Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 91: Pria itu?


__ADS_3

Tak ingin menaruh kecurigaan apapun, maka ia membiarkan suster mengambil bayi dari dalam box. Yah apa gunanya mengeluh? Ketika sadar benar semua terlanjur menjadi bagian hidupnya. Tidak merencanakan untuk memiliki anak dari pria lain, tetapi semua sudah terjadi.


Lamunannya terus bergelut antara keinginan hati dan penolakan logika. Sekarang semua berubah, hanya saja sampai kapan akan berpura-pura menjadi orang baik? Dia hanya ingin memiliki wanitanya tanpa bayangan masa lalu. Pada akhirnya semua menjadi berantakan.


Tiba-tiba kesadarannya tersentak begitu terdengar dering ponsel yang mengejutkan. Benda pipih yang bersemayam di keluarkan, lalu menatap layar yang terus berkedip dengan sebuah nama yang tertera. Alisnya terangkat tak paham, kenapa wanita yang setahun ini diam tiba-tiba saja menelepon dirinya. Apakah sesuatu telah terjadi?


Tanpa menunda digesernya icon hijau, lalu menempelkan benda pipih itu ke telinga. "Apa semua baik?"

__ADS_1


Percakapan panjang kali lebar selama kurang lebih satu jam berakhir dengan tatapan mata nanar. Bagaimana takdir mempermainkan begitu mudahnya, bahkan kini harus memilih antara kebahagiaan impian atau berita yang baru dirinya dengar. Dua sisi yang ingin ia genggam seorang diri. Apakah bisa?


Dilema di hati akan kehidupan yang tidak sesuai ekspektasi terus bergelayut mencabik kesadaran yang tersisa. Langkah kaki berjalan meninggalkan ruangan bayi, ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit dengan wajah lesu tak bersemangat. Jangankan mempertahankan fokus, bahkan caranya berjalan saja seperti orang mabuk.


Terus berjalan tanpa menoleh kanan kiri hingga tidak menyadari tatapan mata yang terus mengikuti langkah kepergiannya. Pria itu meninggalkan area rumah sakit menuju taman, tetapi tidak memperhatikan jika dari arah belakang ada yang mengikuti. Seseorang yang yang menjaga jarak aman karena ingin memastikan penglihatannya.


Hening berteman embusan angin. Selama beberapa waktu hanya ada kesendirian, tetapi setelah terdiam selama lima belas menit barulah terlihat pergerakan dari pria itu. Bukan beranjak dari tempat duduknya, ia hanya mengambil ponsel melakukan panggilan secara singkat. Percakapan yang mengatur pertemuan darurat.

__ADS_1


Semua terdengar jelas, tetapi ia masih tidak tahu siapa yang dihubungi oleh pria itu. Hanya saja setidaknya sudah mendapatkan sedikit penjelasan dan ia akan mengikuti perkembangan hingga menemukan titik pencerahan. Niat hati sudah pasti meski sadar beresiko tinggi.


Sementara di sebuah ruangan di dalam rumah sakit terdengar suara bayi yang menangis begitu kencang. Tangisannya terus bergema karena makhluk mungil itu merasakan rasa sakit yang di alami oleh seorang ibu. Wanita di atas ranjang yang baru saja melahirkan dirinya mengalami pendarahan hebat.


Para dokter bergegas melakukan pertolongan agar tidak menjadi insiden yang mengerikan. Bayi yang awalnya ingin diberikan asi pertama, justru berubah kepanikan untuk semua orang. Para dokter dan suster bekerjasama dengan sebaik mungkin, sedangkan pasien terus mengalami penurunan imun hingga jatuh tak sadarkan diri.


Kepanikan semakin bertambah, tetapi ketenangan di rasakan tubuh tak berdaya dengan jiwa yang terbang melayang. Samar-samar bayangan wajah datang menyapa. Bayangan itu seperti tersenyum ke arahnya seraya merentangkan kedua tangan penuh harapan. Tanpa sadar tangannya ikut terangkat berusaha meraih bayangan itu, membuat para dokter bertindak lebih cepat.

__ADS_1


"Mas Dan ...,"


__ADS_2