Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 127: Dan Aneh, Harapan Mua


__ADS_3

Derap langkah kaki terdengar semakin menjauh mengembalikan degup jantung kedua insan yang tak mampu menahan ketidakpercayaan atas kebenaran tersaji. Dimana Muana menceritakan kisah cinta sederhana miliknya untuk Fatih. Sedikit mencengangkan, tetapi nyata adanya.


Apakah Fatih tahu? Diluar dinding penjara ada yang menanti dia sebagai manusia baik. Padahal sisa dari kepercayaan hanyalah satu persen saja. Meski begitu tetap saja berusaha memperjuangkan yang dianggap sebagai hak atas nama cinta. Kenapa wanita itu mencintai seorang pria brengsek tanpa syarat?


"Huft, aku gak tega lihat kesedihannya. Bagaimana denganmu?" Black menoleh menatap Dan setelah beberapa saat sibuk mengatur deru napasnya, tetapi pria yang diharapkan memberikan jawaban justru beranjak dari tempat duduk, lalu berlari mendekati jendela.


Entah apa yang menarik perhatian pria itu hingga terlihat agak cemas. Belum sempat mencerna, tiba-tiba...


"Panggil pengacara kesini!" tegas Dan tanpa basa-basi, membuat Black mengerjap kebingungan. ''Inspektur selalu memiliki latar belakang yang mudah didapatkan. Aku memerlukan semua itu, bisa?"


"Sebenarnya kamu mau apa? Masalahnya dimana? Jangan bikin teka-teki gini, beneran puyeng kepalaku." Bukan bermaksud mempertanyakan, tetapi sikap Dan begitu ambigu.

__ADS_1


Tidak ada angin, apalagi hujan main ajak ketemu sama pengacara. Ya meskipun itu pasti bersangkutan dengan Fatih dan Muana. Ia tak ingin Danish bertindak gegabah. Dimana masalah yang sudah berakhir justru kembali menyulut api kemarahan yang sudah meredup. Antisipasi diperlukan, walau terkesan menyepelekan.


Dan berbalik, lalu berjalan menghampiri Black. Langkah kaki semakin mendekat, tetapi bukan untuk menceramahi melainkan mengambil buku catatan harian yang ditinggalkan oleh Muana. Satu persatu lembar ia periksa dengan seksama. Secara detail hingga mencium aroma yang tidak begitu asing.


Parfum pria yang biasa dijadikan hadiah setiap bulan untuk Fatih. Tidak salah lagi, wanita itu memiliki ikatan yang tidak diketahui pihak kepolisian. Alias secret love. Jika benar, maka bisa dipastikan proses hukum yang berlangsung akan mengalami kendala. Entah itu baik atau buruk.


"Dari ufuk timur bersinar sang rembulan malam. Arak awan yang menjelaga berpadu lembutnya untaian bait rindu tak beruang. Insan yang berjalan dalam takdir renungan melangkah dalam ombak tanpa kepastian." Dan berulang kali membaca paragraf puitis itu, ia mencoba untuk membuat kesimpulan sederhana.


"Rasanya pasti enak berbaring di atas pasir pantai yang lembut dengan pemandangan sunset yang indah. Apalagi duduk bersama pasangan, tapi semua itu hanya impian. Aku sadar tidak bisa melakukan semuanya seorang diri, hanya saja tidak mungkin mengorbankan orang lain demi satu kebahagiaan yang ingin ku miliki.


"Aku sudah berusaha menyelamatkanmu dengan caraku yang bisa menjadi contoh tidak baik untuk dunia kepolisian. Biarlah, lagi pula setelah kasus ini berakhir maka surat pengunduran diriku juga diterima. Esok menjadi hari terakhir menjabat sebagai inspektur. Apa harus mengadakan pesta di dalam penjara? Setidaknya Fatih bisa melambaikan mengiringi langkah kepergianku.

__ADS_1


"Harapanku terlalu muluk-muluk, sampai tidak sadar sudah sampai di tempat tujuan. Mari temui sang tawanan untuk terakhir kalinya! Jangan lupa bawa sebuket bunga perpisahan." Muana membuka pintu mobil, lalu diambilnya bunga mawar putih yang selalu menjadi favoritnya.


Langkah kaki terus berjalan menyusuri setapak hingga memasuki bangunan milik negara. Para polisi menyambut kedatangannya dengan hormat. Padahal kali ini datang tanpa mengenakan seragam kebangaannya. "Tuliskan laporan janji temu bersama tahahan yang bernama Fatih dengan durasi waktu tiga puluh menit dari waktu yang seharusnya."


Semua saling pandang, tetapi tidak berani mempertanyakan. Maka dari itu membiarkan wanita itu melakukan keinginannya yang masih bisa dianggap sebagai hak istimewa seorang inspektur. Meninggalkan niat hati Muana yang ingin mendapatkan kesempatan terakhir agar bisa berbincang bersama Fatih. Di negara lain justru disibukkan dengan hal yang membahagiakan.


Dimana perawatan yang dijalani cucu pertama keluarga Anderson berhasil dalam waktu singkat. Dokter baru saja menjelaskan bahwa baby Ravindra Shaga Zayn sudah bisa dijaga oleh keluarga secara bergantian. Sementara keadaan Shena justru semakin memburuk karena pemberian racun yang kini menguasai raganya justru semakin merajalela. Dokter sendiri mulai merasa pesimis.


"Dok, jika pasien tidak segera sadarkan diri. Bukankah kita seharusnya memberitahukan pada keluarga pasien?" ujar seorang perawat yang sengaja di bawa agar bisa membantu pekerjaan yang memang sudah biasa ditanggapi para ahlinya.


Dokter mengangguk paham, "Saat ini keluarga pasien tengah mengalami banyak masalah. Jadi biarkan urusan pasien hanya di antara kita."

__ADS_1



__ADS_2