
Speechless dengan pernyataan Mua, membuat pria itu tak bisa berbuat apapun. Jujur saja ia berpikir bahwa gadis polos yang rela menyerahkan mahkota itu tidak memiliki keberanian yang saat ini menyita emosinya. Alih-alih merasa bahagia, ia justru tenggelam tidak memahami segala sesuatunya.
Pagi yang indah untuk dunia, tapi tidak untuk Fatih. Setelah mendapat kejutan tak terduga dari Mua, lalu memutuskan pergi meninggalkan markas untuk pulang ke rumah. Di saat itulah berita lain yang lebih menggemparkan kehidupan datang menyapa. Tiara sudah menjadi milik tahanan rumah sakit.
Bukan hanya itu saja karena dari penjelasan salah satu pelayan yang menunggu di rumah sakit mengatakan bahwa pihak kepolisian menyelidiki kematian tak wajar Tiara. Tak elak ia merasa tegang, dan merasa harus segera pergi menjauh dari rumahnya.
Namun ternyata semua sudah terlambat. Sepuluh menit sebelum kedatangannya, para polisi sudah mengepung dari segala sisi untuk menangkapnya. Benar-benar tidak bisa melawan karena memang tidak memiliki rencana pelarian. Ia pikir semua baik-baik saja.
__ADS_1
Penangkapan yang singkat tanpa harus berjuang begitu keras. Kini Fatih duduk di mobil polisi dengan kedua tangan diborgol. Pengawalan yang ketat hingga ditengah perjalanan tiba-tiba terjadi baku hantam yang cukup pelik. Usaha anak markas menuai hasil yang kurang maksimal.
Semua misi penyelamatan gagal karena pihak satu beserta pihak dua bekerjasama sehingga berhasil membawa Fatih memasuki bangunan kepolisian. Pria yang terlihat tenang tanpa gangguan. Melihat kebisuan dengan tatapan tajam yang Fatih tunjukkan, membuat sesi intrograsi diambang kegagalan.
"Bu, tersangka enggan untuk mengakui kejahatannya. Bagaimana sekarang?" lapor petugas polisi pada pemimpinnya.
Seorang wanita dengan seragam kepolisian yang begitu tegas berwibawa, membuat ibu pemimpin tersenyum tipis seraya mengibaskan tangan. Dibiarkannya sang anak buah pergi, lalu tatapan mata teralihkan pada cermin kecil yang ada di atas lemari. Wajah berbalut polesan make up tipis.
__ADS_1
Suka, tidak suka harus menjalankan tugas sebagai seorang pemimpin di divisi cybercrime. Akan tetapi, tugas kali ini lebih berat karena terikat secara emosional. Langkah kaki berjalan memasuki ruangan kaca dimana Fatih berada. Pria itu duduk dengan tangan dan kaki terikat serta menundukkan pandangan mata.
"Selamat siang, saudara Fatih. Bagaimana kabar Anda?" tanya Ibu Pemimpin membuat wajah pria itu mendongak, tatapan mata terperanjat tak bisa lepas dari pengawasannya. "Inspektur Muana Alden Mahend. Divisi cybercrime, senang berjumpa Anda di waktu yang berbeda.
"Bukankah kamu?" Fatih berusaha menyadarkan diri agar tetap memiliki kewarasan, tetapi sayang berkat kenyataan di depan mata. Kepercayaan di hati hilang memudar entah kemana, sedangkan Muana bersikap begitu santai tanpa ada gangguan.
Sesi interogasi kali kedua jauh dari kata angan. Mau tidak mau Fatih mengakui atas tindakannya pada Tiara. Semua itu karena bukti sudah dikumpulkan, maka pergulatan semalam sebagai bayaran atas kejujuran kali ini. Maka menurut hukum yang berlaku pria itu akan menghadiri sidang tuntutan atas tuduhan pembunuhan berencana.
__ADS_1
"Apa kamu puas dengan melihatku berdiam diri di balik jeruji besi? Setidaknya hukumannya tujuh atau sepuluh tahun penjara. Bagaimana jika satu bulan lagi kamu positif hamil?" Fatih tak hilang akal dan berusaha mengembalikan keadaan, tetapi Muana hanya tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan dirinya seorang diri.
Positive hamil? Apapun hasilnya nanti, maka biarlah ia tanggung seorang diri. Lagipula benih yang tertanam di dalam rahimnya begitu banyak, dan tidak pasti berhasil sekali percobaan. Iya 'kan?