
"Mas, apa kamu masih mencintai Mbak Tiara?" tanya Shena setengah tercekat, membuat kesadaran Danish kembali pada dunia nyata.
Tak ingin membuat salah paham. Danish mengajak gadis itu untuk ikut bersamanya, bukan pergi jauh. Ia hanya membawa sang istri untuk duduk di tepi ranjang, lalu beralih ke lemari miliknya. Entah Shena sudah tahu isi lemari itu atau belum. Namun ada sesuatu yang kasih tersimpan di salah satu laci di dalam lemari.
Setelah menemukan apa yang dicarinya. Ia kembali menghampiri Shena, duduk dihadapan sang istri. Kemudian memperlihatkan sebuah kotak kado dengan pita putih yang ada di tangannya, "Di hari kita menikah, kamu tahu setengah dari cerita dan malam ini, akan kuceritakan setengahnya lagi."
Ditariknya pita putih, lalu membuka kotak kado. Memperlihatkan sepasang cincin yang memiliki desain indah. Meski terlihat glamor dengan berlian yang begitu besar berpendar. Shena bisa memastikan kisaran harga dari sepasang cincin tersebut, tetapi tetap diam menunggu cerita dari suaminya.
Ditengah malam berteman hembusan angin. Danish memulai kisah masa lalunya. Kali ini, kisah dari awal pertemuan antara ia dan Tiara. Dimana semua terjadi beberapa tahun yang lalu. Kemudian berlanjut pada masa perkuliahan hingga beberapa tragedi selama masa pacaran.
Senyuman yang memancarkan kebahagiaan nyata. Jelas nampak menghiasi wajah pria itu, namun Shena tetap diam tak bergeming menjadi pendengar setia. Satu fase kehidupan, beralih ke fase lainnya hingga memasuki masa krisis akan keputusan sang suami yang memilih untuk melakukan pertunangan bersama Tiara.
Pertunangan yang mendapatkan pertentangan keluarga. Sayangnya, Danish bersikukuh untuk mempertahankan hubungan. Jelas ada penyesalan dari dalam diri pria itu. Suara yang semakin berat dengan emosi naik turun bak baik roller coaster. Selama satu jam menceritakan kilas balik kehidupan seorang Danish Anderson.
"Satu hari sebelum insiden yang mempertemukan kita. Aku pergi untuk menemui Tiara dengan tujuan mengajak wanita itu untuk menikah. Sama seperti kamu yang ingin menghindari perjodohan. Begitu juga denganku," Danish menghela nafas beratnya, menatap ke luar dimana hanya ada tirai bergoyang.
"Saat aku sampai dan keluar dari lift. Pemandangan luar biasa menyambut kedatanganku. Tiara tengah menikmati pagutan pria lain di depan mata kepalaku sendiri. Sakit, tapi cinta yang selama ini ada lenyap tanpa sisa."
Kepalan tangan dengan geraman gigi gemeretak, menjelaskan seberapa besar amarah yang terpendam dalam diri suaminya. Melihat itu, Shena beranjak dari tempatnya. Lalu menuangkan air putih ke dalam gelas. Kemudian kembali menghampiri Danish.
__ADS_1
"Minumlah! Tidak baik memendam amarah." Ucap Shena menyodorkan segelas air putih yang langsung disambut hangat suaminya. "Kisah cinta. Aku tidak bisa berkomentar, tapi bukankah kita sudah menikah. Kenapa tidak bahas masa depan saja?"
"Misalnya?" tanya Dan dengan rasa yang berkecamuk, ia mencoba meredam emosi yang tidak diperlukan.
Sebuah pemikiran terpatri dalam ingatannya. Jangan sampai ada pihak ketiga di antara ia dan Shena. Bagaimanapun, hubungan suami istri hanya ada dia dan sang istri. Sementara kehadiran orang lain akan menjadi pihak ketiga.
Shena terdiam sejenak, mencari pembahasan yang tepat atau setidaknya mendapatkan solusi. "Bagaimana jika membahas tentang proyek, atau apapun yang bisa membuat pikiran kita selalu positif. Ku rasa itu lebih baik, Mas."
