
Romantis. Tidak diragukan lagi. Waktu mungkin telah berlalu, tetapi cinta baru bersemi. Perlahan, namun pasti. Danish mulai mencuri hatinya. Sah tanpa harus merebut dari milik orang lain. Pasutri itu berjalan meninggalkan kampus menuju mobil yang terparkir di depan gerbang.
"Silahkan, Tuan Putri." Danish membukakan pintu untuk Shena dengan senyuman hangat yang bersambut rona merah di kedua pipi sang istri.
Setelah memastikan posisi aman. Danish berlari kecil memutari depan mobil, lalu masuk ke dalam, kemudian memasang sabuk pengaman seraya menyalakan mesin mobilnya. Shena juga sudah duduk dengan sabuk pengaman yang terpasang.
"Mas, kenapa menjemputku? Sebenarnya, aku masih ada jam kuliah." Ujar Shena memulai perbincangan, membuat Dan tersenyum tipis dengan tangan yang mulai sibuk menyetir. "Apa ada yang begitu serius?"
"Aku akan menjelaskan, tapi setelah sampai ditempat yang ingin kutunjukkan. Sekarang, ceritakan dulu. Apakah semua rencanamu lancar?" tanya balik Dan, karena apapun yang akan menjadi tujuannya hanya bisa dijelaskan dengan bukti di depan mata.
Mencoba untuk bersabar, walau itu tidak mudah. Akhirnya perjalanan hanya diisi oleh Shena. Gadis itu menceritakan tentang proyek Naina dari awal, tengah hingga akhir. Secara keseluruhan dan sesekali di tanggapi oleh Danish dengan pertanyaan atau penjelasan dari sudut pandang seorang pebisnis.
Secara tidak langsung. Shena belajar pola dari perusahaan yang pasti akan menjadi riset untuk mengembangkan proyek nya nanti. Perdebatan yang lebih baik disebut sharing, membuat perjalanan selama tiga puluh menit di lalui tanpa ada keheningan. Begitu mobil memasuki sebuah wilayah yang masih sedikit bangunan. Barulah tatapan Shena teralihkan.
"Wow, wilayah yang luas dengan hijaunya padi. Pasti pemilik lahan harus memiliki banyak karyawan untuk menggarap pertanian seluas itu." Celetuk Shena dengan tatapan kagum menikmati pemandangan yang menyegarkan mata, apalagi begitu jendela kaca diturunkan. Semilir angin menerpa.
__ADS_1
Danish mulai mengurangi kecepatan ketika melihat beberapa orang bawahannya yang sudah menunggu di tempat yang telah mereka sepakati. Lima anggota yang akan menjadi tiang untuk masa depan sang istri. Begitu mobil berhenti di belakang mobil karyawannya. Barulah, ia mengajak Shena untuk turun.
Keduanya berjalan menghampiri kelima orang yang sudah sampai duluan. "SheZa, perkenalkan tim khusus untuk proyekmu. Pak Sean, Ibu Aiwa, Pak Bara, Pak Idris dan Nona Marsha. Mereka berlima bisa diandalkan. Apapun masalahmu, mereka akan mendapatkan solusi dari yang terbaik, menjadi yang terhebat."
"Selamat siang, Nona Shena. Kami harap, Anda mau menerima kami sebagai tim karena Tuan Muda memberikan tanggung jawab yang luar biasa. Kami tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan ini." Sambut Pak Bara mewakili ke empat rekannya agar tidak bicara saling timbrung.
Satu persatu mendapatkan sambutan jabatan tangan dari Shena. Tidak harus dijelaskan panjang kali lebar karena situasi yang ada, sudah menjelaskan apa yang terjadi. "Mas, apakah ini, tempat yang kamu bicarakan beberapa waktu lalu? Bagaimana dengan penduduk sekitar? Bukankah ini lahan mereka."
Tanah yang masih berupa sawah dengan tanaman padi yang baru saja mulai tumbuh setinggi satu meter dengan biji padi yang kopong. Warna hijau yang menyegarkan pandangan mata dengan suara kicauan burung terbang kesana kemari di angkasa. Tentu bukan hal dibenarkan untuk mengacau siklus tumbuhan yang masih membutuhkan waktu sekitar satu bulan setengah untuk siap dipanen.
