Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 70: Tanya, Rasa Sakit


__ADS_3

Tidak ada jawaban. Sekali lagi mencoba untuk melakukan panggilan, tetapi tidak ada respon. Sepertinya orang yang dihubunginya tidak memahami aturan yang sudah ditetapkan. Apakah sengaja atau bagaimana? Semakin dibiarkan pasti bisa melunjak.


Bukannya masuk ke rumah. Pemuda itu kembali menaiki motornya, lalu menyalakan mesin, kemudian menginjak gas. Motor mulai melaju meninggalkan depan gerbang kediaman Anderson. Hatinya mulai memanas ingin segera menemui orang yang menjadi penyebab seluruh laranya.


Sementara itu, Shena dan Danish baru saja kembali ke rumah. Setelah menyelesaikan pertemuan. Rona bahagia terus terpatri di wajah pasutri itu, membuat para pelayan turut bahagia. Termasuk Mama Quinara yang memperhatikan dari ruang makan. Ucapan syukur terus memenuhi relung hatinya. Tak menyangka, sang putra mendapatkan istri yang tepat.


"Sore, Ma. Lagi buat apa nih? Wah, soup buah kesukaanku." Danish langsung menarik kursi, lalu menggeser semangkuk sop buah yang sudah siap saji.


Baru saja ingin mengingatkan belum ditambah susu kental manis dari frisian flag. Danish justru sudah mencicipi dan hasilnya mengerutkan kening. Tentu rasanya masih belum pas. Apalagi belum ditambah taburan parutan keju. Saking tidak sabaran atau memang merindukan makanan penyegar satu itu?


"Makanya, Mas. Sabar, sini!" Shena mengambil mangkuk dari hadapan suaminya, lalu menambahkan susu sesuai takaran dan menaburkan buah kering serta keju. Kemudian kembali memberikan mangkuk pada Danish.


Sikap sigap Shena, membuat Mama Quinara terharu. Romansa yang sama, tiba-tiba saja hatinya merindukan sang suami. Andai Anderson ada bersamanya, sudah pasti akan menjadi kebahagiaan yang lengkap. Akan tetapi, pekerjaan tidak bisa ditinggalkan. Semua harus baik untuk masa depan keluarga.


Menikmati semangkuk soup buah yang diracik dari tangan kedua wanitanya. Rasa manis dengan kesegaran itu semakin menambah kenikmatan. Apakah ini yang disebut kebahagiaan nyata? Mama dan istri serempak bahkan lebih mirip seperti ibu dan putrinya. Kompak dengan kehangatan yang tulus. Seketika melepas seluruh beban hati.


Kebersamaan dengan canda, saling menyuapi satu sama lain. Rumah baru yang hidup dengan kebahagiaan aroma buah. Mama Quinara bahkan tak sungkan membuatkan soup untuk semua orang. Akhirnya seluruh anggota di rumah itu duduk bersama di taman dengan menyeruput kuah manis dengan kunyahan buah sehat menyehatkan.


"Ma, boleh minta waktu sebentar? Kita bicara di tempat lain." Shena melepaskan tangannya yang digenggam Mama Quinara sejak lima belas menit terakhir, tatapan mata yang serius dengan keseriusan diwajah.

__ADS_1


Satu sisi, Danish sibuk mendengarkan cerita dari Mang Asep tentang kisah cintanya bersama sang istri. Seakan mendapatkan kesempatan, Shena menggunakan waktu mengajak Mama Quinara meninggalkan taman. Keduanya berpindah menuju ruang makan, tentu agar bisa mendapatkan alasan yang tepat, jika ada yang bertanya.


"Ada apa, Nak?" tanya Mama Quinara, begitu keduanya duduk saling berhadapan.


Wajah serius dengan helaan nafas panjang. Sudah pasti ada yang tidak beres, tapi apa? Apakah seberat beban satu kwintal? Untuk pertama kalinya, ia melihat sang menantu termenung dalam dilema, sedangkan api amarah nampak tertahan dalam bingkai tajamnya tatapan mata.


"Papa Anderson sudah menjelaskan semua secara lengkap tentang Fatih, tapi Shena ingin tahu dari Mama." Sesaat menghentikan ucapannya, diraihnya tangan sang Mama mertua. "Ma, aku tidak bisa berjalan maju. Jika keluarga sendiri penuh tipu muslihat. Sekali saja, katakan padaku. Apa yang sebenarnya terjadi."


