Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 126: Firasat Danish


__ADS_3

Dua hari setelah penangkapan Fatih. Dunia terasa begitu tenang, tetapi tidak untuk dia yang merasa semua kejadian terlalu mendadak dan seperti sudah direncanakan. Entah hanya perasaan dia saja atau memang begitu adanya. Bagaimana tidak memikirkan? Ketika sadar ada yang tidak beres.


Sepertinya kematian Tiara justru dimanfaatkan seseorang untuk mengamankan Fatih dari karma yang sebenarnya. Jika bukan karena penangkapan pihak kepolisian, bisa jadi akan berakhir di bawah arena gulat. Pertumpahan darah tidak bisa terelakkan lagi.


Pikiran yang terus diterjang tanpa batasan teralihkan ketika merasakan sentuhan tangan yang menepuk bahunya, "Udah pulang? Apa yang terjadi di penjara?"


"Tidak banyak, selain drama yang memang cukup menyebalkan. Kenapa ada orang seperti Fatih? Sudah tahu salah, tapi masih saja tersenyum sinis. Apalagi wajahnya sudah dipenuhi lebam." curhat Black yang baru saja pulang dari penjara, meski pengacara yang menemui si monster dan ia hanya mengawasi dari ruangan lain.


Mendengar hal itu, membuat Dan terkekeh. Ia tak bisa menahan rasa geli di perutnya. Kenapa Black tiba-tiba seperti anak kecil yang begitu polos. Sudah tahu Fatih memang pria tidak bermuka. Tentu tidak memiliki rasa malu, apalagi perikemanusiaan. Lalu kenapa berharap sisi normal dari pria itu?


Dan menarik tangan Black agar duduk di sebelahnya. Taman yang ada di depan mata menjadi keindahan di tengah rasa yang bercampur aduk. "Aku mau bicara serius dan kurasa ini penting. Entah ini hanya sekedar firasat atau memang kita yang terkecoh."


"Maksudnya apa, Dan? Aku gak paham arah pembicaraan yang kamu utarakan." sela Black menyelonjorkan kedua kakinya dengan malas.


"Aku tahu seperti apa Fatih. Dia tidak memiliki planning untuk tertangkap polisi semudah itu dan dengan cara yang terlalu mudah. Bayangkan saja, dulu bisa memanipulasi keadaan dengan menukar Shena menjadi Tiara. Apa jaminannya kenyataan yang kita lihat benar adanya?

__ADS_1


"Apalagi setelah mengamati, lalu aku simpulkan semua rangkaian peristiwa itu. Justru menemukan banyak kejanggalan. Di malam itu, saat kami berdebat di arena balapan. Jelas sekali dia ingin kematianku, otomatis apa yang terjadi saat ini bukan keinginannya. Iya 'kan? Kemudian kita bisa flashback ke belakang.


"Sunshine jelas mengatakan bahwa Fatih ada di rumah sakit dan siap menyerang ku pada malam yang sama hingga semua anggota keluarga terpaksa pindah ke London. Sekarang ini, posisi berbanding terbalik. Fatih sendirian dan kehilangan Shena yang menjadi tujuan hidupnya. Jika dipikirkan secara tenang, apakah mungkin ini kebetulan?" Dan menjelaskan semua pemikirannya tanpa rasa sungkan.


Black mencoba mencerna setiap kata yang masuk melewati gendang telinganya. Lima puluh persen kenyataan yang sudah berlalu, dan tiga puluh persen penilaian seorang Danish. Sementara dua puluh persen masih ambigu tanpa arah tujuan. Benar dan salah memiliki garis tipis yang bisa menjadi penghalang.


Bukannya tidak paham, tetapi ia ingin memastikan segala sesuatunya melalui versi yang menyita emosi dan pemikirannya. Satu sisi mengiyakan tanpa ada keraguan hanya saja beberapa pertanyaan muncul tanpa diundang. Apa manfaat Fatih melakukan drama penangkapannya? Dibalik jeruji besi sudah pasti tidak bisa bergerak bebas.


"Black!" panggil Dan seraya menyenggol lengan pria yang duduk di sebelahnya.


Menghela napas begitu dalam, lalu mendongak menatap langit bangunan yang ada di atas kepalanya. "Firasat adalah bentuk dari peringatan. Kita tidak bisa menyepelekan hal itu hanya saja untuk mengetahui kebenarannya. Siapa yang akan menunjukkan jalan karena sejak awal kita berpikir, bahwa ini akhir dari kegilaan Fatih."


