
"Masuklah! Aku akan menyusul." ucap Danish mencegah Shena yang bersiap berbalik untuk melihat ke arah gerbang, ia tak ingin merusak mood istrinya lebih buruk lagi. "SheZa! Ini perintah."
Ketika seorang suami mengatakan perintahnya, maka seorang istri harus menurut. Bukan karena takut, tetapi itu yang disebut dengan menghormati. Orang bisa mencintai pasangan mereka, namun apakah cinta itu juga menghormati? Nyatanya, dunia ini banyak yang mengatas namakan cinta untuk kesenangan semata.
Shena melepaskan tangannya dari tangan Danish, lalu berjalan meninggalkan suaminya tanpa menoleh ke belakang. Jujur saja, dia penasaran dengan siapa pemilik suara lembut nan manja yang berani memanggil tuan muda seperti sudah mengenal lama.
Sementara Danish, masih enggan untuk bergerak dari posisinya. Pria itu hanya menatap tubuh Shena menanti sang istri mencapai tempat yang seharusnya. Tidak peduli dengan suara yang terus memanggilnya, hingga gadis itu membuka pintu utama, lalu masuk ke dalam rumah.
Barulah ia berpaling, tatapan mata malas terjatuh pada wajah yang tersenyum lebar ke arahnya. Wanita yang pernah diharapkan menjadi masa depannya, tetapi itu dulu. Kini, ia hanya ingin bersama Shena. Gadis yang sah menjadi istrinya.
Sesaat Danish mengamati. Jika Tiara berdiri di depan gerbang, dan satpam acuh tidak menganggap keberadaan wanita itu. Maka pasti, semua sudah diperingatkan agar tidak memberikan izin mantan kekasihnya untuk masuk ke kediaman Anderson.
__ADS_1
Mau, tak mau. Danish berjalan mendekati gerbang untuk mendekati Tiara, tetapi ia tak ingin terlibat drama. Apalagi, wanita itu pasti datang menemuinya dengan persiapan matang. Langkah yang pasti dengan tatapan mata yang menusuk.
"Sayang, Aku rindu kamu. Kemana saja kamu? Aku kirim pesan dan telfon, tapi tidak sekalipun kamu membalasnya." Tiara merajuk meneteskan air mata palsu dengan hidung kembang kempis, "Dan, jangan diem donk. Hiks. Hiks."
Drama dimulai. Danish menghela nafas panjang, wajah yang selalu ia rindukan. Kenapa tidak ada lagi debar di dalam hatinya? Kemana cinta yang selama ini diagungkan, hilang tanpa jejak. Seketika sebuah pertanyaan datang. Apakah benar, dia mencintai Tiara, dulu?
Namun, kenyataan tidak seperti itu. Danish berbalik membelakangi Tiara, "Pak, jangan biarkan wanita asing masuk ke kediaman Anderson dan kamu, temui aku besok siang di cafe biasa."
Setelah mengucapkan kata-kata yang diperlukan, pria itu meninggalkan gerbang. Panggilan lembut terus mengiringi langkahnya. Dulu, dia akan berbalik lalu merengkuh tubuh Tiara ke dalam dekapan. Namun, kini. Ia mengabaikan.
__ADS_1
Ketika semua yang dirasa hanyalah kepalsuan. Kenapa masih dipertanyakan? Bukankah menerima kenyataan akan lebih baik? Jika sibuk dengan rasa sakit. Kehidupan yang menjadi masa depan akan menjadi bayangan tanpa tujuan.
Apa yang terjadi di luar sana. Shena juga melihat bahkan ikut mendengar semuanya. Ketika gadis itu masuk ke kediaman Anderson. Seseorang sudah menunggu kedatangannya dengan hadiah kecil sebagai salam penyambutan.
Siapa lagi, jika bukan Fatih. Pemuda itu memberikan ponselnya pada Shena hanya untuk menunjukkan live streaming antara Tiara dan kakak tirinya. Senyum puas yang tersungging, membuat Shena menaikkan alisnya.
"Sekarang, mana yang lebih baik antara aku dan kakak tiriku? Pasti aku yang lebih baik." Tukas Fatih begitu sombong tanpa berpikir dua kali, membuat Shena tersenyum tipis mengembalikan ponsel pemuda itu.
Shena mengubah posisinya, tatapan matanya menelusuri seluruh sudut rumah yang memang wow dan tidak bisa di ragukan lagi kualitas pilihan keluarga suaminya. Namun sayang, dirumah semewah itu ada sampah tak berguna yang numpang hidup tanpa tahu balas budi.
"Di dunia ini hanya ada dua type manusia." Shena tak peduli dengan apapun lagi tentang Fatih, ia tahu siapa dirinya. "Satu penjahat, kedua pahlawan. Jadi tanyakan pada dirimu sendiri. Siapa dirimu dalam hidup Mrs. Danish Anderson."
__ADS_1