
Namun, rasa lelah yang menyerang mengatakan waktunya untuk istirahat sejenak. Di depan sana tampak sebuah gubuk kecil dengan atap daun kelapa. Sepertinya gubuk itu biasa digunakan untuk berteduh kala siang hari oleh warga yang memiliki kebun di sekitar tempat ia berdiri.
Alih-alih memaksakan diri, wanita itu berjalan menghampiri gubuk. Lalu perlahan melepaskan kain yang membelit tubuh, kemudian menenangkan sang anak yang pasti ikut ketakutan akibat tindakannya. Kasihan bayi mungil yang ingin menikmati hangatnya selimut justru kedinginan di luar rumah.
"Nak, kamu yang sabar ya. Mama janji bakalan jagain kamu dan kita mulai hidup berdua saja." ucapnya seraya mendekap anak semata wayang yang terlihat pucat.
Shena mengedarkan pandangan mata, tetapi sejauh mata memandang hanya ada kegelapan kecuali lampu jalan yang temaram. Jujur saja, wanita itu tidak tahu berada dimana dan akan pergi ke arah mana. Apalagi ketika ingin mengingat sesuatu, kepalanya berdenyut kencang seperti ada gasing yang berputar.
"Ya Allah, Aku harus kemana sekarang? Jika tidak menemukan tempat menginap malam ini, bagaimana dengan putraku?" Di tengah lamunan yang terbelenggu kesadaran, Shena berusaha menenangkan bayi mungil agar kembali terlelap dalam dekapan hangat.
Sementara di sisi lain, Fatih yang mengendarai mobil menyusuri jalanan utama mengikuti jalan raya sepanjang lima kilometer dengan kecepatan sedang. Setiap kali melihat pejalan kaki, pria itu turun untuk memastikan bukan Shena. Rasa takut kehilangan lebih besar dari rasa bersalahnya.
Namun, ia lupa bahwa Shena meninggalkan rumah tanpa uang ataupun kendaraan untuk memudahkan pelarian diri. Saking kalutnya sehingga kehilangan jejak pencarian yang ada di depan mata. Benar atau salah, siapa yang tahu? Pertemuan akan selalu berakhir perpisahan, tetapi perpisahan belum tentu berakhir pada perjumpaan lagi.
Hukum alam yang selalu sama, baik itu dulu, sekarang ataupun nanti. Malam menjelaga membawa arak awan yang temaram. Waktu terus bergulir menyongsong sisa rasa yang tak sampai. Dua tujuan dengan arah jalan yang berbeda. Satu sisi Shena berjalan ke utara dan Fatih ke selatan.
Takdir membawa keduanya pada ujung pertemuan. Semua alur hanyalah mengikuti arahan takdir. Satu panggilan melepaskan Shena dari belenggu penjara manis yang Fatih siapkan untuk dirinya, sedangkan pria itu harus menangis menikmati kesendirian dalam obsesi yang tak sampai.
__ADS_1
Malam pun berlalu berganti sinar mentari yang menyapa menyatu bersama suara kumandang adzan. Tubuh yang terasa remuk perlahan ia renggangkan dengan gerakan yang sangat diperhitungkan. Tatapan mata teralihkan dimana bayi mungil masih terlelap tanpa gangguan.
Wajahnya yang imut seperti blasteran bule, membuat Shena tersentak akan sesuatu yang melintasi kepala. Mengingat postur tubuh Fatih dan bayinya ketika disandingkan sangat berbeda. Tentu pertanyaan mulai memenuhi lubuk hatinya. Apakah benar pria itu suaminya?
Belum sempat mendapatkan jawaban, tiba-tiba ada yang datang berjalan ke arahnya. Sontak ia merengkuh tubuh sang putra agar aman, "Siapa kamu?"
Seorang pria yang berpenampilan seperti guru berhenti di depan gubuk ala jerami yang sengaja di bangun Shena semalam. Di tangan kanannya menggenggam selembar foto terbalik, jelas dia tengah mencocokkan antara gambar dan pahatan asli yang ada di depan mata.
"Nona tidak apa-apa? Maafkan saya datang terlambat." Pria itu membungkukkan setengah badan, karena sikap yang aneh justru membuat Shena waspada.
