
Tidak ada jawaban, Mua hanya melambaikan tangan pergi meninggalkan ruang interogasi. Baginya tugas negara lebih utama dibandingkan cinta. Siapa dia? Kenapa menyamar menjadi seorang gadis? Bagaimana bisa hidup di antara para anak jalanan? Hanya dia yang tahu.
Sementara Fatih sudah tersudutkan, bahkan tidak bisa melakukan apapun selain pasrah. Sungguh semua tidak adil karena ia merasa dibalik penangkapan ada andil orang terdekat, tetapi siapa yang berkhianat? Kenapa sampai kecolongan? Keanehan yang tidak bisa dijabarkan.
Namun tiba-tiba ia ingat akan satu sosok nama. Entah kenapa hanya nama itu yang melintas di dalam kepalanya. "Erick? Tidak. Dia teman yang selalu menjauh dari jalanku, tapi siapa lagi yang akan suka jika aku mendekam dibalik jeruji besi? Tentu keluarga Anderson."
"Dan baru semalam bertemu dan untuk melakukan satu rencana besar membutuhkan usaha serta kesana yang memakan waktu. Siapapun dia pasti akan datang mengucapkan rasa syukur atas penangkapanku. Tidak salah lagi, pasti dalangnya akan datang menemuiku." Kepala berdenyut hebat hingga detakan jantung berdegup tak karuan.
Semilir angin yang berhembus membawa pesan dalam kesunyian. Tiba-tiba suasana mendadak hening hingga terdengar suara derit pintu yang begitu miris seakan menyayat gendang telinga. Suara itu bersambut suara gledekan roda yang teramat jelas, membuat Fatih was-was akan situasinya.
Hati tidak memungkiri akan firasat buruk yang terus menyentak kesadarannya bahkan tubuh membeku tak bisa digerakkan. Dipandangnya jeruji besi yang kini menjadi pintu rumah untuk dia seorang. Kemudian beberapa detik berlalu hingga kemunculan dua orang yang terasa asing baginya.
__ADS_1
Seorang wanita dewasa dengan penampilan seperti paranormal bersama seorang lagi, tetapi duduk di kursi roda dengan wajah tertutup cadar. Kecuali tangan kanan yang dibiarakan terlihat oleh pandangan mata, "Siapa kalian?"
"De, Apakah dia yang menodaimu? Katakanlah!" Wanita dewasa itu mengabaikan pertanyaan Fatih, ia fokus pada tujuan utama yang harus diselesaikan.
Selama ini kehidupan mengubah takdir keluarga kecilnya bagaikan neraka tak berdasar. Keluarga berada yang harus menghabiskan waktu menikmati luka batin dari putri bungsu yang mengalami pelecehan seksual. Semua itu hanya karena satu orang yaitu Fatih.
Gadis yang bercadar berusaha menggengam sisa kekuatannya. Tangan gemetar mencoba ia angkat walau begitu lama hanya untuk menunjuk ke arah Fatih. Tubuhnya seketika meremang dengan ingatan masa lalu yang menyakitkan. Sentuhan brutal yang memaksakan diri untuk dia layani. Sakit tak tertahan.
"Pee-meer-kkoo-saa ...,"
"Hei, jangan sebut nama adikku dengan mulut kotormu itu. Dasar b3d3b4h!" Lina murka begitu melihat wajah tak bersalah Fatih yang kian menampar kenyataan bahwa pria itu memang tidak pantas disebut manusia.
__ADS_1
Semua ia kerahkan hanya untuk menyeret Fatih mendekam ke balik jeruji besi. Tidak peduli dengan uang sebanyak apapun yang dia habiskan. Penderitaan Luna harus diakhiri dengan hukuman setimpal yaitu Fatih harus mendapatkan hukuman penjaga seumur hidup. Itulah harapannya.
Dibalik rasa obsesinya masih tersimpan ketulusan yang pernah hadir mewarnai hidupnya. Benar, ada masa dimana ia menikmati kebahagiaan yang selama ini menjadi kehidupan lainnya. Semua itu hanya karena satu nama yaitu Luna.
Gadis polos yang menganggapnya sebagai seorang kakak, tetapi gelap mata dan hatinya mengakhiri hubungan itu dalam semalam. Rasa takut yang terpancar dimata Luna jelas mengatakan seberapa brengseknya ia sebagai seorang pria. Benar, semua dilakukan dengan kesadaran penuh hanya karena obsesi cinta yang ia genggam.
Sayangnya kini, semua karma seperti menumpuk menjadi satu. Tidak ada celah untuk membela diri, apalagi lari dari kenyataan yang ada. Jeruji besi yang menjadi penghalang, membuatnya sadar inilah hukuman yang memang harus dia terima. Apalagi Luna tak ingin lagi menatap matanya karena gadis itu ketakutan akan keberadaannya.
"Pergilah! Aku tidak ingin menyakiti kalian." Fatih menggeser posisi tubuh hingga menghadap dinding belakang tempat duduknya.
Ketika semua tidak lagi ada yang tersisa. Kenapa harus menjelaskan. Lagi pula akhir dari semua yang tengah bergulir adalah hukuman dari Mahkamah Agung ketika sidang nanti. Kini apa yang bisa diharapkan? Semua hanya tentang waktu dan tidak lagi memiliki kesempatan untuk melakukan sesuatu yang akan membawa ia kembali menikmati segarnya udara di luar sana.
__ADS_1
Pria itu menulikan telinga, membiarkan umpatan yang keluar dari bibir seorang kakak terus menerus menyumpah akan karma yang harus dirinya tanggung. Tidak peduli darimana sampai kemana, ia hanya bisa mengabaikan segalanya tanpa kata. Bagai air yang terus mengalir melewati setiap rintangan.
Hari yang panjang untuk Fatih. Kehangatan di malam hari, penangkapan di pagi hari, kejutan di siang hari dan hadiah tambahan sebagai jamuan takdir kehidupan. Apalagi yang kurang? Ia pun tak tahu karena yang ada hanya tembok dingin di depan mata.