Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 72: Gigolo Muda


__ADS_3

Perjalanan selama satu jam berteman angin malam akhirnya mencapai tujuan. Rumah mewah dengan banyak penjaga, tetapi begitu melihat motor sport yang tak asing lagi. Gerbang langsung terbuka mempersilahkan sang pengendara.


Dialah Fatih yang disambut dengan hormat oleh semua penjaga. Langkah kaki yang tegas berjalan menyusuri halaman nan luas, "Dimana, Mami?"


"Di kamarnya, masuk saja. Kedatanganmu sangat tepat. Mami membutuhkan ketenangan." Jawab sang penjaga pintu seraya membukakan pintu untuk Fatih.


Rumah mewah yang selalu menebarkan aroma wangi parfum memabukkan. Dari luar hanya nampak rumah biasa, tetapi begitu masuk. Mata mengantuk akan langsung segar kembali. Bagaimana tidak? Semua itu karena sajian di depan mata yang bisa menyesatkan rasa.


Banyak gadis dengan usia belia sibuk belajar cara melayani pelanggan. Jangankan di sofa, di atas karpet, pojok ruangan ataupun atas meja makan. Para gadis hanya menutupi tubuh mereka dengan pakaian yang sangat tipis hingga mengekspos seluruh bagian lekuk tubuh tanpa ada yang rahasia.


Seperti lebah yang bertemu madu. Kedatangan Fatih mengalihkan banyak pasang mata. Namun, mereka tahu jika pemuda itu hanya milik Mami seorang. Walau begitu, sedikit sentuhan diperkenankan. Lima gadis berjalan menghampiri tamu istimewanya.


"Hei, ladies." Sapa Fatih seraya merentangkan kedua tangannya, pemuda itu menikmati sentuhan para gadis belia yang membantunya melepaskan jaket dengan sedikit cinta yang meninggalkan jejak merah di dada. "Come on, sudahi ini. Aku harus bertemu Mami."


"Jangan lupa treatment bonusnya, Boy." Salah satu gadis belia membisikkan rayuannya agar bisa menikmati goyangan yang selalu ia rindukan, begitu juga dengan Fatih yang tak sungkan langsung merengkuh menikmati bibir nan menggoda untuk mengalirkan rasa manis perpisahan.


Kecupan dengan gaya terbang yang memabukkan, membuat semua gadis meneguk saliva masing-masing. Permainan yang mereka inginkan, namun keberuntungan hanya menjadi milik satu orang. Nafas terengah dengan bibir yang basah.


"Tunggu aku," bisik Fatih setelah melepaskan mangsa pertamanya, lalu berjalan menuju tangga, sedangkan para gadis belia berebut ingin ikut merasakan panasnya bibir yang selalu mengubah adrenalin menjadi berlipat ganda.


Langkah pemuda itu terhenti di depan sebuah kamar yang merupakan kamar utama. Belum sempat mengetuk pintu, tiba-tiba sebuah tangan keluar lalu menarik tubuh pemuda itu masuk tanpa permisi. Suara bantingan pintu menjelaskan amarah Mami tengah meradang.

__ADS_1


"Berani sekali merengkuh milikku dengan brutal tanpa seizinku." Ditariknya kemeja Fatih hingga melepaskan seluruh kancing yang terjun bebas menyebar entah kemana, lalu mendorong tubuh pemuda itu hingga membentur tiang besi yang menjadi penyangga. "Apa kamu lupa, disini siapa yang berkuasa?"


Senyuman nakal dengan kepasrahan. Dibiarkannya tangan lentik yang menyiksa tubuhnya dengan sesuka hati. Perlahan sentuhan, cakaran dan kecupan. Semua hanya penuntutan atas hukuman hingga tubuh keduanya tak lagi memiliki penghalang.


Tatapan mata yang berkabut dengan senyum pengharapan, "Touch mine with your love," dibiarkannya Pemuda itu menelusup mempermainkan lembah tak berdaun yang kini menggeliat manja ingin lebih.


Permainan yang lembut dengan sesi yang panjang menghadirkan suara derit ranjang. Suara rintihan dalam kenikmatan mulai bergema menghabiskan malam. Ini bukan tentang kepuasan, tetapi tentang kepiawaian. Entah sejak kapan semua itu menjadi kebiasaannya.


"Boy, hurry ...," Mami mengeratkan pegangan tangannya, membuat Fatih menghentikan permainannya. "Please, kenapa berhenti?"


"Aku mau kamu yang mengendalikan permainan," tanpa menunggu jawaban, pemuda itu merengkuh tubuh wanitanya, lalu berbalik tanpa melepaskan penyatuan. "Lakukan sesukamu, kita lihat. Siapa yang akan jatuh tumbang duluan."


