Aku Bukan Perebut

Aku Bukan Perebut
Bab 64: Pertanyaan Xavier, Pergi


__ADS_3

Kenapa Mr. Xavier bisa bertanya seperti itu? Setahunya, Naina tidak mengatakan apapun, bahkan proyek berjalan baik tanpa keluhan. Buktinya laporan diterima setiap seminggu sekali. Bukan hanya itu saja karena mahasiswa yang paling jenius di kampusnya memiliki tanggung jawab yang sangat baik. Melebihi dari ekspektasi yang ia bayangkan. Tentu saja merasa aneh dengan pertanyaan yang diajukan Mr. Xavier.


Lalu, pertanyaan macam apa yang ditanyakan Mr. Xavier? Tentu tidak mendasar karena tidak ada perubahan dalam proyek. Baik tim kerjasama dan juga tenggat waktu yang sudah ditentukan. Tanpa mengurangi kesopanan serta keramahtamahan. Pak Ibrahim menurunkan pandangan matanya.


"Maaf, Mr. Xavier. Murid saya tidak mengkonfirmasi apapun, selain status dari proyek yang saat ini menjadi status done project. Gadis satu itu, akan selalu melakukan pekerjaan sesuai waktu yang ditentukan. Ini bukan project yang pertama. Jadi, saya bisa pastikan. Tidak ada kecurangan apapun." Jelas Pak Ibrahim, tetapi tak membuat hati Xavier merasa puas.


Boleh saja mengelak, mengatakan ini dan itu. Namun, ia tahu, jika ada hal lain yang terjadi. Mungkin saja, Naina tidak mengatakan perdebatan dan penekanan yang perusahaan berikan untuk proyek kali ini. Jika demikian, berarti ada yang menyetir gadis itu. Pertanyaannya siapa?


Seorang gadis dengan kepintaran. Tidak mungkin mudah untuk dikuasai. Apalagi dikendalikan oleh orang lain. Kecuali, seseorang yang memiliki tingkat kepintaran lebih tinggi lagi. Seingatnya, dari seluruh mahasiswa di kampus tersebut. Pak Ibrahim hanya mengajukan Naina, tidak ada mahasiswa lain.


Tentu bukan hanya bualan karena setelah memeriksa track record si gadis jenius. Memang memiliki banyak prestasi dan tidak bisa diragukan lagi. Serba salah dengan kekosongan kebenaran yang tidak tahu darimana mendapatkan jawaban atas keraguan hatinya. Apalagi Pak Ibrahim saja tetep kekeh hanya memiliki satu murid terpandai.


Dunia hanya melihat apa yang ditunjukkan permainan takdir dan para manusia, tetapi melupakan sifat dasar alam. Di atas langit, masih ada langit. Seberapapun pintar, kaya, kuasa, cantik, tampan, dan semua hal yang dianggap sebagai pencapaian serta wujud. Semua itu, akan selalu ada tingkatan di atas yang jauh lebih baik. Namun, tidak pernah terlihat untuk menunjukkan kesombongan.

__ADS_1


"Baiklah, bagaimana dengan teman-teman Naina? Apa gadis itu memiliki sahabat yang satu universitas dengannya atau seperti kebanyakan gadis pintar lainnya yang sombong dan tidak memiliki teman." Lanjut Mr. Xavier dengan rasa penasarannya.


Tidak ada kecurigaan atau waspada. Pak Ibrahim hanyut dalam sikap kekuasaan. Sebagai salah satu investor yang memberikan dana untuk universitas. Mr. Xavier memiliki tempat khusus yang bisa dikatakan memegang tiket emas ke semua pintu. Kurang lebih seperti itu.


"Naina adalah gadis pendiam, tapi kepintarannya tidak untuk diri sendiri. Gadis itu akan selalu siap membantu, bahkan termasuk menjadi asdos salah satu dosen terbaik di Universitas kami." Pak Ibrahim mengalihkan tatapan matanya, menatap tajam ke taman di sisi utara yang merupakan tempat duduk para mahasiswa saat istirahat.


"Naina anak orang berada, tapi tidak membedakan status sosial. Gadis itu humble, tapi sampai detik ini tidak ada kabar memiliki pacar. Hehehe, terlalu pendiam sebagai seorang gadis. Semua akan menjadi baik, jika bersama kedua sahabatnya. Tiga sekawan tidak terpisahkan."


