
Perlahan menghembuskan nafas agar emosi tidak semakin menyelimuti hatinya. Saat ini akan lebih baik, jika pikiran dan perasaan bisa dipisahkan. Murka? Tidak ada manfaatnya. Sesaat memainkan tautan tangan hingga menemukan titik pencerahan.
"Eisha, Fatih putramu. Apa yang harus aku lakukan?" Tuan Anderson melirik ke arah wanita yang masih berdiri agak jauh darinya.
Catatan tangan yang bertuliskan. Aku telah menodai menantu idaman mu dari Fatih sangat menghancurkan hati, tetapi tak akan mengubah apapun. Demi kebaikan harus membuat keputusan yang tepat dan tidak sampai salah. Apalagi dalam jalan ke depan, pasti akan ada rintangan baru lagi.
Eisha maju satu langkah, "Tuan, Fatih memiliki sifat sama seperti ayahnya. Terbiasa mengancam, tapi tidak melakukan apapun. Satu kebiasaan lagi yang harus diketahui. Dimana bertindak tanpa memberikan ancaman. Seperti bermain lempar kesalahan."
"Jika benar Fatih sudah melakukannya. Tuan bisa memanggil dokter ahli untuk melakukan pemeriksaan. Kita akan tahu hasilnya seperti apa, bagaimana?" sambung Eisha juga ikut bertanggung jawab atas apa yang telah terjadi.
Bukan bermaksud untuk tidak peduli. Namun hatinya ikut campur aduk mengingat bagaimana perangai sang putra yang kian tak terkendali. Apakah kemewahan menjadi alasannya? Jika benar, sungguh semua ini salahnya. Andai tidak meminta pertanggungjawaban, mungkin saja pemuda itu masih polos.
Apa arti dari menodai? Jika tak memahami hal yang tersembunyi di dalamnya, hanya akan menjadi kesalahpahaman. Di tengah kemelut hati dan pikiran. Tiba-tiba ia mengingat sistem keamanan yang ada di perumahan Sriwijaya. Rincian yang menjelaskan bahwa CCTV tersembunyi ada di setiap kamar.
Tanpa menunda waktu lagi, Tuan Anderson menghubungi pihak manajer dan menjelaskan situasi yang ada. Tidak ada perdebatan sengit selain memberikan apa yang diminta oleh nya. Hasil rekaman CCTV langsung dikirim ke ponsel pribadinya.
Satu rekaman di putar, beralih ke putaran lainnya hingga menemukan rekaman yang dibutuhkan. Nafas yang tertahan dengan tatapan mata teralihkan, ia tak sanggup lagi melihat rekaman yang ada. Akan tetapi, Eisha mengambil ponselnya.
Rekaman yang dengan jelas memperlihatkan Fatih menyingkap pakaian Shena secara perlahan, lalu membuat tubuh keduanya menjadi polos tanpa penghalang. Kemudian memposisikan diri hanya untuk berselfie ria. Pose yang intim tanpa ada sentuhan lebih.
Tidak habis pikir dengan akal sehat putranya yang sudah tidak waras. Rekaman berakhir tanpa ada pergulatan ataupun sekedar satu kecupan jejak kepemilikan. Noda? Jika foto-foto tak senonoh itu tersebar, bisa menjadi pukulan telak yang akan merusak nama baik keluarga.
"Tuan, saya minta maaf atas tindakan Fatih yang tidak lagi bisa ditoleransi. Sebagai gantinya, akan saya pastikan putraku melepaskan semua impian dan mendapatkan hukuman yang setimpal. Nona Shena masih bersih tanpa noda. Anak kurang ajar itu hanya memanfaatkan foto untuk mengintimidasi semua orang." tukas Eisha dengan suara gemetar menikmati remuk di hatinya.
Ditengah rasa yang tidak bisa di jabarkan, Tuan Anderson mencoba untuk tetap tenang, tetapi ketika ponselnya berdering dengan layar yang tertera nama my son. Ia berusaha sebaik mungkin untuk mengubah emosinya. Entah apa yang akan ia dengar kali ini.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum, Nak." ucap salam Tuan Anderson mengawali percakapannya.
