Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 92: Hari yang Aneh


__ADS_3

Para dokter melakukan segala cara untuk menyelamatkan pasien. Perjuangan searah karena pasien sendiri memiliki keinginan hidup lebih besar dari sebelumnya hingga berakhir dengan kondisi normal. Satu jam berlalu membawa ketenangan karena semua berjalan baik.


"Dok, maaf saya tidak menemukan suami pasien," lapor seorang suster yang ditugaskan untuk menyampaikan kabar pasien yang memburuk.


Pasti suster itu berkeliling rumah sakit menyusuri setiap lorong, makanya membutuhkan waktu yang lama untuk kembali. Di saat yang sama, tiba-tiba pasien mulai sadarkan diri. Melihat itu sang dokter bergegas mengecek, "Sus, pastikan suami pasien segera ditemukan!"


"Baik, Dok." jawab Suster tanpa ingin mendebat.


Keadaan di dalam ruangan itu berbanding terbalik dengan suasana di sebuah cafe. Hiruk pikuk yang memekakkan telinga karena bangunan tempat bersantai itu berada di depan jalan raya persis. Beberapa pelanggan terlihat sibuk menikmati makanan atau sekedar ngobrol bersama.


Begitu juga dengan seorang pria yang duduk di pojokan sembari menikmati secangkir kopi latte. Tatapan mata terus ke depan, tapi sesekali menoleh ke arah pintu masuk menunggu orang yang membawa dia menunjukkan diri pada dunia. Padahal tidak seharusnya melakukan hal senekat hari ini.


"Mas, mau nambah pesanan?" Seorang pelayan datang menghampiri meja pelanggan yang sudah menghabiskan tiga cangkir kopi latte tanpa teman.


Namun, pria itu hanya menggelengkan kepala menolak tawarannya. Mau, tidak mau melangkah menjauh pergi dari meja sang pelanggan. Akan tetapi ketika langkah kaki mulai mendekati meja kasir, seorang pria melambai membuat ia melangkahkan kaki beralih haluan.

__ADS_1


"Iya, Tuan. Ada yang bisa saya bantu?" tanya Si pelayan seperti biasa selalu ramah untuk menyambut keinginan setiap pelanggan cafe tempatnya bekerja.


Tuan yang diajak bicara bukan menjawabnya, tetapi menuliskan sesuatu di kertas noted yang ada di atas meja. Lalu mengeluarkan dompet mengambil beberapa lembar kertas merah, kemudian memberikan kertas pesanan beserta uang padanya. Bingung? Tentu tidak karena cafe memang memiliki sistem yang menghargai semua pelanggan.


Pelayan berpikir bahwa pelanggan mungkin bisu, maka dari itu memesan melalui tulisan. "Saya permisi, Tuan. Pesanannya akan segera disiapkan."


Sekali lagi pelayan itu pergi menuju kasir, sedangkan pelanggan yang baru saja bersamanya beranjak dari tempat duduk. Pria itu pergi meninggalkan cafe melalui pintu samping agar tidak ketahuan oleh orang yang menjadi sasarannya. Niat hati ingin memberikan kabar yang mungkin membantu pencarian sang teman.


Di dalam mobil Jazz hitam, pria itu bergegas mendial nomor dengan nama Danish A sebagai panggilan yang dituju. Suara dering masih terdengar, tetapi tidak ada jawaban. Kemana pria itu pergi? Seketika ia mencoba mencari tahu melalui story whatsapp yang ternyata sang teman berada di rumah sakit.


Tidak ada nada dering selain getaran ponsel yang terasa menggeliat di dalam saku celananya. Melihat semua orang masih sibuk menunggu antrian, ia memilih untuk melipir dengan alasan ingin pergi ke toilet. Benda pipih segera dikeluarkan dari tempat persemayaman.


"Assalamu'alaikum, Bang. Tumben telpon, ada apa?" ucap salam yang bersambut keheranan, yah pria yang di seberang sana memiliki dunia sibuk bahkan untuk sekedar untuk memberi perhatian padanya yang notabene adalah pacar terbaik.


Suara helaan nafas dari seberang terdengar cukup jelas. Entah apa yang terjadi, tetapi pasti ada yang tidak beres. Hati boleh saja merindukan hanya saja memahami emosi pasangan sendiri akan lebih menyatukan hubungan tanpa ada batasan. Sadar benar siapa yang di nanti sang kekasih, maka lebih baik berkata apa adanya.

__ADS_1


"Bang, Ka Dan masih di dalam kamar Shena. Kondisi sedikit tegang, tapi baik. Katakan saja, nanti aku sampaikan ke Kakak." Siti berusaha menjadi seorang pacar sekaligus adik yang baik untuk kedua pria yang kini menjadi bagian penting dalam hidupnya.


Kesibukan Siti yang tengah menelpon tanpa melihat kanan kiri, membuat Xavier sedikit penasaran. Apalagi ekspresi gadis itu berubah dalam hitungan detik. Awalnya santai lalu memucat dengan mata mengerjap tak percaya. Apa sesuatu sudah terjadi? Siapa yang menelpon hingga mengubah mood secepat itu?


Tak ingin semakin penasaran. Xavier berjalan menghampiri Siti. Dimana gadis itu begitu lemas dengan ponsel yang menggantung di udara. Sepertinya panggilan sudah berakhir dengan sisa keterkejutan yang menyapa kesadaran. Melihat tubuh si gadis hampir jatuh, pria itu berlari menangkap tanpa berpikir panjang.


Tatapan mata saling beradu menghantarkan kenyataan yang terpendam. Meski bibir diam, tetapi sorot mata menjelaskan ada yang tidak beres. Dibawanya gadis itu untuk duduk di bangku yang ada di belakang mereka, lalu mengambil alih ponsel untuk tahu siapa yang menelpon. Sebuah nama masih terlihat jelas di layar.


"Assalamu'alaikum, Rafael." Xavier menunggu jawaban salam dari seberang, tetapi tidak ada jawaban.


Sebenarnya kemana anak satu itu pergi? Panggilan masih berlangsung tanpa ada percakapan, sedangkan Siti masih diam merenungi semua informasi yang diberikan oleh kekasihnya. Di tengah kecemasan, tiba-tiba Dan datang dengan wajah merah padam. Pria satu itu berjalan bahkan tanpa melihat kanan kiri.


Amarahnya memuncak dengan kedua tangan mengepal, geraham yang mengeras, wajah datar dengan tatapan mata tajam nan dingin. Xavier menahan nafasnya karena hari ini semua orang terlihat aneh. Kebahagiaan berubah menjadi ketidaksenangan. Ada yang salah, tetapi tidak ada yang memberikan penjelasan.


Ingin menghentikan Danish, sayangnya ada Siti yang harus dijaga. Benar-benar bingung dengan situasi yang ada hingga membuatnya hanya bisa bersabar menerima kenyataan yang menyulitkan. Belum sempat mencerna semuanya, tiba-tiba terdengar suara dari seberang. Akan tetapi ponsel langsung di sambar Siti.

__ADS_1


"Halo, Bang!" panggil Siti yang menghela nafas lega karena bisa mendengar suara kekasihnya lagi.


__ADS_2