Bukan tidak percaya. Sebuah koin akan selalu memiliki dua sisi. Benar dan salah pasti tercampur menjadi satu. Tidak peduli apapun yang terjadi. Kehidupan tidak akan berubah. Hukum alam dan hukum waktu serta hukum takdir. Selalu nyata tanpa bisa di ganggu gugat. Pada intinya, semua terkoneksi seperti insting yang ada di dalam diri makhluk hidup.


"Mama akan menjelaskan," Wanita itu menoleh ke belakang, memastikan jika hanya ada mereka berdua saja. "Fatih merupakan anak ...,"


Tidak akan berjalan mulus. Shena beranjak dari tempat duduknya. Sore yang membawa ketidakberuntungan waktu. "Kita bisa bahas besok, Ma. Aku akan izin buat ajak Mama jalan. Ayo, Ma."


Kembalinya Shena dan Mama Quinara ke taman menghentikan niat bercerita kilas masa lalu, tetapi di tempat lain. Seorang gadis tengah menahan rasa sakit akibat cengkraman tangan yang menyakitkan. Jangankan untuk berteriak, sekedar mengucap satu katapun. Ia tak bisa. Bibirnya nyeri dengan aliran hangat rasa getir.


Tidak tahu, kenapa pemuda yang mengaku siap menjadi imam keluarga melampiaskan amarahnya dengan brutal. Tanpa ada kata permisi melayangkan tamparan hingga tubuh tak mampu berdiri lagi. Tatapan mata bengis dengan alis naik menyeramkan.


"Loe bosan hidup hah!" bentak pemuda itu seraya menarik paksa rambut kepang yang menyulut hinaan dari kekasih gelapnya. "Gue telfonin, loe gak angkat ....,"

__ADS_1


Panjang kali lebar dengan gaya bahasa yang kasar. Entahlah bahasa manusia atau bahasa hewan yang digunakan. Kepalanya terasa berputar, tidak sanggup menahan rasa sakit yang menikam. Semakin lama, suara yang memekakkan telinga perlahan terbang memudar bersama hembusan angin.


Samar-samar hanya menyisakan pemandangan yang mulai berubah menjadi gelap. Tidak mampu mempertahankan kesadarannya lebih lama lagi hingga sentuhan yang terasa panas kembali mendarat mengambil seluruh kesadaran. Jatuh tak sadarkan dengan wajah lebam, bibir berdarah.


Sontak membuat pemuda itu kelimpungan hilang akal. Apakah ia terlalu berlebihan? Padahal hanya satu tendangan di perut dan tiga kali tamparan yang baginya masih tamparan biasa tanpa tenaga. Pemuda itu lupa, calon istrinya bukan pegulat, tetapi gadis rumahan yang tidak mengenal kekerasan.


"Hey, cupu, sadarlah!" Berusaha menepuk pipi si gadis, tetapi tidak ada kemajuan.


Mata yang terpejam dengan penampilan kacau tak enak untuk dipandang. Tak ingin menambah masalah, di angkatnya gadis itu dan bergegas memesan taxi untuk mengantarkan ke rumah sakit terdekat. Semua harus teratasi tanpa menimbulkan masalah baru.


Dua jam kemudian.


Perlahan mengerjapkan mata, mencoba menyamakan cahaya yang menelusup masuk ke dalam kelopak mata. Namun kesadarannya yang baru saja kembali, seketika merasa takut kembali. Tanpa sadar, tubuhnya gemetaran bahkan kedua tangan mengepal menggenggam selimut. Wajah yang ada di depan mata, menghentakkan jiwanya.


"Nai, alhamdulillah kamu sadar, Nak." Tante Amora bergegas menekan bel agar dokter datang untuk memeriksa sang keponakan, tak sabar untuk memastikan keadaan gadisnya baik-baik saja. "Fatih, kamu bisa pulang. Tante ada buat jaga Nai."


"Fatih tetep disini karena ikut jagain Nai, Tante. Bukankah menemani pasangan dalam keadaan terpuruk merupakan tanggung jawab seorang calon suami?" ujar Fatih begitu manis, membuat Tante Amora terharu dengan hati yang berbunga, tetapi tidak dengan Naina.


Gadis itu ingin menjerit, mengatakan apa yang terjadi, namun semua keinginan runtuh seketika. Ia lebih menyayangi sang tante. Jika sampai wanita dewasa itu tahu keadaan tekanan jiwanya, bukan tidak mungkin akan mendapatkan guncangan yang menyakitkan.

__ADS_1


__ADS_2