Percakapan yang terdengar serius, membuat Eisha sedikit mundur dari tempatnya berpijak. Ia sadar posisinya yang tidak seharusnya ada disekeliling sang Tuan. Meski untuk menyelesaikan masalah yang ada, tetapi posisi tidak akan sama.
Sementara itu, di kediaman Anderson. Semua orang terpana karena calon mempelai wanita yang datang memasuki rumah bersama pria lain. Bagaimana tidak ternganga? Selama beberapa waktu, semua berpikir gadis itu masih sibuk bersiap. Ternyata tidak demikian.
"Nai, bisa jelaskan ke Tante." Tante Amora menunjuk ke arah pria berkacamata, "Siapa dia? Apa kekasihmu?"
Nai ingin menjawab, sayangnya suara tegas, jelas, tanpa keraguan mengalihkan perhatian semua orang. Entah keberanian darimana hingga memberikan pengumuman yang sangat menyentak kesadaran tanpa ampun. Tidak habis pikir dengan tindakan yang gegabah, walau itu menyelamatkan kehidupannya secara tidak langsung.
Si pria berkacamata merengkuh pinggang Nai, lalu menatap gadis itu dengan senyuman manis. "Kami saling mencintai dan ingin menikah. Bukan begitu, Sayang?"
Bukan hanya keluarga yang terkejut saling pandang, Naina pun merasa dunianya terhempas jauh hingga tertelan gulungan ombak di lautan. Jangan bicara tentang cinta, nama pria yang kini memeluknya dari samping saja. Dirinya benar-benar tidak tahu. Bagaimana bisa membicarakan tentang pernikahan?
Melihat diamnya sang keponakan, membuat Tante Amora melangkahkan kaki menjauh dari Naina. Tatapan mata nanar dengan deru nafas tak beraturan. Ingin sekali bertanya kembali, tetapi hati tak sanggup menerima kebenaran lebih jauh lagi.
''Nara, bagaimana dengan putramu? Fatih sudah cukup menunggu dan mau menerima Naina dalam kekurangannya ...,'' Tante Amora tak sanggup melanjutkan perkataannya, sungguh tak tahu lagi harus menyikapi keadaan yang ada seperti apa.
Di sisi lain, Si pria berkacamata dengan penuh keyakinan meminta doa restu untuk hubungannya yang notabene tidak pernah ada. Namun seperti oase dipadang pasir, penerimaan yang dilakukan Mama Quinara berujung penolakan dari Tante Amora.
Waktu terus bergulir menuju pertemuan untuk melakukan upacara pertunangan. Para tamu undangan yang mulai berdatangan. membuat seluruh keluarga berkumpul di kamar atas dengan niat menyelesaikan perbedaan keputusan yang menjadi bumerang. Nai masih berusaha untuk meminta maaf, tapi tidak mendapatkan kesempatan.
Melihat situasi yang semakin tidak benar, Mama Quinara mencoba untuk membantu Nai agar bisa terbebas dari ikatan yang dibuatnya. Didekatinya sang sahabat, lalu menggenggam kedua tangan yang terasa begitu dingin. Tatapan mata nanar terasa hampa tanpa sinar harapan.
''Amora, pernikahan bukan hanya tentang penerimaan secara sepihak. Apakah kamu merasa Naina akan sengsara karena menikah dengan pria yang ia cintai? Jika iya, aku akan diam tanpa memberikan restu. Lihatlah pernikahan antara aku dan Mas Anderson. Please sekali saja berikan kesempatan agar putrimu mendapatkan cinta yang sebenarnya.''
__ADS_1
''Aku tahu, jika lamaran yang ku ajukan menjadi beban hati dan pikiranmu. Akan tetapi, Naina juga putriku, sama seperti Shena. Bagaimana mungkin aku membedakan keduanya? Pahamilah, jika mereka berdua memang berjodoh. Tidak seorangpun bisa menghentikan takdir yang ada.''
Panjang kali lebar ceramah yang diberikan Mama Quinara hingga sedikit, demi sedikit mengubah keras hati sang sahabat mulai luluh lantak. Tak ada lagi ego untuk kebenaran yang ia pegang. Tatapan mata teralihkan menatap Naina yang berdiri dengan wajah lesu, sedangkan si pria berkacamata tetap setia menemani sang keponakan.
