
Permintaan kecil yang bisa langsung dikabulkan. Semua kembali normal karena kini tidak ada pemberontakan dari pihak keluarga. Meskipun sebagai pemilik rumah mendapatkan interogasi ala polisi dari para pria yang tinggal bersamanya. Tetap saja semua aman terkendali tanpa menghadirkan masalah baru.
Mari kembali ke Indonesia. Dimana raungan amarah terus bergema menggetarkan raga yang bernyawa. Bagaimana tidak takut ketika tubuh yang dijadikan pelampiasan harus berkorban tanpa alasan jelas. Semua hanya bisa menurut tanpa melakukan pemberontakan hingga kedatangan seseorang menghentikan kegilaan sang bos.
Cambuk yang terlempar menjadi akhir dari penyiksaan, "Sadarlah! Apa gini cara loe lampiasin emosi? Dia anak buah, bukan samsak."
"Kurang ajar, beraninya loe ...," gertakan yang bersambut suara tamparan keras mengalirkan sesuatu yang hangat dari sudut bibirnya. "Ck. Verdammt!"
Niat hati membalas, tapi gerakannya kalah cepat hingga mengubah situasi dirinya yang terkunci di bawah ketiak pria yang bernama Erick. "Bawa semua orang yang terluka kerumah sakit terdekat! Fatih amarah adalah musuh utama jadi sadarlah. Mau sampai kapan obsesi menjerat kewarasanmu, hah?"
Obsesi? Kewarasan? Apa arti semua itu ketika kehidupannya hanyalah seperti pecundang. Tidak memiliki rumah untuk pulang, apalagi sekedar bernaung dikala hujan dan panas meradang. Sebenarnya ia lelah berlari kesana kemari hanya untuk mengambil kebahagiaan yang pantas dia dapatkan.
Namun, apa boleh buat? Sejak awal hanya ada satu jalan yaitu merenggut hak kehidupan yang seharusnya menjadi milik dia seorang. Awalnya memang hanya sekedar membalaskan dendam hingga pengaruh Shena menjadi keinginan terbesar dalam hidup untuk bisa menjadi satu bersama sang pujaan hati.
Siapa sangka di tengah rasa yang merantai jiwa. Justru Tiara datang menawarkan raga sebagai jawaban atas pertanyaan yang berakhir dengan perpisahan. Ia sengaja menggoda mantan tunangan kakak angkatnya hingga menjadi pergulatan panas yang memuaskan. Kebiasaan menjadi pria pencicip begitu berguna memberi kenikmatan yang bisa berubah candu.
Semua usaha seperti aral rintang yang tidak bisa dianggap begitu mudah. Pertunangannya bersama Naina, lalu menekan mental si gadis rambut kepang. Kemudian penyiksaan fisik yang menyulut pemberontakan. Semua rangkaian peristiwa bergulir seperti roll film di dalam kepalanya.
__ADS_1
Fatih tertawa begitu nyaring, tetapi menertawakan dirinya sendiri. Sadar sudah kalah hanya saja enggan untuk mengakui. Saat ini yang tersisa hanya penyesalan, amarah dan sisa dendam yang ingin segera diselesaikan. Kendatipun untuk itu harus ikut hancur bahkan menjemput ajal.
"Pria tidak waras. Gue lelah nasehati loe biar balik ke jalan benar. Apa loe gak mikirin nasib bayi yang juga darah dagingmu sendiri?" Erick melepaskan kuncian tangan seraya mendorong tubuh Fatih hingga jatuh ke depan. "Lepasin Tiara, gue tahu gegara dia, loe jadi kaya sekarang. Coba deh pikirkan lagi keputusan loe."
"Anak gue? Dimana bayi itu? Loe tahu benar, gak ada yang tahu selain keluarga ... Haish ogah banget nyebut nama kutukan dari mulut gue." Fatih mengusap wajahnya kasar.
Benar juga yang dikatakan pria itu. Setelah insiden penyerangan tiba-tiba saja semua anggota keluarga Anderson menghilang bagai ditelan bumi. Jangankan menemukan keberadaan mereka, jejak napasnya saja tidak ada dunia. Benar-benar mengherankan ketika kekalahan lagi dan lagi menjadi kebiasaan.
