
Tangan nakal pemuda itu berhasil mengalihkan perhatian Lisa. Namun tidak mengubah kesimpulan yang sudah terpatri di dalam memori gadis itu. Lisa Yolanda, simpanan dari seorang pria tua pebisnis. Kehidupan yang terjamin, tetapi tidak pernah mendapatkan kepuasan batin.
Sebenarnya, ia dan Fatih satu angkatan sekolah. Hanya saja berbeda sekolah dan baru dipertemukan karena pertemuan tak disengaja. Hobi yang sama, membuat keduanya seperti sepasang kekasih yang sudah lama tidak berjumpa.
Sayangnya setelah semakin mengenal. Justru menjadi keterikatan yang tidak bisa dipisahkan. Dimana Fatih membutuhkan informasi tentang masa lalunya, sedangkan Lisa yang pada waktu itu baru menjadi sugar baby merasa kekurangan sentuhan.
Sebagai mana ikatan yang terbiasa saling membutuhkan. Begitulah hubungan yang ada di antara kedua insan itu. Kini bukan tentang hak atau kewajiban. Ini tentang milik dalam keegoisan yang tidak bisa dibagi. Meski itu untuk kebaikannya.
__ADS_1
Pergulatan panas dengan deru nafas yang saling berebut terdengar bergema mengusir keheningan di dalam kamar apartemen mewah itu. Fatih selalu memberikan service terbaik. Ia sadar kelemahan Lisa adalah sentuhan manja, sedangkan kesenangannya mempermainkan lawan di atas ranjang bergoyang.
Jangan tanya keahliannya dalam menjelajahi olahraga satu itu karena selama ini selalu menambah ilmu dengan beberapa partner ranjang yang panas. Malam yang semakin gelap membawa peluh yang terus mengalir. Pasangan itu tenggelam dalam kebersamaan hingga lupa dunia luar.
Dua jam telah berlalu tidak lagi terdengar rintihan yang menggairahkan. Mata yang terpejam, membuat Fatih beranjak dari tempat tidurnya. Sesaat menoleh memastikan Lisa tidak ikut terbangun. "Sudah waktunya aku pergi. Maaf gadisku karena kisah kita hanya sampai disini."
Melayani nafsu sang kekasih bukan tanpa alasan. Pergulatan panjang yang menyita banyak energi bisa menjadi obat tidur alami untuk Lisa. Yah, seperti biasa gadis itu pasti terlelap sampai keesokan harinya. Jadi waktu yang tersisa bisa digunakan untuk melakukan rencana selanjutnya.
__ADS_1
"SheZa, lebih baik kamu istirahat!" titah Danish dengan tatapan kasihan karena istrinya terus saja menguap, sudah pasti kelelahan. "Aku disini bukan? Jangan khawatir kita bisa menghadapi semuanya bersama-sama."
Rasa kantuk masih enggan pergi meninggalkannya, bahkan setelah meminum tiga cangkir kopi. Tidak ingin lebih jauh memaksakan diri untuk tetap berjaga. Akhirnya ia tumbang terlelap di pangkuan Danish. Sesaat mengusap sandaran paha hingga mendapatkan kenyamanan. Gelap malam yang bersambut semilir angin nan dingin.
Siapa yang tahu hari esok? Tidak seorang pun karena esok masih menjadi misteri. Malam terakhir yang dihabiskan pasutri dengan berdiskusi, tak luput dari debaran jantung yang kian berdenyut cepat. Ingin merengkuh sisa kesadaran, namun tangan tak tega membuyarkan mimpi indah yang hanya ilusi.
Setiap insan selalu memiliki alasan atas apa yang mereka lakukan, tetapi tidak semua insan memiliki jawaban atas pencarian mereka. Sama halnya keluarga Anderson yang harus menyerahkan keputusan tanpa melakukan perlawanan. Satu kebenaran yang mengubah keadaan hingga menghapuskan semua kemungkinan.
__ADS_1
Keesokan harinya, Shena sudah berada di dalam mobil dengan duduk di kursi belakang. Sesuai kesepakatan, gadis itu harus ke bandara untuk melakukan perjalanan udara bersama Fatih. Pemuda itu berpikir, jika perceraian terjadi maka perpisahan harus dilakukan di hari yang sama pula.
"SheZa!" Dan memanggil istrinya seraya mengulurkan sebuah kotak beludru biru dongker. "Happy valentines. Hadiah pertama di hari kasih sayang. Pakailah karena ini sangat cocok untuk istri kecilku."