''Nai, kemarilah!'' titah Tante Amora dengan ucapannya yang terdengar lebih lembut dan tenang dari sebelumnya.
Naina berjalan menghampiri Tante Amora. Dimana wanita dewasa itu beranjak dari tempat duduknya, lalu merentangkan kedua tangan. Senyuman hangat yang menawarkan kasih sayang dalam kerinduan. Pelukan hangat tak terelakkan. Penerimaan yang mengubah suasana kembali baik.
Entah siapa yang memulai, hingga acara dirubah menjadi pernikahan dadakan. Mereka juga bingung ketika di acara pertunangan, justru pak penghulu yang datang. Padahal tidak ada yang mengundangnya, semua bingung kecuali Naina. Gadis itu ingat bahwa Fatih melakukan semuanya seperti yang telah direncanakan.
Akan tetapi, ketidakhadiran dari pemuda itu membuat semua rencana baru berjalan lancar. Dimana pernikahan dilangsungkan tanpa gangguan. Semua tamu undangan tak menyangka akan mendapatkan kejutan yang luar biasa. Bagaimana tidak? Mempelai pria bukanlah pria sembarangan karena pria itu adalah musuh dari keluarga Anderson.
Mr. Xavier. Pria yang terkenal benci akan sosok wanita justru mengucapkan ijab kabul dengan begitu lancar dihadapan semua tamu undangan. Siapa yang tidak tercengang? Anal-anak teman kampus yang turut hadir dalam acara tersebut harus gigit jari. Pria tampan yang kini memakai setelan jas biru navy dan tanpa kacamata berubah menjadi pangeran tampan tanpa kuda putih.
''Nai, ayo turun! Suamimu sudah menunggu kedatanganmu.'' Mama Quinara menjemput mempelai wanita dari kamar tamu yang menjadi tempat persiapan.
Gaun putih lengan panjang dengan hiasan mutiara dipinggang. Rangkaian mahkota bunga yang melingkar di atas kepala dengan rambut terurai bergelombang. Make up natural dengan senyum yang dipaksakan. Jelas pernikahan yang terjadi hanya untuk menyelamatkan diri, tetapi apakah pria itu mau menerimanya?
Wajah sendu yang nampak mengurangi aura kebahagian, menyadarkan Mama Quinara bahwa Nai mengalami dilema hati. Sudah pasti gadis itu merasa keluar dari kandang buaya dan masuk ke kandang singa. Apa bedanya? Tak ingin membawa keluar Nai dalam keadaan sedih, tetapi apa yang harus dilakukannya?
''Nak, apa kamu takut dengan pernikahan ini?'' tanya Mama Quinara mencoba untuk memulai perbincangan, tetapi Nai masih sibuk menatap cermin dengan tatapan mata kosong.
Melihat itu, tangannya tergerak mengusap punggung gadis yang nampak begitu rapuh. Apakah Amora tidak tahu, jika jiwa keponakannya sangatlah riskan begitu lemah. Jelas dari sorot mata yang menceritakan banyak luka terpendam. Seakan kekosongan itu menjerit mengharapkan kemerdekaan.
Apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa bisa memiliki tatapan dalam penuh kegelapan rasa. Usapan saja tak mengoyahkan sorot mata yang menyakitkan, tak bisa berkata dengan rasa yang sungguh begitu tampak pilu untuk dijabarkan. Linangan air mata yang mulai jatuh menjadi jawaban tanpa penjelasan.
__ADS_1
Diam menikmati semilir angin dalam kegelisahan, "Nai, terimalah pernikahan ini dengan lapang dada. Mama bersyukur kamu terbebas dari Fatih. Percayalah, pria yang berani menegaskan kamu miliknya. Pria seperti itu pantas kamu pertahankan. Pernikahan ini tak ubahnya tangga pertama untuk menjadi dirimu sendiri."
"Apakah itu berarti, Tante tahu tentang tabiat Fatih?" Suara gemetar berusaha sekuat tenaga untuk mengajukan pertanyaan yang masih saja menyakiti hatinya.