"Bagaimana dengan masa depan keluarga kita?" Direngkuhnya pinggang gadis itu hingga terhenyak jatuh ke pangkuannya. Tatapan mata saling beradu, "Apa kamu tidak siap untuk segala sesuatunya? Bukankah kita harus memikirkan satu persatu agar hubungan kita bisa lebih erat, lagi."
Sebagai gadis yang menginjak dewasa. Shena memahami arah pembicaraan pria di depannya. Tangan yang melingkar erat di pinggang dengan tatapan mata menenggelamkan. Perlahan kabut datang menjemput sang malam.
Ia tak tahu, darimana Danish belajar semua itu. Namun, membawanya terbang melayang menikmati setiap sentuhan. Hawa dingin malam tak lagi dirasakan. Berganti suara derit ranjang. Malam penyatuan tak lagi terelakkan.
Penyerahan diri Shena bersambut cinta hangat suaminya. Danish memberikan treatment terbaik dengan kepuasan maksimal hingga suara erotis menggema sepanjang malam. Pergulatan panas yang meredam semua emosinya.
Malam yang panjang, berganti menyambung pagi dengan sinar sang mentari. Suara kicauan burung mengusik alam mimpinya. Mengembalikan nyawa yang berpencar. Merentangkan tangan dengan lenguhan manja.
"Auw, kenapa sakit ya." Gumam Shena mencoba untuk bergerak, tetapi tubuhnya terasa remuk tak terkira. "Aku pikir tidak sesakit ini,"
__ADS_1
"Selamat pagi, SheZa. Mau mandi atau sarapan dulu?" Danish bertanya dengan suara tegas, tetapi terdengar lembut ditelinga Shena.
Sejenak berpikir. Apakah semalam keduanya melakukan hubungan panas? Jika iya, apa yang akan terjadi setelah ini? Hubungan mereka baru dimulai, tapi apakah bisa bertahan dalam badai yang siap menerjang. Dilema hingga terasa usapan manja mengalihkan perhatiannya.
"SheZa, apa kamu menyesal ....,"
Shena buru-buru menggelengkan kepala agar suaminya tidak salah paham atas diamnya. "Aku hanya bingung, bagaimana akan pergi ke kampus? Pasti jalan ku aneh. Jujur saja, rasanya sakit di bawah sana."
"Mana yang sakit?" tanya Danish berpura-pura tak paham, lalu berniat menyibak selimut yang menutupi tubuh istrinya. "Sini, tunjukkan biar bisa aku obati."
Tak ayal langsung mendapatkan hentakan tangan dari gadis itu. Tatapan tajam, tetapi tidak bermaksud untuk mengancam. Sontak Danish terkekeh pelan, lalu mengusap wajah Shena. Kemudian tanpa permisi membalut tubuh gadis itu dengan selimut.
Digendongnya sang istri menuju kamar mandi. Bukan dengan niat mesum. Ia cukup sadar diri untuk memberikan waktu agar Shena menikmati proses hubungan orang dewasa. Apalagi menyangkut perihal ranjang yang memang menjadi hak dan kewajiban bersama.
Setelah menyiapkan air hangat dengan aroma terapi. Danish mempersilahkan Shena untuk berendam dan menjelaskan beberapa hal penting agar rasa sakit gadis itu tidak semakin parah. Lalu, ia kembali ke kamar untuk mengganti sprei yang memiliki bercak darah kesucian.
Ada rasa syukur dan bangga karena satu tahap telah mereka lewati bersama. Penyatuan semalam bukan hanya untuk pembuktian bahwa kedua belah pihak sudah melepaskan masa lalu, tetapi juga sebagai awal masa depan untuk membangun keluarga yang lengkap.
Kebahagiaan itu sederhana. Ketika rela melepaskan. Ikhlas memaafkan. Sabar menjalankan. Apalah arti sebuah cobaan? Proses pendewasaan diri, bukan tentang sberapa banyak ujian kehidupan. Namun, bagaimana cara manusia menghadapi, bertahan bertarung hingga titik darah penghabisan.
__ADS_1
Walau begitu. Manusia terkadang lupa, hingga begitu banyak keluhan hati yang memenuhi rasa ketidakpuasan. Masa lalu tetap di genggam, dan masa depan tersingkirkan. Dunia memang tempat untuk berjuang tanpa ketetapan.