Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 67: Rasa Penasaran


__ADS_3

Tidak habis pikir dengan tindakan berani Naina. Untuk pertama kalinya, ia melihat gadis yang selalu berpenampilan rambut dikepang itu berbicara dengan nada berbeda. Seperti menjadi orang lain. Entah siapa yang ada di balik perubahan si gadis jenius, tetapi rasa penasarannya semakin membesar.


Jika bertanya langsung, pasti tidak akan mendapatkan jawaban. Langkah kakinya mulai beranjak mengikuti kepergian Naina dan Siti meninggalkan ruang laboratorium dengan jarak aman. Kedua gadis itu sibuk membicarakan hal-hal sepele dengan tujuan kembali ke kelas, bahkan tidak menyadari tengah diikuti seseorang.


Langkah kaki semakin menjauh, tetapi tiba-tiba Pak Ibrahim muncul dari arah berlawanan bersama beberapa anak senat yang terlihat begitu sibuk mendengarkan ceramah pedas dari sang dosen. Sontak saja, Nai dan Siti menepi menunggu rombongan itu agar lewat terlebih dahulu.


Sayangnya, Pak Ibrahim justru berhenti di depan kedua gadis yang sudah berdiri di depan papan mading. "Naina, selamat atas kesuksesan proyeknya, tapi dimana anak fakultas lain yang ikut menjadi tim mu?"


"Terima kasih untuk ucapannya, Pak Ibrahim." Naina menyambut hangat tangan sang dosen sesaat, kemudian melepaskan tanpa ingin berlama-lama. "Team? Tidak ada. Mereka mengundurkan diri, tentunya setelah mendapat tekanan mental dari Mr. Xavier. Maaf, Pak. Kami harus kembali ke kelas."

__ADS_1


Ditariknya tangan Siti agar keduanya menjauh dari orang-orang yang tidak akan memberikan apapun untuk mereka. Tidak peduli dengan wajah tercengang Pak Ibrahim atau dengan senyuman beberapa anak yang menertawakan ketidakberdayaan sang dosen. Mereka cukup hafal, jika dosen satu itu terlalu ambisius.


Namun, Xavier ikut mendengar pernyataan dari Naina. Ada rasa tidak percaya, jika proyek hanya di handle oleh seorang gadis kecil saja. Meski logika menerima kenyataan bahwa Naina memang memiliki kemampuan yang lebih dari anak lain. Tetap saja, ia tahu perbedaan dari cara eksekusi proyek yang terkesan berubah lebih sempurna dari proposal pengajuan yang telah disepakati.


Aku rasa di balik sikap gadis itu, seseorang yang memiliki kekuasaan menjadi backingan. Siapa yang bisa membantu tanpa memberikan imbalan? Apalagi ini menyangkut kontrak kerjasama. Jika aku mencoba mencari tahu. Apakah akan menemukan orang yang kkucari?~ucap hati Xavier dengan sisa kepercayaan yang kini mulai dipertanyakan.


Bagaiamanapun ia pasti menemukan jawabannya, sedangkan orang yang menjadi alasannya berpikir keras. Gadis itu tengah menikmati ice cream berteman semilir angin sepoi bersama suaminya yang membuat acara dadakan yaitu menikmati makan siang di salah satu gubuk ditengah sawah. Pemandangan yang indah dengan ketenangan alam.


''Tanyalah. Aku akan menjawab sebisaku,'' balas Dan santai sembari menyuap ice cream rasa vanilla miliknya dengan memandang Shena yang duduk bersila di depannya. ''Apa ini soal jabatanmu?''

__ADS_1


Shena menggelengkan kepala, lalu meletakkan ice cream yang tersisa setengah cup saja, kemudian menggeser posisinya menghadap suaminya. Tatapan mata saling terpaut dengan emosi yang mereka sembunyikan. Sorot mata sendu dengan binar kegelisahan. Ada banyak harapan, tetapi hanya tertahan berganti menjadi helaan nafas panjang.


Seakan beban berat terpikul, Shena tak mampu untuk mengutarakan pertanyaan pada suaminya. Hatinya tidak sanggup, tetapi demi kebaikan ia harus menjernihkan semua keraguan yang menjadi awal ketidakpercayaan. Lagi dan lagi, hanya terdengar helaan nafas yang memudar terbang bersama angin yang menerpa. Sontak diraihnya tangan sang istri, menatap lebih dalam netra gadis itu.


''SheZa, kenapa aku merasa istriku takut untuk berbicara pada suaminya sendiri? Apa aku harus tutup wajah dulu atau berbalik agar kamu tidak melihatku dengan wajah tegang seperti ini? Katakan, aku harus apa?'' tanya Dan beruntun tanpa ingin menjeda ucapannya, membuat Shena terkekeh pelan.


''Mas, aku akan bertanya sekali. Tidak ada pengulangan. Jika mau bisa diam untuk penolakan dan aku siap untuk bersabar menunggu kesiapanmu berbicara tentang inti dari pertanyaanku.'' Shena mengubah genggaman tangan Dan, kini tangan sang suami menjadi miliknya. ''Siapa Fatih sebenarnya dan kenapa memasuki keluarga Anderson?''


Ingin lari, tapi tak mungkin. Ingin berpura-pura tidak paham, nyatanya sangat paham. Rahasia yang baru saja diketahuinya selama beberapa jam. Kenapa sudah sampai ditelinga sang istri? Apakah semua itu karena papanya? Jika iya, kenapa masih mempertanyaaan? Tidak tahu harus menjawab atau diam. Sungguh diambang dilema yang tidak mudah untuk mengambil keputusan.

__ADS_1


Sudah cukup dengan diamnya sang suami, ia paham akan situasi yang ada. Papa mertuanya benar, jika Dan akan menutupi massalah utama hingga mendapatkan solusi yang terbaik. Pria yang bisa diandalkan, tapi seperti yang sudah dijanjikan. Apapun yang terjadi akan melewati batasan pertama yaitu dirinya. Di tengah keheningan, para karyawan sudah kembali membawa beberapa kresek hitam yang pasti berisi makanan dan minuman.


''Maaf lama, Tuan. Di depan sana ternyata cukup antri dan ya, hanya warung yang paling dekat di tengah tumbuhan nan hijau ini.'' Tangannya sibuk membuka setiap bungkusan, lalu membagi sebungkus nasi untuk setiap orang yang hanya berjumlah tujuh orang. ''Selamat menikmati nasi rames Bu Indri.''


__ADS_2