Tanpa ada penjelasan, wanita itu memulai permainan yang sebenarnya. Sentuhan nakal dengan bisikan mesra. Perlahan tapi pasti membuat Fatih menggeliat penuh kenikmatan hingga suara erotis terdengar menyapa telinga sang Mami. Barulah mengubah posisi keduanya.


"Boy, hirup yang kuat dan jangan lepaskan."


Kegilaan yang berganti bayang-bayang tak kunjung padam. Pertarungan panas dengan rintihan kenikmatan semakin menggema tanpa ada pemberhentian. Suara detak jantung yang berpacu dengan tubuh bermandikan peluh. Semua itu berakhir dalam teriakan pelepasan.


"Lima menit lebih lama dari yang terakhir. Apa tidak salah?" Mami membiarkan tangan usil terus mempermainkan miliknya, rasa ingin yang terus menjadi candu. "Fatih, apa yang mengusikmu?"


"Aku ingin dia, Mi." Jawab Fatih tanpa melepaskan kesibukannya yang terus memancing hasrat wanita yang kini ada dibawah kekuasaannya.

__ADS_1


Dia? Siapa yang pemuda itu bicarakan? Bukannya jika itu tentang gadis nomor satu dari rumahnya, maka sudah diberikan. Kenapa masih harus meminta? Apapun situasi yang ada. Tentu pemuda itu sudah mengatur harus bagaimana, jika membutuhkan sentuhan.


"Vivian?" Tanya Mami memastikan, membuat Fatih melepaskan mainannya.


Tidak lagi mood untuk memberi pelayanannya. Ia bukan pria murahan, hanya saja hasrat yang terus menggebu-gebu adalah kebiasaan yang tidak bisa dihilangkan. Ia bisa menjadi penghangat ranjang siapapun. Akan tetapi, semua di lakukan hanya untuk kesenangan.


Orang yang tahu, bisa saja memanggilnya gigolo muda. Namun, ia tak peduli karena semua dilakukan secara diam-diam. Termasuk memberikan kepuasan pada beberapa wanita yang sangat merindukan sentuhan. Sebagai gantinya, apapun yang tidak bisa didapatkan. Jalan lain siap mengulurkan bantuan.


Mami menarik tangan Fatih hingga wajah pemuda itu jatuh mengecup puncak gunung yang tak lagi bersembunyi di balik awan. "Siapapun dia, pasti akan merasakan kejantananmu. Ini janji Mami untukmu, gigolo kesayanganku."


Janji sudah terucap, maka pasti malam berikutnya tubuh sang pujaan hati yang akan menemani sepanjang malamnya. Fatih kembali melakukan treatment, namun kali ini membayangkan Shena yang ada di bawah kekuasaannya.


Kegilaan itu bukan untuk dipenjara, melainkan dibebaskan dalam kebersamaan. Di tengah kenikmatan, Fatih sibuk menentukan pilihan, sedangkan Mami tak kuasa menahan diri atas treatment yang terasa berbeda. Seakan pemuda itu menyerahkan seluruh rasa dalam permainannya kali ini.


Dua jam telah berlalu. Bukan remuk redam yang dirasa. Justru tubuhnya terasa kembali bugar. Di tatapnya pemuda yang kini terbaring memejamkan mata dengan senyuman puas. Wajah yang tampan, bahkan sangat disayangkan sudah menjadi simpanannya selama empat bulan terakhir. Ia tahu, kehidupan Fatih bergelimang harta, tetapi masih mencari kebahagiaan yang baginya semu.


Biasanya, aku yang tumbang, bahkan terlelap hingga keesokan harinya, tapi malam ini kamu yang jatuh dalam ketenangan. Sengatan yang mengalirkan gelenyar aneh. Aku tahu, sentuhanmu karena membayangkan bercinta dengan gadis yang kamu dambakan. Siapa dia? Apa lebih cantik dari Vivian?~ucap hati Mami dengan penasaran, sedangkan di bawah sana sudah sangat sepi.


Biarlah malam berlalu tanpa bintang dan bulan. Arak awan yang menyambut keheningan alam, perlahan mengitari waktu tanpa pemberhentian. Waktu berlalu begitu cepat. Keesokan harinya. Semua orang tengah berkumpul diruang makan menunggu menu sarapan, tetapi masih ada yang berdiam diri di dalam kamar.


"Nara, apa tidak sebaiknya acara yang hanya menghitung jam di undur saja? Situasi tidak memungkinkan." ujar Tante Amora mengalihkan perhatian sang sahabat yang sibuk mengoleskan selai di atas roti panggang.

__ADS_1


__ADS_2