Bagaimana caraku untuk mengembalikanmu seperti masa lalu? Apakah tidak ada lagi hati untuk toleransi sebagai bentuk kemanusiaan. Aku pikir, semua kasih sayang keluarga akan memperbaiki segalanya tetapi tidak. Tidak ada apapun lagi di antara kita karena semua sudah berakhir dan kamu tidak memiliki hak untuk dilindungi.
"Aku berpikir semua akan kembali membaik. Yah, setidaknya kamu dan aku bisa kembali menjadi saudara yang mungkin akan memiliki waktu di kemudian hari. Akan tetapi, semua itu hanya anganku. Selena benar ketika mengatakan kamu telah menjadi monster yang sanggup menghancurkan semua yang kamu sentuh. Kini biarlah semua terjadi sebagaimana takdir menginginkan."
Ungkapan emosi Dan yang menyayat menoreh luka baru, tetapi menyadarkan akan kenyataan hidup yang selalu pahit. Suka atau tidak, kini ia hanya bisa memutuskan, lalu menetapkan hati, kemudian bertindak sesuai dengan pilihan yang sudah ia buat. Meski memberikan satu kesempatan sebagai bentuk perikemanusiaan, kenyataan berkata lain dan pertempuran itu pasti akan terjadi.
Perdebatan kedua pria yang tidak bisa dihindari membawa mereka pada jalan yang berbeda saat melakukan balapan liar. Rute yang melewati daerah persawahan membuat keduanya bisa bebas melakukan apapun, termasuk berbicara tanpa menghentikan laju kendaraan.
"Ck, ngapain Loe disini? Cari mati hah!" Fatih berteriak tanpa sopan santun dengan layangan mata yang sinis penuh api kebencian, sedangkan Dan masih mencoba tenang.
"Menyerahlah! Aku tidak ingin ada pertumpahan darah, bagaimanapun kamu pernah menjadi saudaraku." sahut Dan begitu jelas walau harus terbawa angin yang memudarkan setiap kata yang keluar dari bibirnya.
__ADS_1
Tidak ada kata menyerah dalam kamus hidup Fatih. Sejak awal baginya Shena adalah hak dia seorang. Maka dimatanya yang menjadi perebut adalah Danish. Kenapa harus menyerahkan hak? Ketika dia pemilik pertama yang memiliki andil lebih besar dalam kehidupan sang pujaan hati.
Pemikiran Fatih bukan naif, tetapi bebal. Pria itu menggenggam ego yang begitu tinggi hingga lupa pada kenyataan hidup yang sebaliknya. Meskipun seratus orang berusaha untuk menasehati, tentu tidak akan mempan. Bagaimanapun ia sudah kebal dengan pendengaran yang ditulikan.
Cinta bukanlah tentang obsesi, tetapi dunia bisa menggelar panggung sandiwara. Tidak ada doa tanpa perjuangan, begitu juga perjuangan tanpa doa. Cinta akan selalu tentang pengorbanan, keikhlasan, dan penerimaan tanpa syarat. Seperti yang Dan lakukan sebagai seorang kakak demi tanggung jawab terakhirnya.
Keputusan Fatih tetap menginginkan Shena, maka sebagai seorang suami sekaligus ayah. Ia berhak memperjuangkan tiga hubungan sekaligus. Malam yang semakin larut membawa Dan pada ketenangan dalam kesendirian, sedangkan di sisi lain sang mantan adik baru saja tiba di markasnya.
Dimana pria itu langsung menyambar sebotol wine yang tersedia ditempat biasanya. Tidak peduli dengan tatapan mata anak-anak lainnya karena semua tidak akan memahami masalah yang tengah melanda merusak isi pikiran juga hati yang patah. Langkah kaki berjalan melewati semua anak markas, ia memilih duduk di gazebo yang ada di belakang markas berteman pohon mangga yang berbuah.
"Di saat Aku ingin melenyapkan, target melarikan diri. Sekarang niatku berubah justru mangsa datang bersikap sok sebagai pahlawan. Bapak sama anak sama saja. Ck, tukang cari muka. Heran gue sama keluarga itu," Satu tegukan wine melegakan tenggorokannya mengantarkan nikmat yang tiada tara.
Kesibukan Fatih yang mengoceh sendirian, membuat seseorang yang memperhatikan gerak gerik pria itu terus menghela napas panjang. Rasa di hati semakin enggan ia rasakan. Sejak pertama kali bergabung dengan anak jalanan yang dipimpin Fatih. Niatnya hanya ingin mengenal pria itu lebih baik, akan tetapi sekarang? Semua seperti sampah tak bernilai.
Ia merasa semakin hari, justru bukannya membaik akhlak semua anak di markas. Malah semakin tidak karuan arah hingga terkadang ingin sekali melaporkan semua tindak kejahatan yang selalu dia lihat. Andai hati tidak mencintai Fatih, pasti akan mudah melakukan hal tersebut. Penyesalan memang datang selalu terlambat.
__ADS_1
"Mua, apa kamu tidak capek berdiri di sana? Kemarilah bantu pijat kedua pundakku!"