
Otak bisnisnya bekerja sempurna setiap kali mendapatkan kesempatan. Apalagi melihat segarnya wajah Shena walau dalam pengaruh obat bius. Pantas Fatih sangat mengharap bisa mendapatkan gadis itu, yah meski bisa kehilangan semua yang dimiliki selama ini. Bukan hal mudah untuk mendapatkan Shena yang ternyata seorang atlet bela diri.
Apakah ia menemukan Shena dengan kebetulan atau memang itu berkat taktik anak buahnya? Siapa yang tahu karena yang terpenting adalah bukti di depan mata. Kini Shena diam dengan mata terpejam, bahkan tangan dan kakinya terikat menyatu ke kursi. Secara rasional jelas tertangkap sebagai tawanan.
Sesaat Mami sibuk menimbang mana yang akan menjadi keputusannya. Apakah memberikan Shena pada Fatih atau lebih baik menjadikan gadis itu sebagai anak buahnya. Namun, kesibukannya terlalu larut dalam emosi, sedangkan di bawah sana. Nai baru saja sampai dan langsung turun mengintai keadaan sekitar.
Gadis itu sengaja meminta pada pria yang menjadi teman perjalanannya kali ini untuk berhenti meninggalkan jarak dari bangunan di depan sana. Lalu ia menyusuri pagar ilalang yang cukup tinggi. Dimana pagar tumbuhan itu mengelilingi bangunan tua yang menjadi tempat Shena disekap. Keduanya nampak sangat memperhatikan langkah kaki agar tidak menimbulkan suara yang mencurigakan.
Namun, disisi lain. Suara deru motor sport terdengar mengalihkan perhatian keduanya. Suara mesin yang sangat familiar. ''Hey, apa kamu bisa memasuki bangunan dari lubang itu?''
__ADS_1
Nai menunjuk ke arah pagar yang berkarat, tetapi sudah rusak karena dimakan usia, membuat si pria berkacamata mengangguk paham. Langkah kaki yang pasti dengan tatapan waspada ke sekitarnya. Ia mencoba untuk mengikuti arahan Naina, sementara itu, Fatih bergegas turun dari motornya tanpa melepas helm yang menutupi wajah.
Anak buah yang langsung mempersilahkan tanpa bertanya atau melakukan pemeriksaan. Mereka hafal dengan postur tubuh pemuda itu, maka dari itu dibiarkan masuk tanpa menunjukkan wajah. Langkah kaki menyusuri anak tangga semakin naik dan menuju lantai dua. Kini harapan dan impian akan menjadi satu dalam kebahagiaan dalam kepemilikan atas nama cinta obsesi.
Terlihat Mami masih memperhatikan Shena hingga kedatangannya yang mengalihkan perhatian wanita itu, ''Boy, kamu terlambat. Dari mana saja?''
''Aku menyiapkan istana untuk gadis impianku. Thanks sudah mengabulkan permintaan kecilku, Mam.'' Fatih melepaskan helm nya, lalu menghampiri wanita itu dan tanpa sungkan meraup bibir nan merah merekah dalam pagutan sesaat yang hanya menimbulkan suara decakan manja.
Tidak habis pikir dengan perbuatan yang di luar pemikiran tersebut. Percakapan di antara kedua insan itu sengaja direkam untuk dijadikan bukti. Itu dilakukan demi mengantisipasi masalah kepercayaan, sedangkan langkah selanjutnya akan ia pikirkan bagaimanapun caranya.
__ADS_1
Setelah melihat semua secara jelas, barulah ia meninggalkan tempat pengintaian. Perlahan melipir dengan rute yang sama, tetapi siapa sangka. Ternyata gadis yang ia tinggalkan justru menyusul mengikuti langkah pergerakannya. Tatapan mata saling beradu, namun melupakan situasi yang ada.
"Nai, kita harus pergi meninggalkan tempat ini." ucapnya menahan pergerakan Naina yang ingin masuk ke dalam melalui lorong jalan rahasia yang tak sengaja ditemukan.
Nai berusaha melepaskan cengkraman tangan si pria berkacamata, tetapi tenaganya tak sebanding dengan kekuatan pria dewasa. "Lepas sakit tau!"
Bentakan yang tertahan menyadarkan pria itu telah menyakiti Naina, tetapi tidak ada pilihan lain. Jika untuk mengantisipasi masalah baru harus melakukan sesuatu yang salah. Maka akan dilakukannya. Terlebih amarah yang ada di mata Nai akan menimbulkan pengalihan perhatian orang-orang di sekitar mereka.
Tanpa permisi tangannya merengkuh tengkuk gadis yang kini terduduk di depannya. Membiarkan sentuhan lembut mendarat dengan sempurna merasakan manisnya bibir nan tipis itu, sentakan yang mengejutkan hingga membungkam emosi di hati. Ia tak menyangka akan mendapatkan kecupan tanpa tuntutan yang memaksa.
__ADS_1
Terbuai akan rasa, melupakan suasana sekitarnya hingga suara langkah kaki terdengar dari bawah. Pria itu bergegas melepaskan pagutan, lalu menarik Naina untuk pergi meninggalkan tempat itu. Tidak ada lagi yang bisa menghentikannya kecuali takdir yang berkhianat. Sementara itu, di kediaman Anderson masih tenang dengan kesibukan yang nyata.
Siti terus berjalan mondar-mandir seraya terus mengunyah cemilannya. Semakin mencemaskan keadaan, maka rasa lapar semakin mendera. "Ayolah, dimana kalian? SMS atau telfon aku gitu. Sekarang aku harus apa kalau tiba-tiba ada yang tanya?"