
Ketika doa dan harapan menjadi ujung peraduan. Allah selalu memberi ujian agar keimanan dan keyakinan semakin meningkat. Apa yang disebut mata jahat? Atau niat buruk? Ketika hati manusia tidak mau menerima kenyataan, maka sisa rasa yang terbakar menjadi hembusan panas yang membara. Sama seperti dia yang bersembunyi di balik pintu dengan tangan mengepal.
Fatih tak rela karena yang mengenal Shena duluan adalah dirinya. Kenapa malah Danish yang mendapatkan gadis itu. Ketika ingatan akan kebersamaan mereka berdua menari dipelupuk mata. Pemuda itu menghentakkan tangannya membentur dinding. Sakit pasti karena ia melakukannya sekuat tenaga.
Namun, pemuda itu terlihat tidak memiliki rasa sakit. Justru yang nampak semakin kesal dengan wajah mengeras. Sudah pasti dia merasa cemburu. Sementara Danish yang merasa sudah lebih baik memutuskan untuk meninggalkan kamar Naina. Pria itu hanya mencoba untuk tetap tenang dengan segala sisa pertanyaan di dalam hati.
Dan melangkahkan kaki menuruni anak tangga, di saat yang sama Fatih baru saja melewati pintu kaca menuju kolam renang untuk menemui Naina dan Siti kembali. Meski serumah, bukan berarti kisah mereka bertiga akan menjadi satu. Hari ini hanya permulaan. Seperti percikan api yang tersulut.
Dua jam kemudian. Setelah acara makan bersama dengan sedikit kebersamaan yang dilengkapi canda tawa. Akhirnya Mama Quinara berpamitan karena waktu sudah berganti sore hari. Keluarga itu berpisah untuk bertemu kembali. Kini, Dan duduk di kursi kemudi, disebelahnya ada Shena, sedangkan di belakang ada Mama Quinara.
"Nak, mau menginap dirumah Mama kah?" tawar Mama Quinara dengan harapan akan dikabulkan, tetapi Danish segera memberikan isyarat mata agar tidak memaksa menantu pertama. "Dan, aku ngajak istrimu. Gak usah kode gitu, Shena berhak tahu. Dimana rumah suaminya berada."
__ADS_1
"Mama ....," Danish mencoba untuk membuat sang Mama paham. Jika Shena masih membutuhkan waktu untuk adaptasi, namun ketika wajah wanita yang melahirkannya mulai menatap dia dengan tajam, maka yang bisa dilakukan hanyalah sabar. "Ok, Dan tidak ikut campur. SheZa bisa putuskan sendiri."
SheZa yang tengah memeriksa data proyek melalui ponsel Naina, ternyata tidak mempedulikan apa yang menjadi perdebatan di antara ibu dan anak itu. Seakan semua dunia hanya tentang masalah yang kini harus dihadapinya. Dan yang melihat sang istri sibuk menata layar ponsel, akhirnya berdehem cukup keras.
"Kamu haus, Mas?" Shena bertanya seraya mengalihkan perhatiannya, lalu mencari botol air yang kebetulan ada di sebelahnya. Kemudian tutup dibuka, barulah diulurkan ke Danish. "Minumlah."
"SheZa. Apa kamu tidak mendengar ....,"
Mama Quinara menggelengkan kepala, membuat Dan, lagi dan lagi harus menahan diri agar tidak membantah mamanya. Sedangkan Shena yang menunggu kalimat lanjutan masih menatap Dan dengan rasa penasaran. Sayangnya, sang suami memilih untuk mengambil air, kemudian meneguk seperti orang kehausan.
__ADS_1
"Mas, mau gantian nyetir? Ku lihat, kamu terlalu lelah." ujar Shena yang merasa bahwa Danish dalam keadaan tidak baik-baik saja. "Jangan khawatir, aku akan hati-hati menyetir."
Pria itu melirik sekilas dengan senyum yang tersungging. Niat Shena memang baik, tapi sekali lagi ingatan akan seluruh cerita masa lalu, membuatnya ingin belajar memahami sifat, sikap dan karakteristik dari sang istri. Perjalanan itu menjadi keheningan.
Danish yang fokus menyetir, Mama Quinara yang mencoba untuk melihat perkembangan pasutri baru, sedangkan Shena yang mendapatkan penolakan justru memilih kembali memeriksa pekerjaan dari sahabatnya, hingga beberapa poin menjadi titik terang.
Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Bukankah suaminya seorang pebisnis? Benar. Jadi, jika ia menanyakan tentang seorang pebisnis lain. Apakah Danish bisa memberikan sedikit informasi? Jika itu terjadi, sudah pasti akan mempermudah rencananya, tetapi tidak mungkin minta tolong begitu saja.
Tidak terasa. Perjalanan mencapai akhir, mobil memasuki sebuah gerbang yang terbuka lebar. Tumben sekali, rumah yang biasanya sepi, tapi hari ini nampak begitu ramai dengan beberapa mobil yang terparkir rapi. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa ada acara dadakan?
"Shena, ayo turun, Nak." Mama Quinara mengajak menantunya untuk turun, sedangkan Danish membenarkan penampilannya, lalu baru keluar dari mobil.
__ADS_1