"Jadi sekarang mau bagaimana? Apa kita harus membuktikan firasat itu benar atau tidak?" Black mengakhiri penilaiannya dengan pertanyaan yang membuat Danish terdiam sejenak.


Sadar bahwa keadaan tidak semudah yang ia pikirkan. Ingin mengabaikan, tapi tidak mungkin. Maka demi mengantisipasi keadaan yang bersifat tipu daya. Mau tak mau harus bertindak, tiba-tiba di tengah perbicaraan yang serius seorang pelayan datang menyampaikan ada tamu yang ingin menemui kedua pria itu.

__ADS_1


Tidak tahu siapa yang berkunjung, tetapi dari penyampaian bibi jelas tamu tak di undang tersebut memiliki maksud dan tujuan yang jelas. Black dan Danish jalan bersama menuju ruang tamu karena orang asing sudah menunggu tanpa diminta masuk ke dalam rumah.


Seorang wanita dewasa dengan penampilan elegant yang membawa berdiri menenteng paper bag hitam di tangan kanan. Wanita itu sibuk mengedarkan pandangan mata mencari serta mengamati semua yang ada disekitarnya. Furniture dan tata letak barang yang rapi dengan gaya casual. Terkesan rumah keluarga yang seharusnya ditempati satu keluarga besar.


"Aroma ini berasal dari bunga Camelia yang dipadukan dengan sandalwood. Manis berbaur ketenangan yang bisa menjadi pengendalian diri di kala emosi. Apa kalian menggunakan parfum yang sama?" Wanita itu berbalik hingga pandangan mata terpaut secara bergantian menatap Danish, lalu Black. "Perkenalkan nama ku Muana, Inspektur Alden Mahend dari divisi cybercrime."


Sejenak mengingat nama yang terasa familiar. Muana adalah salah satu rekan adiknya melakukan kesepakatan pembebasan wilayah di salah satu pusat illegal. Seingatnya wanita itu memiliki kebiasaan yang cukup unik yaitu hanya menerima satu pekerjaan dalam satu periode. Sifat lembut, sikap tegas dengan cara kerja lain dari yang lain.


Selena pernah mengatakan bahwa bekerja sama dengan Muana sangat menguntungkan, tetapi harus hati-hati agar tidak terjebak dalam kerumitan skema kerja si Inspektur. Benar atau tidaknya, ia percaya dengan setiap informasi yang selalu dijelaskan oleh sang adik. Apalagi setelah melihat Muana secara langsung.


"Inspektur ya? Jadi apa maksud dan tujuanmu datang menemui kami. Bisa jelaskan! Mari kita duduk bersama." Black tidak ingin terpancing dan memilih santai, tak lupa mempersilahkan Muana untuk duduk agar perbincangan terbebas dari emosi yang bisa saja datang tanpa diminta.


Sebagai tamu menurut, bagaimanapun ia datang dengan niat baik. Kini ketiganya duduk bersama, tetapi Wanita itu mengeluarkan sesuatu dari paper bag hitam yang diletakkan ke atas meja di antara mereka bertiga. Sebuah buku catatan harian dengan sampul berwarna merah muda. Buku itu masih dalam keadaan tertutup.


"Tujuanmu terpancar dari tatapan mata sendu yang meminta keadilan. Apakah semua ini berkaitan dengan Fatih?" Black memperhatikan perubahan ekspresi sang tamu tak diundang, dimana Muana tampak terbelenggu pada rasa yang tidak bisa diutarakan.

__ADS_1


Buku catatan harian yang sengaja dia bawa untuk menjelaskan situasi, tragedi dan kebenarannya dibuka tanpa rasa ragu. Satu tarikan napas membawanya pada masa lalu. Danish dan Black saling pandang karena tiba-tiba harus menjadi pendengar dongeng kisah hidup seseorang.


Tiga puluh menit menjadi waktu yang panjang penuh penghayatan, "Putuskan apa yang kalian inginkan, sedangkan Aku akan menerima semua itu tanpa mengeluh. Hanya saja jika mungkin berikan kami satu kesempatan terakhir. Baiklah, aku pamit. Permisi."


__ADS_2