Tiga sekawan? Bukankah yang tadi di lihat memang tiga gadis. Jadi, apakah mungkin salah satu dari gadis itu yang menjadi dilema di dalam hatinya? Untuk memastikan, maka harus mendengarkan baik-baik penjelasan dari Pak Ibrahim. Setidaknya, ia mendapat informasi yang tidak ternilai.


Tidak yang kurang atau cacat, bahkan Naina masih tidak percaya dengan hasil yang didapatkan. Matanya berulang kali mengerjap, ''Shena, you know, aku kira project kali ini akan gagal, tapi berkat tangan ajaibmu. Wow, amazing.''


''Siapa dulu? Shena gitu, loh.'' sahut Siti merasa lebih bangga memiliki sahabat yang sangat pintar, tetapi selama ini berpura-pura menjadi nomor dua.

__ADS_1


Tidak takut akan persaingan. Hanya saja, gadis satu itu tidak menyukai banyak tanggung jawab. Sejak menjadi ketua senat. Justru nilai Shena dibuat sengaja dibawah Naina. Semua itu demi menutupi potensi popularitas yang semakin melonjak. Meski dengan sadar, membuat segelintir mahasiswa berpikir ia memanfaatkan Nai demi nilai. Baginya tidak masalah. Toh tidak akan menyakiti hati, selama kedua sahabat tahu , siapa dia sebenarnya.


Setiap pujian, penghargaan. Apa artinya? Jika pada kenyataannya hanya akan dimanfaatkan. Tidak ingin hal sama terulang lagi karena itu terlalu menyakitkan. Setiap kali menggunakan kepintarannya, Shena selalu ingat dengan Fatih. Pemuda satu itu mendapatkan rekomendasi universitas terbaik berkat bantuannya. Secara tidak langsung, dan kenyataan itu baru terungkap ketika ia naik ke kelas tiga SMA. Miris, tetapi setidaknya kebenaran terungkap.


Terkadang manusia begitu polos hingga tidak menyadari. Jika cinta anak muda menjadi bayangan kabut hitam yang bisa menutupi pemandangan akan kenyataan. Kembali pada ketiga gadis yang saling memberikan support satu sama lain. Shena tengah memeriksa ponselnya, disaat bersamaan masuk sebuah notifikasi pesan dari suaminya. Pesan itu berisi permintaan kecl sang suami yang ingin, dirinya untuk keluar sebentar menghampirinya ke depan pintu gerbang universitas. Entah apa niatnya? Namun, dibalas pesan itu dengan persetujuan.


''Guys, Aku keluar bentar, Mas Dan nunggu di depan. Jika pria beruang kutub datang, kabari aku aja.'' Shena beranjak dari tempat duduknya, lalu berjalan meninggalkan kedua sahabatnya. Gadis itu, tidak mengindahkan godaan Siti yang bersiul dan Naina yang terbatuk-batuk.


Langkah kakinya berjalan pasti dengan seulas senyum, binar mata kebahagiaan. Sejak berbaikan. Seluruh beban hati tersingkirkan. Apalagi proyek Naina akan berakhir hari ini. Esok menjadi hari baru dan ia bisa fokus menyelesaikan tugas kuliah beserta memulai proyek yang menjadi impiannya selama ini.


Benar saja, mobil milik suaminya terlihat dari tempatnya berada, bahkan Danish berdiri di depan mobil dengan bersandar menikmati sekaleng soda. Sinar mentari yang jatuh menimpa, menghasilkan silues yang sama. Sekilas ingatan hari pernikahan kembali terngiang memenuhi pelupuk matanya. Kenangan yang tidak akan bisa terlupakan.


"Selalu mempesona di bawah sinar mentari. Auranya terlalu memukau. Setidaknya, aku menikah dengan pria tertampan yang ada di kota ini." gumam Shena dengan pemikiran absurdnya.

__ADS_1


Dari kejauhan, Dan melambaikan tangan kearahnya. Tentu langsung disambut dengan suka cita. Apalagi senyuman menggoda yang semakin menambah pesona bule seorang Danish Anderson. Langkah kaki, semakin mendekat. Selama beberapa saling menuju titik pertemuan.


"Assalamu'alaikum, SheNa." laungan salam Dan, lalu mengambil sekuntum mawar merah dari balik punggungnya, "For you, my wife."


__ADS_2