
Kegemparan tak terelakkan. Pihak kepolisian bergerak cepat membawa Tiara menuju rumah sakit terdekat agar mendapatkan penanganan medis yang lebih baik. Memang mengambil resiko besar, tetapi mengingat tahanan bukanlah penjahat internasional. Perikemanusiaan masih di batas toleransi.
Pihak rumah sakit juga melakukan pekerjaan mereka di bawah pengawasan. Tidak ada yang bisa mengecoh pertahanan karena semua diatur sedemikian rupa agar tahanan tetap tidak tersentuh orang asing. Yah, setidaknya itu pemikiran para petugas polisi yang bertugas.
Namun tidak untuk ia yang sudah menyamar menjadi salah satu suster. Langkah kaki berjalan bersama seorang dokter dan tiga suster lainnya. Diam mengamati seraya memperhitungkan langkah agar bisa melarikan diri membawa Tiara meninggalkan rumah sakit.
Tidak ada alat penyadap atau suara perintah yang membimbing setiap tindakannya. Begitu masuk ke dalam ruangan, ia berusaha menjadi suster yang baik dan cekatan. Setiap detik yang berlalu digunakan untuk memberi jeda pada persiapan yang telah direncanakannya.
"Sus! Berikan obat biusnya." Dokter mengulurkan tangan kanan ke hadapan suster terdekat yang langsung memberikan permintaannya. "Bersihkan luka dengan hati-hati!"
Step by step dilakukan dengan seksama hingga luka sayatan berbalut perban. Tak lupa tangan lain terpasang selang infus yang mengalirkan darah tambahan. Pasien cukup kuat hingga bertahan hidup, padahal kehilangan cukup banyak darah. Setelah selesai melakukan perawatan dokter ke luar ruangan menemui petugas di depan.
Sementara seorang suster di minta untuk berjaga, tetapi suster lain melanjutkan pekerjaan yang tertunda di ruangan pasien yang harus diperiksa. Dokter Wahyu menjelaskan kondisi pasien yang harus mendapatkan donor darah sehingga membutuhkan waktu istirahat selama satu malam. Pasien akan diperiksa dua jam sekali secara bergantian.
__ADS_1
Sebagai petugas polisi yang sering menangani tahanan berbagai macam karakter. Mereka sangat hafal dengan peraturan rumah sakit hingga tidak bisa melakukan protes dan hanya bekerja sama agar bersama-sama memenuhi tanggung jawab pekerjaan. Penjagaan di luar ruangan yang sesekali melongok ke dalam untuk memastikan pasien masih di atas brankar.
Satu jam berlalu, tidak terjadi apa pun yang mencurigakan bahkan seorang petugas kantin yang mengetahui keberadaan para petugas negara dengan senang hati menyajikan segelas kopi susu dari luwak white coffee. Asap yang menjelega menyebarkan aroma kopi yang berbeda.
"Silahkan, Pak! Minuman hangat untuk menemani hari sembari menunggu waktu makan siang." ucap Pak kantin yang berhasil memberikan setiap opsir segelas kopi susu.
Tidak ada yang curiga karena mereka mengenal si bapak penjual tersebut. Tegukan demi tegukan melepaskan dahaga yang melanda. Nikmat memang ketika cuaca cukup panas dan minumannya panas juga. Akan tetapi hanya sesaat rasa itu datang menyapa, tiba-tiba rasa mata terasa berat.
Didorongnya kursi roda melewati para petugas polisi yang terkapar dimana-mana. Langkah demi langkah terus maju menyusuri lorong dengan waspada. Setiap kali ada kerumunan keluarga pasien atau dokter dan suster yang berjaga, maka ia memilih mencari tempat aman untuk berdiam diri sejenak.
Tidak ada rintangan yang sulit selama tahap penyelamatan Tiara hingga keduanya meninggalkan gedung rumah sakit. Suster itu memasukkan pasien ke kursi belakang, lalu meninggalkan kursi roda di tempat parkir begitu saja, kemudian bergegas ikut masuk kedalam mobilnya. Perjalanan baru di mulai tanpa bertanya pada penumpangnya ingin pergi kemana.
Tiga jam kemudian. Suara kicauan burung terdengar begitu merdu mengalihkan kesadarannya. Perlahan membuka kelopak mata yang terasa begitu berat menyambut secercah sinar mentari keemasan dari sisi kanan tempatnya berada. Linu dan gatal mengantarkan pandangan mata jatuh menatap selang merah yang terus mengalir masuk ke dalam nadinya.
__ADS_1
"Eeuugghh, dimana ak-uu?" tanyanya lirih tak bertenaga.
Tubuh yang lemah dengan tingkat imut yang buruk. Jangankan untuk memikirkan orang lain, wanita itu pasti sering mengabaikan kesehatan. Dokter hanya mengatakan sebagian kebenaran, sedangkan kenyataan yang sebenarnya masih tersimpan rapat tanpa penjelasan. Walau begitu, tetap saja semua terungkap tanpa halangan. Dialah Tiara si wanita malang.
"Kamu udah bangun? Mau minum atau makan sesuatu? Katakan saja dan akanku siapkan langsung," sahut seorang pria dengan penampilan barbar, tatapan mata ke depan tanpa mempedulikan cahaya mentari yang menutup pemandangannya.
Tiara mencoba melihat situasi. Ia berpikir bahwa di dunia yang sekarang, siapa yang mau bersusah payah untuk menolong? Rasa penasaran yang datang berkunjung seketika terbang meninggalkan dirinya. Ternyata orang itu adalah alasan dari kegagalan hubungannya bersama Dan.
"KAU! Apa kurang penderitaan ku?" Tiara berusaha untuk bangun meninggalkan ranjangnya, tetapi tubuh dalam keadaan lemah dan terpengaruh obat yang sengaja di campurkan ke dalam kantong darah.
Wanita itu tidak tahu, jika transfusi darah yang ia dapatkan akan menjadi pengendalian utama terbebas dari rasa tekanan batin. Semua masalah akan menjadi begitu kecil dan tidak membutuhkan solusi karena satu pergerakan menjadi akhir dari pergerakan. Semua adil dalam perang dan cinta.
"Tenanglah! Aku hanya ingin menolongmu. Jangan berpikir macam-macam."
__ADS_1