Ingin sekali membakar dunia yang terus mempermainkan takdir hidupnya. Ia merasa dilahirkan sebagai kutukan yang tidak bisa mendapatkan kebahagiaan. Sementara kenyataan justru semakin menjatuhkan harga diri yang tinggal satu genggam. Tidak ada lagi yang tersisa baginya.
"Terserah deh. Capek gue ngarepin otak bebal biar lancar lagi," Erick mengambil ponsel yang tiba-tiba berdering, begitu melihat nama familiar di layar benda pipih langsung menggeser icon hijau menerima panggilan. "Loe diem aja."
"Selamat siang, disini dengan Erick Wijaya." sambut Erick narsis, membuat orang yang berada di seberang mendengus sebal.
Namun tetap menyampaikan maksud dan tujuan atas panggilannya yang dadakan hingga membuat Erick sesekali melirik ke arah Fatih yang sibuk melakukan peregangan badan. Percakapan selama lima menit lebih beberapa detik mengubah suasana hati yang seketika tak bisa ditoleransi lagi.
"Gue pamit dulu, dan coba pikirkan semua perkataan yang udah gue sampaikan. By the way, Anak-anak ngajak kumpul nanti malam di jalanan buat balapan liar. Everything will fine, Bro." Erick bergegas pergi dari tempatnya begitu usai berpamitan.
__ADS_1
Semua baik? Apa benar demikian. Seperti membodohi anak kecil saja. Dia sadar bahwa kehidupan sudah kalau balau dan tidak mungkin untuk diperbaiki. Meski bisa, tetap tidak akan bisa sama seperti dulu. Kehidupan slalu seperti itu ketika sudah terbelenggu dengan kesalahan dan dosa.
Alih-alih mendengarkan nasehat Erick. Fatih kembali melanjutkan pelampiasannya, tapi kali ini hanya sibuk berlatih memukul samsak yang memang bisa menerima bogem mentahnya. Sementara di tempat lain, Dan baru menyelesaikan investigasi dadakan yang dilakukan untuk menangkap mata-mata di perusahaan.
"Black, apa aku kurang tegas menjadi pemimpin? Orang-orang yang dipercaya bokap justru pengkhianat yang bisa disuap. Bukankah aneh?" Danish menerima secangkir kopi yang Black ulurkan padanya, aroma menyeruak begitu kuat.
"Perusahaan memang harus dipimpin dengan tegas, tapi bukan berarti sadis. Aku yakin Tuan Anderson tahu soal pengkhianat itu, tapi masih mempertahankan. Lalu pertanyaannya yang harus dijawab itu, kenapa tidak memenjarakan mereka?" Erick menarik kursi ikut duduk berhadapan dengan Dan.
Entahlah, ia pun tidak paham karena semua catatan nyatanya tidak bisa ditemukan. Jika bukan karena Black yang membantu maka tidak bisa membersihkan perusahaan dari para pengkhianat. Kini semua baik dan bisa kembali sehat. Setidaknya itu pemikiran Dan saat ini.
"Sudahlah, sekarang mau bagaimana? Informan baru mengirim pesan, katanya nanti malam akan ada balapan liar. Kamu bisa mengendarai motor 'kan?" tanya Black menuju topik yang lebih penting karena menyangkut Fatih.
Balapan motor? Sudah lama tidak melakukan hal yang selama ini dianggap sebagai hobi. Masalahnya di masa lalu ada tragedi yang membuat kesenangan itu terhentikan. "Sorry, aku gak bisa balapan."
Tatapan khawatir yang terpancar di mata Dan, membuat Black menyadari trauma pria itu. Tak ingin memaksakan karena bisa berakhir lebih buruk dari perkiraan. Kini semua harus dilakukan sendiri, suka tidak suka menjadi tanggung jawabnya untuk mempertemukan kedua kakak adik yang saling bersitegang.
Harapan tidak ada lagi karena yang tersisa hanyalah putus asa tak bertuan. "Aku yang balapan, kamu pake mobil saja."
__ADS_1
Sudah diputuskan apa yang akan mereka berdua lakukan nanti malam, tetapi Dan masih memikirkan keadaan sang istri yang pasti tengah menikmati rasa sakit akibat racun.