
Membiarkan Naina dalam pengawasan orang lain? Tidak sebodoh itu, ia tahu jika dibalik kacamata seorang pelayan ada nama yang besar. Benar, identitas Xavier sudah menjadi targetnya. Semua yang terjadi bukan mengikuti alur rencana yang Fatih buat.
Ia sengaja mengirim seseorang untuk memberikan kotak gaun mempelai wanita pada Xavier, lalu tanpa disadari pria itu yang mengikuti arah jalan sudah dirinya tetapkan. Permainan dimulai, ketika langkah kakinya meninggalkan kediaman Anderson.
Bahkan mobil taksi yang sengaja dipesan sudah menjadi bagian rencananya yang juga rencana Fatih. Secara sadar menyerahkan diri masuk ke dalam perangkap hingga menjadi tawanan yang harus menikmati sakitnya tangan dan kaki di ikat. Tetap saja tak mengubah tekadnya.
Satu persatu musuh menampakkan diri. Meski orang-orang hanya menjalankan perintah Fatih. Mereka mendapat keuntungan yang hanya berupa kesenangan duniawi. Cukup jelas, bukan uang yang menjadi masalah. Jika melakukan penyuapan, bisa dipastikan tidak akan berguna.
Jika memejamkan mata dan orang berpikir pingsan. Naif sekali, memang benar obat bius sudah dihirup. Akan tetapi, sayangnya hanya sedikit. Sejak kedatangan Mami yaitu si wanita yang merupakan induk semang para kupu-kupu wanita malam. Kesadaran Shena sudah kembali.
Semua kata yang keluar dari mulut wanita itu dan aksi tak senonoh bersama Fatih. Semua jelas terdengar memenuhi gendang telinganya. Namun ia tak berniat untuk melarikan diri, meski harus menahan diri untuk menikmati rasa jijik dan muak.
__ADS_1
Kesalahannya hanya satu, rencana plan B dari Fatih yang tidak ia duga. Entah kenapa pemuda itu menyuntikkan sesuatu hingga mengambil seluruh kendali tubuhnya. Sudah berusaha sekuat tenaga untuk mengacaukan usahanya, tetapi gagal. Fatih berhasil memanfaatkan keadaan.
Racun di tubuh masih ada, tetapi untuk mendapatkan penawar harus menunggu waktu, sedangkan permainan baru dimulai. Jika bertindak sendiri, tentu bisa mengalami kegagalan lagi. Mau, tak mau harus menyusun rencana baru karena pernikahannya bukan untuk dipertaruhkan.
Shena masih menunggu kopi yang dimintanya sembari menyusun beberapa rangkaian peristiwa untuk dijadikan skema target. Sedangkan Dan sibuk berdebat dengan Xavier di dapur. Kedua pria itu seperti tom and jerry yang sudah lama tidak saling berjumpa. Jika tidak mengingat suasana rumah, sudah pasti saling cakar mencakar.
"Jadi, status bujang lapuk udah ilang. Ku kira bakalan nempel trus." sindir Dan yang hanya memegang cangkir tanpa meracik kopi.
"Musuh? Gak salah nih." Dan mengernyitkan kening, "Kita itu orang asing. Sejak kapan jadi musuh."
"Terserah deh, intinya aku cape. Permisi." Xavier pamit seraya membawa nampan makanan, tapi baru beberapa langkah berjalan sudah berhenti, lalu menoleh ke belakang. "Dan, suka tidak suka hubungan kita sudah berubah. Coba tanya istrimu, kenapa tahu Aku menikah dengan Naina."
__ADS_1
Terdiam dengan pernyataan terakhir Xavier. Benar juga yang dikatakan si bujang lapuk. Shena yang pulang bersamanya, tapi tahu apa yang terjadi di rumahnya. Apa tidak salah? Patut untuk dipertanyakan dan untuk mendapatkan jawaban, kopi harus segera disiapkan.
Sepuluh menit kemudian. Aroma kopi menyebar memasuki kamar, membuat Shena yang memejamkan mata duduk bersandar di kursi kerjanya membuka mata perlahan. Terlihat jelas, gadisnya sangat lelah dengan semua masalah yang datang silih berganti. Kebahagiaan hanya sesaat, tetapi penderitaan terus menerus.
"SheZa, kopimu. Mau ku pijat?" Dan meletakkan nampan ke atas meja kerjanya seraya menawarkan diri untuk melayani, namun istrinya hanya menggelengkan kepala, lalu beranjak dari tempat yang di duduki.
Tangan lembut membimbingku untuk menggantikan posisinya. Entah apa yang ada di dalam pikiran gadis satu itu. Satu yang aku tahu, pasti telah menyiapkan kejutan yang akan dibahas berdua. "SheZa?"
Bukannya menjawab panggilan Dan. Shena mengutak-atik si lepi, lalu menunjukkan sesuatu pada suaminya itu. Lirikan mata yang mengisyaratkan untuk memeriksa pekerjaan, sedangkan ia sendiri mengambil cangkir kopi untuk menetralisir ketegangan yang ada dalam dirinya.
Skema target yang telah dirancang diperhatikan secara seksama. Satu persatu nama dengan poin singkat yang menjelaskan rangkaian peristiwa, tapi satu pertanyaan mengganjal hatinya. Bagaimana Shena membuat perincian seperti itu? Bukankah sang istri kuliah jurusan lain, bukan bisnis.
__ADS_1
"Mas! Kenapa malah melamun?" Shena menggenggam bahu suaminya, "Apa kurang rinci?"