
Obrolan singkat dengan Dokter, membuat Danish merasa lebih baik. Sekaligus merasa bersalah atas sikapnya beberapa hari terakhir. Ia tidak menyangka. Jika kesehatan Shena dipertaruhkan atas keraguannya. Penyesalan memang selalu datang terlambat.
Setelah mendapat izin untuk menjenguk Shena. Danish bergegas masuk ke ruangan rawat sang istri yang memang langsung dipindahkan ke ruangan VVIP. Fasilitas yang lengkap dengan suster dan dokter yang akan memantau selama dua jam sekali. Apapun akan dilakukannya, demi kesembuhan Shena.
Pintu yang didorong ke dalam menampakkan pemandangan sebuah ruangan dengan nuansa ala rumah sakit. Dinding putih, dengan tirai biru muda menutupi setengah jendela kaca yang menjadi penerang ruangan dari sorot sinar matahari. Shena terbaring di atas brankar dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.
Wajah pucat dengan bibir putih tanpa sari. Diamatinya wajah yang terlihat begitu muram. Apalagi lingkaran panda yang menunjukkan, istrinya mengalami gangguan waktu tidur atau mungkin, justru sering begadang. Entahlah, tapi rasa bersalahnya semakin besar dengan kondisi memprihatinkan sang istri.
Bagaimana reaksi keluarga Shena? Jika tahu, ia tidak becus menjaga putri yang telah dititipkan dan menjadi tanggung jawabnya. Apakah masalah di antara mereka menjadi kemelut drama di dalam keluarga nantinya? Satu yang mengusik pikirannya. Haruskah mengabari keluarga akan kondisi Shena yang dirawat di rumah sakit?
Bingung hingga tangannya gemetar tak sanggup menyentuh mengusap pipi putih sang istri. Rasa bersalahnya semakin menusuk menyakiti keyakinannya. Apakah dia sudah menjadi suami yang bertanggung jawab? Ketika di depan mata, mengatakan dia bukan pria yang bisa diandalkan
Dilema antara sesal dan kecewa berbalut kekhawatiran. Alih-alih mencoba memperbaiki keadaan. Danish justru tenggelam dalam emosinya sendiri. Pria itu lupa, saat ini Shena sangat membutuhkan dukungan dan bukan kesendirian. Apa arti suami? Jika tidak menjadi tempat berpulang agar bisa bersandar dalam kepasrahan.
__ADS_1
Terkadang manusia fokus pada hal yang sudah berlalu. Padahal, kita hidup untuk ke depan. Cara yang salah untuk memperbaiki diri. Jika tidak ada pengendalian diri, lalu tenang memikirkan langkah selanjutnya. Masalah tidak akan berakhir begitu saja, tapi setidaknya bisa membuat antisipasi untuk mencegah dampak yang lebih besar.
Dua jam berlalu. Danish yang sibuk menunggu Shena dengan harapan kesadaran gadis itu bisa cepat kembali, mulai merasa bosan. Bukan karena duduk sendirian menatap wajah pucat istrinya. Melainkan, ia tak sabar ingin meminta maaf pada wanitanya. Pria itu menanti keduanya kembali berbaikan.
Sayangnya Shena masih terlelap dalam mimpi bermain bersama awan dalam kebahagiaan semu. Semua itu berkat obat tidur yang sengaja disuntikkan agar pasien mendapatkan waktu istirahat yang banyak. Tentu setelah hasil pemeriksaan keluar, dan menjelaskan jika pasien mengalami insomnia selama beberapa hari terakhir.
Suara pintu terbuka, mengalihkan perhatiannya. Ternyata seorang dokter dan suster datang menyapa, lalu melakukan pemeriksaan ulang. Tak lupa menuliskan hasil diagnosa sang pasien. Hanya membutuhkan waktu lima menit, suster dibiarkan untuk meninggalkan ruangan itu menyisakan Danish dan Si Dokter.
"Ok, Dok. Saya akan setia menunggu istriku sampai kembali sadar dan orang pertama yang harus dilihatnya adalah aku. Suaminya. Jadi, dokter bisa kembali melanjutkan pekerjaan." Balas Danish tanpa emosi, ia sudah merasa di titik kesabaran untuk memulai penantian.
Benar saja, kepergian dokter dari ruangan rawat Shena. Pria itu masih duduk menetap di kursi yang sepertinya sudah di lem. Padahal tidak. Semua itu hanya tentang keteguhan hati. Kemarin sudah banyak waktu yang terbuang, bahkan tidak memiliki waktu untuk sekedar menyapa Shena.
Kali ini, tidak boleh ada kesalahan lagi. Digenggamnya tangan sang istri. Sesekali mengusap manja dan kecupan hangat. Ia rindu akan sikap Shena yang terlalu cepat dewasa. Penyesalan bukan tentang pengabaian, tetapi juga ingatan yang selalu datang tanpa diundang.
__ADS_1
Hari ini, Shena masuk kerumah sakit. Danish yang panik sampai melupakan, jika izin kuliah istrinya masih belum diurus. Sementara ponsel gadis itu tertinggal di rumah. Tidak ada yang bisa menemukan keberadaan pasutri itu, hingga membuat cemas hati orang-orang yang mengenal sebagai keluarga.
Kantin kampus, pukul setengah dua belas siang. Naina dan Siti enggan menyuap bakso kesukaan mereka. Tidak biasanya, Shena menghilang. Ingin mencari tahu, tapi mereka lupa untuk meminta nomor telfon Danish. Benar-benar serba salah, hingga selera makan ikut hanyut dalam sekejap mata.
Kegelisahan kedua gadis itu. Semakin bertambah ketika Yuni bertanya tentang keberadaan Shena yang menghilang. Bagaimana mereka berdua tahu? Jika sang sahabat telah menjanjikan proposal untuk diajukan ke Pak Ibrahim, sedangkan mereka saja juga tengah sibuk mencari cara untuk tahu keadaan Shena.
"Gini saja, Yun." Naina mengambil sikap untuk nenyudahi dilema hatinya, tidak tega juga dengan wajah Yuni yang seperti mumi berjalan. "Jelaskan detail dari acara akbar pada kami. Aku akan usahakan proposal hari ini siap, tapi nanti saat Shena ditemukan. Kamu bisa menukarnya dengan proposal sahabat kami. Gimana?"
Tawaran yang menggiurkan, tetapi ada keraguan di dalam hati Yuni. Bukan tidak tahu, jika Naina dan Siti sepaket bersama Shena. Hanya saja, wakil senat saja sudah menyerah untuk membuat proposal acara akbar. Lalu, bagaimana kedua gadis di depannya bisa mengerjakan tanpa tahu seluk beluk sejarahnya?
Paham dengan keraguan Yuni, membuat Siti bersenandung dangdut untuk menghalau emosi atau ketidaksabarannya. Dia bukan Naina yang genius, atau Shena yang dewasa. Hatinya baik, tapi mudah terbakar. Pengalihan terbaik hanya lagu dangdut yang bisa mengusir benih-benih yang menyesakkan dada.
"Yun, apa kamu punya pilihan lain?" Naina bertanya untuk memastikan akan waktu yang sudah tidak bisa ditunda lagi, sekilas dari pengamatan bahwa proposal harus dikirim hari ini juga. "Tidak ada waktu lagi, bukan?"
__ADS_1