
"Dia yang sedang kamu pikirkan." Tuan Anderson menatap tajam, lalu kembali memakai kaca mata hitamnya. "Jangan masuk ke dalam dunia keluargaku. Ingat, nasib perusahaan ada dalam genggaman tanganku. Tuan Xavier."
Tidak peduli, jika Danish masih belum tahu akan apa yang terjadi di luar sana. Ia hanya ingin bisa memberikan jaminan yang terbaik untuk sang putra. Kebahagiaan nyata dan hubungan yang pasti. Pernikahan boleh saja hanya sederhana, tapi status tak bisa diragukan. Kini, Shena adalah menantu pertama.
Sebagai seorang ayah mertua. Ia memiliki akses untuk mengawasi semuanya. Apalagi setelah keluhan dari sang istri tentang kehidupan Shena yang mengalami kesulitan. Bukan tentang materi, tetapi tentang hubungan. Satu yang patut disyukuri. Dimana ia memiliki menantu yang bisa menjaga diri. Meski masih teramat muda dan bahkan polos.
Melepaskan Danish untuk menjalani kehidupan mandiri. Bukan berarti, ia lepas tangan. Dimana Bi Yati dan Mang Asep ditugaskan untuk memberikan setiap perkembangan. Informasi yang pasti akurat dan bisa menjadi bahan pertimbangan setiap langkah agar tidak melakukan kesalahan fatal.
Namun, Tuan Anderson hanya tahu setengah dari kehidupan yang terhubung. Pria itu bisa mendengar rencana Tuan Xavier yang tertarik pada Shena. Sayangnya, ia tidak menyadari. Jika lebih dari Xavier, justru ada Fatih yang berusaha menjadi duri dalam pernikahan sang putra kandung.
Di kantor utama. Tuan Xavier mendapatkan ancaman terbuka yang membuat pria satu itu, berulang kali menghela nafas untuk menetralisir emosinya. Sementara di tempat lain. Pergumulan panas baru saja berakhir. Sepasang mata penuh hasrat terus mencoba meraup keuntungan.
"Eemmpt, hentikan. Aku tidak kuat lagi, permainanmu sangat mengesankan." Pasrah sang wanita berusaha menolak ajakan ronde ketiga kalinya dari pemuda yang berhasil membawa dia bergoyang di atas ranjang.
Tak memperdulikan, tangannya masih asyik berselancar menuruni perbukitan tanpa hambatan. "Bukankah kamu mau mendapatkan mantanmu itu? Kenapa sudah kalah, padahal baru mau berperang."
__ADS_1
Benar juga, tapi apa harus menerkamnya dalam sekali pertemuan? Tubuhnya saja sudah lemas tak berdaya. Bagaimana bisa berolahraga seperti yang baru saja dilakukan? Tidak. Ia tak sekuat itu, tetapi sengatan yang membangkitkan gelenyar aneh. Terus menyiksanya. Getar-getar kenikmatan mempermainkan raga.
"Please, stop." Racau wanita itu mencoba menahan pergerakan tangan nakal yang sibuk menari mengusik kesadarannya. "Fatiiiih ....Aa@@rrhh ....,"
Fatih tak melepaskan mangsanya. Biarlah seluruh imajinasi liarnya tersalurkan pada wanita yang kini akan menjadi pemuas nafsunya. Perlahan, tapi pasti. Sentuhannya akan menjadi candu, ia bukan hanya ahli menggoda. Setiap wanita yang pernah terbaring di bawah kekuasaannya.
Tentu tahu, bagaimana ganasnya dia dalam permainan ranjang. Tidak ada kata puas hingga melepaskan benih yang terus saja bergejolak ingin dikeluarkan. Meski tidak pernah menumpahkan ke dalam wadah yang tepat. Tetap saja, ia memiliki cara untuk menjadi pemain terhebat.
Sekali lagi, terdengar suara derit ranjang bergoyang. Bersambut jeritan kenikmatan, tidak ada keluhan selain kepuasan. Tubuh yang remuk redam. Tak membuat olahraga ranjang terhentikan. Suara yang terus beradu dalam penyatuan.
Satu jam kemudian. Tubuh pemuda itu ambruk, tetapi tak melepaskan tambatan tombak rudalnya dari lembah yang terdalam. Secara sadar melepaskan sisa benih unggulan hingga memenuhi lembah demi keselamatan. Rasa lelah yang mendera membuai keduanya ke alam bawah sadar.
"Mas, Aku mau jalan-jalan." Rajuk Shena yang bosan harus berbaring di tempat tidur sejak pulang dari rumah sakit.
Tangan yang masih diinfus, membuat istrinya tidak bebas bergerak. Meski sudah ditemani sembari membaca buku, bermain musik dan lain sebagainya. Tetap saja, rasa bosan terus datang menyapa. Tidak habis pikir, harus bagaimana lagi. Baru saja ingin meredam keinginan sang istri.
__ADS_1
Tiba-tiba suara panggilan khas datang nyelonong begitu saja masuk ke kamar tanpa permisi. Naina dan Siti. Kedua gadis yang menjadi sahabat Shena. Akhirnya datang juga. Padahal kedua gadis itu baru saja pulang dari kampus dan tanpa peduli waktu atau rasa lelah. Satu panggilan membawa ketiga sahabat saling bertemu.
"Shena, mana yang sakit? Aku akan langsung panggil dokter pribadi ku." cetus Naina tak sabaran seraya memeriksa kening, leher dan juga denyut jadi sahabatnya.
Semua normal, bahkan wajah yang awalnya pucat. Kini sudah lebih baik. Shena memang melakukan semua sesuai perintah Dokter. Meski harus melakukan pemberontakan dan berakhir menjadi drama. Tetap saja, ia menurut, setiap kali Danish turun tangan. Efek menjadi istri penurut dengan dalil istri yang sholehah.
Padahal tidak ada yang seserius itu. Namun, berkat ultimatum Danish. Gadis satu itu, hanya diam di tempat dengan menyimak kesibukan sang suami yang selalu memiliki ide baru untuk mengusir rasa bosannya. Hari ini, ia seperti putri dongeng mendapatkan perhatian tanpa diminta.
Memiliki suami pengertian adalah anugerah. Apalagi memiliki suami rasa nano-nano. Dijamin ketagihan dalam kebersamaan. Entah siapa yang akan menjadi penghalang. Namun, keduanya siap untuk mempertahankan biduk rumah tangga mereka. Alih-alih mendapatkan jawaban.
Shena justru hanya memajukan bibir. Sesaat Ia tak paham akan berbuat apa. Melihat Naina dan Siti. Seluruh ide yang terencana rapi, langsung menjadi butiran debu tak berarti. "Kalian bisa kesini lain waktu gak?"
.
.
__ADS_1
.