Lagipula, siapa pria itu? Kenapa bisa tahu namanya? Padahal selama ini, ia merasa tidak mengenal siapapun selain Fatih. Tanpa sadar berusaha mengingat masa lalunya. Kepala yang terantuk bersambut rasa sakit menusuk. Benar-benar tidak bisa ditahannya lagi.
Sayup-sayup terdengar suara panik yang mencoba untuk mengembalikan kesadaran yang kian memudar menjadi kabut hitam. Pandangan mata mulai kabur, di saat bersamaan ada tangan yang mengambil alih bayinya. Ingin meronta, namun tak sanggup melakukan perlawanan.
Shena jatuh tak sadarkan diri. Tanpa tahu apa yang akan terjadi padanya dan sang putra. Tubuh yang ringan, tetap tetap dijaga begitu hati-hati. Semilir angin begitu menenangkan membawa kedamaian. Dua jam telah berlalu.
"Terimakasih, Dok. Sudah bersedia datang di saat darurat." Seulas senyum tulus menghiasi wajahnya, untuk pertama kalinya melakukan sesuatu tanpa niat tersembunyi. "Mari saya antar sampai ke depan."
__ADS_1
"Tidak usah, Queen. Saya tidak mau merepotkan, apalagi pasien lebih membutuhkan teman. Setelah obat berhenti bekerja, tolong minta gadis itu agar tidak memaksakan diri mengingat semua kenangan masa lalu karena itu sangat berbahaya." jelas Dokter sekaligus berpamitan pada nyonya rumah yang menghubunginya.
Selena mengangguk paham, kemudian mempersilahkan agar Bu Dokter diantar salah satu bodyguard yang ada di dalam rumah. Sementara dirinya kembali memasuki kamar dimana Shena berada. Rasa bersalah kian menyesakkan dada. Apalagi tatapan bayi yang trus tersimpan di dalam benaknya.
"Maafkan, Aku," cicitnya seraya menggenggam tangan Shena yang terasa dingin, ingin sekali langsung menghubungi Danish menyampaikan kegembiraan yang bisa memberi kebahagiaan nyata pada kakak angkatnya.
Namun ia sadar diri, bahwa situasi tidak memungkinkan. Jika menyerahkan Shena pada Danish. Bisa saja Fatih kembali melakukan siasat untuk merenggut istri kakaknya lagi. Sekarang apapun rencana yang dibuat harus memperhitungkan segala kemungkinan agar tidak ada kegagalan. Tiba-tiba ia mengingat satu pekerjaan yang harus dilakukan sang pendosa.
Sebaiknya bersabar sebentar agar situasi reda. Saat ini, Fatih tidak membutuhkan informasi dari ibu anaknya, tetapi lebih memerlukan waktu untuk melakukan pencarian Shena. Jika tidak salah persepsi, maka pria itu akan menghubungi dalam waktu satu kali dua puluh empat jam. ~ ucap Selena bermonolog pada dirinya sendiri di dalam hati.
Setiap usaha pasti akan membuahkan hasil yang telah ditentukan Allah. Termasuk memperbaiki kesalahan agar kembali ke jalan yang benar. Manusia hanya bisa menyadari, memperbaiki, mengikhlaskan seraya bersyukur atas nikmat yang telah dilimpahkan. Sebagaimana yang dilakukan Selena.
Lamunan yang tenggelam dalam perencanaan, membuat wanita itu termenung dengan mata terpejam. sehingga tidak melihat kerjapan mata yang menghantarkan kesadaran. Satu sentuhan mencoba menggengam tangannya sontak mengalihkan perhatian. Tatapan mata saling beradu, "Kamu udah bangun?"
Shena yang mengedarkan pandangan mata, membuat Selena sadar apa yang dicari istri kakak angkatnya itu. "Istirahat dulu! Bayimu aman dan terlelap di box itu. Apa yang kamu rasakan sekarang? Masih pusing atau mual atau apapun itu, coba katakan padaku."
Terlalu over khawatir akan keadaan yang perlahan membaik. Akan tetapi bibir terasa kelu tak sanggup mengucapkan sepatah katapun. Selain tangan yang menjadi bahasa isyarat dadakan. Ditunjuknya segelas air putih yang ada di atas meja di sisi kanan tempat tidur. Selena benar-benar memperhatikan setiap gerakan dan memahami keinginan Shena.
__ADS_1
"Sia ... pa .... kamu?" tanya Shena dengan nada bicara yang gagap.