
Ternyata ada udang di dalam bakwan. Jika gorengan, trus dicocol saus pedas. Pasti bikin ketagihan. Sayangnya, bakwan kali ini adalah tanggung jawab yang luar biasa besar. Bagaimana dengan kuliahnya? Belum lagi kehidupan lain yang sebenarnya sudah menyita waktu. Sekarang malam ditambah menjadi wakil CEO.
Tanggung jawab yang tidak bisa dikerjakan sambil memejamkan mata. Bingung mau bagaimana, tetapi kenapa papa mertua menyerahkan jabatan itu padanya? Ia baru saja bergabung dengan keluarga Anderson. Jangankan tahu soal seluk beluk yang digeluti perusahaan, ia saja baru berusaha mengenal Dan sebagai pasangan hidupnya.
Dan mengerti akan rasa bingung yang dialami oleh Shena. Demi membuat sang istri bisa menetapkan hati dan pilihan. Ia sengaja mencoba menghubungi papanya yang pasti akan menjelaskan segala sesuatunya. Tentu termasuk alasan meletakkan tanggung jawab sebesar itu, di pundak seorang gadis yang baru menginjak dewasa.
"SheZa, untukmu." Ponsel yang menyala ia serahkan pada sang istri, ''Kami akan menunggu, jadi bicaralah dengan Papa."
Kepergian Shena yang mendapatkan penjelasan dari seberang, membuat Dan membicarakan beberapa detail tentang proyek nanti. Bukan hanya itu saja karena mereka berenam juga berdiskusi akan melakukan pelatihan apa saja untuk masyarakat yang memiliki lahan pertanian sebelumnya.
__ADS_1
Diskusi yang cukup pelik, bahkan beberapa kali terjadi perdebatan sengit antara satu sama lain. Namun dengan adanya Dan, semua kembali membaik hingga menemukan solusi dari setiap jalan buntu yang mereka temukan. Entah kenapa Shena begitu lama berbincang bersama papa mertuanya.
Dan sesekali menoleh ke arah Shena berada. Nampak gadis itu mondar-mandir, terkadang terlihat tegang, lalu menghela nafas, kemudian menjawab sepatah dua patah. Sepertinya, sang papa memberikan tugas yang rahasia. Ingin bertanya, tapi tidak mungkin saat itu juga.
Empat puluh lima menit berlalu. Shena mengakhiri panggilan, sejenak memuaskan diri untuk menatap hijaunya padi yang ada di depan mata. Sungguh menenangkan, seketika hatinya merasakan kedamaian. Apakah ia bisa memilih antara kewajiban dan tanggung jawab? Tidak.
Sejauh bayangan yang terbias karena sinar mentari. Bayangan tidak akan meninggalkan dirinya, "Ya Allah, kenapa seperti ini? Aku bukan mempertanyakan permainan takdir Mu. Namun, apakah harus menjadi serumit ini?"
Hatinya sudah menetapkan keputusan dengan keyakinan. Shena berjalan kembali menghampiri yang lain, membuat Dan beserta tim pilihan menatap ke arahnya. Tentu penasaran dengan apa yang akan dilakukan setelah ini. Apakah semua akan berjalan sesuai rencana awal atau justru terjadi perubahan.
__ADS_1
"Maaf lama," Shena mengembalikan ponsel milik suaminya yang masih menyisakan dua puluh persen baterainya. "Aku siap menjadi wakil CEO, tetapi proyek impian ku ada beberapa perubahan. Untuk lebih jelasnya, beri aku waktu dua puluh empat jam. Detail rincian akan ku kirimkan. Mas Dan, bisa tanda tangan setelah menyetujui proposal dariku. Deal?!"
Shena mengulurkan tangan, ia menanti sambutan hangat tangan sang suami. Selaku CEO yang memiliki titik keputusan pertama dari sebuah perusahaan. Tatapan mata saling bertautan, mengalirkan rasa kemanusiaan yang terpancar begitu jelas. Tidak ada kesempatan lain untuk memulai hubungan melalui setiap jalur memungkinkan.
Disambutnya hangat tangan sang istri, lalu menghentakkan dengan keyakinan. "Deal."
Akhirnya, kerjasama akan segera dilangsungkan. Pertemuan tak terduga yang menyatukan hubungan semakin lebih dalam, baik Shena atau Dan. Keduanya menetapkan tujuan masa depan. Mencoba merajut impian secara bersama-sama. Bersiap untuk berperang dalam segala rintangan.
Sementara di tempat lain. Tepatnya di kampus, Naina baru saja menyelesaikan presentasi dari proyeknya yang langsung membuat Mr. Xavier tercengang bahkan mulutnya terbuka lebar. Tidak menyangka, hasil dari proyek diluar ekspektasi hingga sepatah katapun tak mampu meninggalkan pikiran.
__ADS_1
"Okay, ini milik Anda." Naina menyerahkan hasil proyek, lalu mengambil surat kerjasama. Kemudian merobek kertas yang terasa melilit lehernya dengan banyak poin penyiksaan. "Merdeka dari penjajahan Anda. Sekarang saya tidak ada hubungan apapun dengan pria egois seperti Anda. Siti, ayo!"