"Ini adalah wilayah atas namamu. Aku berniat untuk mendirikan perumahan swasta pada awalnya, tetapi impianmu lebih penting dari bisnisku." Dan menunjuk dari satu arah ke arah lain, "Semua itu adalah batas dari kepemilikan. Jika ingin membangun sebuah bangunan. Setidaknya membutuhkan waktu enam bulan agar sesuai dengan desain yang kamu harapkan."
"Jika melihat situasi, maka bangunan akan siap dalam waktu delapan bulan. Mereka sudah memanen, dan kita memulai pekerjaan. Tanah memang milik kita, tetapi aku sengaja meminjamkan pada penduduk sekitar untuk dikelola selama dua tahun. Jangan khawatir. Ini memang panen mereka yang terakhir dan genap seperti perjanjian awal."
Apakah harus lega? Jika dua tahun telah berlalu, dan para warga yang meminjam lahan. Di hari esok, tidak memiliki lahan lagi untuk bercocok tanam. Bagaimana akan memenuhi kebutuhan hidup? Tidak mungkin, mereka serentak menjadi pengangguran tanpa penghasilan. Bukan solusi yang tepat.
__ADS_1
Jika menunggu pembangunan dari proyek, tidak akan menjadi hasil yang baik saja. Shena mencoba tenang, menghirup udara secara perlahan. Mempertimbangkan baik dan buruknya dari proyek yang akan dilakukan, tentu tanpa merugikan pihak lain. Satu yang harus diingat yaitu dukungan masyarakat sangat diperlukan.
"Aku setuju, tapi dengan satu syarat." Tegas Shena dengan suara pasti, membuat kelima karyawan saling pandang, mereka tidak menyangka istri bos lebih garang saat mode serius. "Siapapun yang memiliki lahan, mereka akan kehilangan mata pencaharian. Kita yang bertanggung jawab, apakah kita siap menjadi pelatih agar mereka siap bergabung dengan proyek kita."
"SheZa, apa maksudmu adalah proyek akan memilih target untuk seluruh usia? Tidak hanya berpatok pada generasi muda." Sahut Dan memastikan pernyataan sang istri yang dibalas anggukan kepala. "Apa kamu yakin dengan keputusanmu, istriku?"
Apa arti dari sebuah impian? Ketika dimulai dengan merenggut kehidupan orang banyak. Nihil. Kenyataannya, manusia terlalu banyak mengandalkan keras kepala dan mengedepankan ego. Manusia lupa, perubahan terjadi harus seimbang, bukannya menjadi penyebab kehancuran.
Termasuk keputusan Shena. Ia memikirkan masa kini, esok dan masa depan. Jika proyek dimulai dengan melukai hati banyak orang. Tentu usahanya tidak akan berkah, tetapi akan dikutuk dalam doa orang-orang yang teraniaya. Tidak peduli dengan kesepakatan yang terjadi. Tetap saja, pembangunan nanti akan menjadi awal kesengsaraan hidup penduduk sekitar.
Maka, demi kebaikan bersama. Solusi yang terbaik mengubah jalur perjalanan. Akan tetapi, tujuan untuk impian tetaplah sama yaitu menggerakkan generasi yang ada agar bisa bangkit, berjuang meraih kesuksesan bersama. Adil bukan? Bisnis yang membutuhkan modal banyak dan akan sepadan dengan hasilnya suatu hari nanti.
Semua orang sepakat. Kerjasama akan dilakukan, dan masalah yang pasti datang, sudah mendapatkan solusi tanpa harus dipertanyakan lagi, dengan kata lain. Semua akan berjalan seperti yang direncanakan. Tidak ada lagi penundaan kecuali waktu yang memang sudah ditetapkan.
"Sekarang, bisa katakan. Apa syarat untuk mendapatkan persetujuan dari Tuan Muda Danish Anderson?" Shena menatap lembut suaminya yang masih menggantungkan pulpen untuk membubuhkan tanda tangan terakhir di atas surat perjanjian kerja sama.
__ADS_1
"Bukan syarat, tetapi sebuah permintaan. Papa telah menetapkan jabatan wakil CEO menjadi milik Shena Az Zahra Danish Anderson. Apakah istriku mau memenuhi permintaan kecil dari seorang papa yang memiliki harapan terhadap menantu pertamanya?"