Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 77: Emosi Campur Aduk


__ADS_3

Gelisah tiada kira. Ia pikir berdiam diri di dalam kamar untuk tetap menjaga kedamaian, tetapi justru menambahkan ketegangan. Bagaimana caranya mencari tahu status terkini dari kedua belah pihak, sedangkan waktu terus berjalan menuju persiapan untuk acara. Serba salah hingga tidak bisa menikmati rasa cemilan yang menemaninya dalam penantian.


Perasaan campur aduk, tetapi otak tetap bekerja berusaha untuk menemukan solusinya. Sementara yang dikhawatirkan tengah menikmati perjalanan panjangnya. Terlelap menikmati alam mimpi hingga secara perlahan mulai menemukan benang kesadarannya. Sayup-sayup terdengar suara yang mengetuk gendang telinganya. Suara itu tengah berbincang, tapi tidak ada yang menjawab obrolan tersebut.


Aneh, tapi rasa penasaran dan pusing yang mendera secara bersamaan. Semakin mempercepat irama detak jantung yang terasa salah. Entah kenapa adrenalinnya seakan berpacu dengan kesadaran yang terus terombang-ambing antara nyata dan ilusi. Namun, dari semua yang ia rasakan. Suara itu akan selalu ia ingat dalam memory.


"Sekarang hanya ada aku dan kamu yang akan menjadi kita. Kehidupan ini sempurna bukan?" Lirikan mata ke samping menatap gadis yang terlelap tanpa ada gangguan berarti. Wajah yang selalu menjadi candunya. "Shena, sudah ku katakan padamu. Takdir akan membawamu kembali ke pelukanku."

__ADS_1


"Iya, seperti yang aku harapkan. Tidak ada yang bisa memisahkan cinta kita. Aku tahu, kamu hanya khilaf memilih pria brengsek itu sebagai suamimu. C!h, kakak terburuk sepanjang masa." sambung Fatih dengan fokus yang terbagi.


Pemuda itu menukar motor dengan mobil milik Mami. Hanya untuk dipinjam sesaat karena tidak mungkin membawa Shena menggunakan kendaraan roda dua. Gadis yang malah tidak sadarkan diri, bagaimana akan aman? Kegilaan manusia ketika mencintai tanpa mengingat batasan. Maka hukum alam, hukum karma atau hukum apapun. Sudah pasti tidak akan berlaku.


Tanpa Fatih sadari. Jika perjalanan diikuti oleh kendaraan lain yang berjarak aman. Siapa lagi jika bukan Naina bersama si pria berkacamata yang mengenakan baju seragam staff WO. Keduanya berusaha untuk bekerjasama tanpa membahas insiden yang membuat mereka menahan rasa sungkan. Perjalanan selama tiga puluh menit dari bangunan terbengkalai, mobil di depan mulai memasuki sebuah wilayah yang elite.


Apartemen Sriwijaya. Dimana wilayah itu hanya memiliki tiga gedung pencakar langit yang dikelilingi oleh pagar hutan. Meskipun terkesan mewah, tetapi memiliki area private yang benar-benar memiliki penjagaan ketat. Tidak menyangka, jika Fatih membawa Shena untuk menempati salah satu apartemen yang digadang-gadang harus mengeluarkan biaya fantastic.

__ADS_1


"Hey kenapa berhenti? Mobilnya semakin jauh itu." protes Naina yang memang kurang paham tentang peraturan dari apartemen di depannya itu, membuat pria berkacamata melepaskan helmnya, lalu turun dari motor. "Eh, ayo naik lagi!"


Apapun yang dikatakan Naina hanya ia abaikan. Tak ingin membuang waktu lagi, maka harus bergegas melakukan sesuatu. Jika menjadi pelayan, pasti hanya akan mendapatkan penghinaan. Kekuasaan penting dalam keadaan terdesak. Tanpa basa-basi diambilnya ponsel yang bersemayam dalam saku celananya. Kemudian menghubungi seseorang yang akan langsung membantu masalahnya.


Kali ini, ia tak ingin membuat kesalahan. Apalagi melihat kecemasan dari Naina yang semakin menjadi, hingga gadis itu nekat ingin menerobos masuk ke dalam. Akan tetapi keadaan gerbang yang tertutup rapat terkunci otomatis. Beruntung ia bisa menahan meski mendapatkan pemberontakan. Gadis itu cukup memiliki tenaga untuk disalurkan.


"Diam!" bentak si pria berkacamata, membuat Nai tersentak dengan tubuh bergetar. "Apartemen ini bukan taman negara yang bisa seenak hati keluar masuk. Apa kamu tahu, agar bisa melewati gerbang harus memiliki satu flat dengan biaya administrasi serta DP pertama sebesar lima ratus juga."

__ADS_1


Seketika tak mampu menahan dirinya lagi. Bagaimana sekarang nasib Shena? Seharusnya sejak awal mengikuti keinginan Fatih, tapi hanya karena rasa takutnya. Justru semua berakhir semakin rumit tanpa ada solusi. Sekarang ingin meminta bantuan pada siapa? Apakah harus menghubungi Danish?


"Hey, jangan nangis." Pria berkacamata melepaskan genggaman tangannya, lalu menangkup wajah Nai, kemudian mengusap air mata yang mengalir tanpa isak tangisan. "Orang ku akan datang, bersabarlah."


__ADS_2