
Langkah kaki menjauhkan diri. Tidak seorangpun curiga dengan tindakan Xavier karena jelas mengatakan urusan kantor. Akan tetapi, pria itu menjawab panggilan setelah keluar dari area dalam rumah. Sebenarnya aneh hanya saja tidak ada yang menyadari keanehan tersebut.
"Apa kalian sudah menemukan keberadaannya?" tanya Xavier setengah berbisik dengan pandangan mata kesana kemari seperti takut ada yang menguping.
[Maaf, Tuan. Kami sudah berhasil menemukan rumah terakhir yang dihuni selama sebulan. Sayangnya tidak ada surat pemindahan lagi, jadi kemungkinan besar masih tinggal di rumah tersebut. Apa perintah Tuan selanjutnya?] ~lapor seseorang dari seberang, membuat Xavier berpikir sejenak.
"Awasi rumah itu selama dua puluh empat jam. Gunakan sistem bagi waktu agar kalian tidak lengah. Paham?" Xavier tak ingin menghilangkan kesempatan yang ada. Apapun akan dilakukannya agar bisa mengembalikan kepercayaan semua orang.
Tanpa sepengetahuan siapapun. Pria itu mencari tahu di mana Shena asli berada bahkan mengerahkan seluruh orangnya hanya untuk mendapatkan informasi tanpa terlewat sedikitpun. Sejak menjadi suami Naina, tanggung jawab tidak bisa ditoleransi lagi. Apalagi karena ketidaktahuannya, justru kehilangan jejak tanpa bisa melakukan pembelaan diri.
Memang benar, keluarga Anderson tidak menyalahkan atau berpikir semua terjadi karena dirinya. Akan tetapi sebagai pria yang bertanggung jawab menjadikan rasa bersalah sebagai proses pembuktian diri. Dimana ia pantas memasuki kediaman Anderson sebagai suami Naina.
Panggilan berakhir dengan perintahnya, membuat para anak buah memulai strategi baru. Sementara itu, Danish pergi meninggalkan rumah seorang diri. Mobil yang dikendarai melaju melintasi bahu jalan raya yang cukup padat merayap. Tidak mungkin untuk menambah kecepatan karena harus menyesuaikan kemacetan yang parah.
Maju perlahan, membuat pria itu meraih ponselnya yang memang jarang dibuka. Begitu layar menyala, banyak notif yang bermunculan. Bukan hanya ratusan pesan, tetapi beberapa kali panggilan tak asing. Satu nama menyita perhatiannya yaitu Rafael.
__ADS_1
"Tumben telfon," Dan mendial nomor si teman lama yang kini menjadi kekasih Siti. Nada dering terdengar dari seberang dan tak lama berganti suara sapaan. "Waalaikumsalam, ada apa bro? Sorry kemarin aku gak sempat buat chek HP."
[Gak papa, Dan. By the way, Siti udah ngomong soal informasi yang gue sampaikan blum ya?] ~Rafael bertanya untuk memastikan kekasih hatinya tidak lupa dengan pesan pentingnya.
Satu nama yang menyentak kesadaran Danish. Tiba-tiba saja ia menginjak rem bersambut umpatan para pengendara lain yang terkejut dengan tindakannya. Kepanikan jelas tergambar menghiasi wajah menarik kedua alis dengan bibir terdiam sejenak.
Dan mencoba mengingat kapan terakhir ketemu Siti. Perlahan memutar memori peristiwa selama dua puluh empat jam terakhir dan seingatnya, Siti tidak pulang bersama anggota keluarga yang lain. Yah, ia ingat tiga mobil di huni oleh orang-orang yang masih sangat jelas di otaknya.
"Bro, Aku gak lihat Siti setelah pergi dari rumah sakit. Apa ada yang penting?" tanya Danish mencoba mencari tahu titik permasalahan yang mungkin bisa dia bantu.
Rafael yang bersiap menceritakan tentang seseorang pada Dan harus menunda ketika mendengar suara ketukan pintu kamarnya. Mau, tak mau ia beranjak dari tempat duduk, lalu berjalan menghampiri papan kayu di depan sana dengan jarak empat meter, kemudian membukakan pintu yang ternyata ulah si pelayan.
Danish hanya menunggu konfirmasi seraya kembali melanjutkan perjalanan. Ponsel yang kini terhubung dengan earphones memudahkan ia untuk terhubung tanpa harus fokus pada benda pipih tersebut. Jalanan yang mulai longgar, membuat pria itu menambah laju kendaraan. Ia ingin buru-buru kembali ke sebuah tempat yang mungkin bisa memberi sedikit harapan.
Lima menit perjalanan pertama terasa hening walau ia ikut mendengar percakapan antara Rafael dan seseorang yang mengeluhkan masalah pekerjaan rumah. Dari yang ia dengar, sudah jelas bahwa orang yang menganggu panggilan mereka adalah seorang pelayan. Percakapan yang cukup serius hingga berakhir tanpa menimbulkan masalah baru.
__ADS_1
[Dan, Loe masih tersambung aja panggilannya. Sorry ya lama, jadi sebenarnya gue mau bilang ...,]
Sang teman menjelaskan secara runtun, panjang kali lebar tanpa melewati rincian sekecil apapun. Sementara Dan yang masih fokus menyetir terpaksa menepikan kendaraannya agar tidak membahayakan orang lain. Berita terbaru dari Rafael jelas memberikan harapan segar. Kali ini, ia akan berusaha yang terbaik.
"Thank's a lot, Bro. Aku akan langsung terbang dan kamu siapkan cuti panjang agar bisa menemani keliling mencari pengkhianat itu." Danish mematikan panggilan tanpa mau mendengar jawaban dari seberang, hatinya bergetar merindukan wajah yang selalu menjadi dunia berwarna milik jiwa dan raga.
Bandara internasional Soekarno-Hatta. Pukul sebelah siang, Danish dengan penampilan apa adanya tanpa membawa apapun selain ponsel dan dompet langsung bisa mendapatkan tiket beserta keperluan melalui koneksinya. Semua mudah ketika memiliki nama dan uang. Peribahasa itu memang nyata adanya.
Penerbangan ke London yang membawa secercah harapan. Satu berita sudah cukup untuk mendapatkan kesempatan merebut miliknya kembali. Semua adil dalam perang ataupun cinta. Apalagi statusnya masih menjadi suami Shena, maka hukum manapun tidak bisa menghalangi dia.
Memang ketika hati di kuasai harapan, justru manusia melupakan kesabaran. Satu langkah yang diambil Dan seakan terkoneksi di hati sang musuh. Dimana Fatih langsung memutuskan untuk kembali ke Indonesia dengan tiket kelas VIP yang sengaja dipesan demi kenyamanan keluarga kecilnya.
Dunia boleh bermain panggung sandiwara, tetapi takdir akan selalu sebagaimana ketetapan yang sudah digariskan. Waktu ibarat cermin yang memantulkan sinar dari dalam kegelapan, seperti pertemuan, maka akan ada perpisahan. Akan tetapi, waktu yang menentukan adalah Tuhan.
Satu sisi Danish memasuki lobi gerbang untuk memulai perjalanan barunya, sedangkan di sisi lain Fatih masih berusaha membujuk Shena agar mau kembali ke Indonesia. Kerumitan dan ketegangan semakin terasa, apalagi kenyataan yang ada berubah samar menjadi kepalsuan. Bukan ilusi, tetapi permainan para manusia yang berhati penuh keegoisan.
__ADS_1